Jimin (24 tahun) berharap Han Seojun dan Jeon Jungkook mati saja.
Punya dua boss yang kerjanya bentrok satu sama lain, itu masih mending.
Lah ini... Jimin ikut dibawa-bawa dalam drama gak jelas dan gak penting mereka!
Masalahnya Jimin lelah harus...
"Maaaaaaaaa! Aku pulang!" Jimin berseru dari pintu masuk
Sial. Jungkook langsung tergerak merapikan pakaiannya dan buru-buru merapikan rambutnya.
"Jimin?" Suara perempuan menjawab. Pintu terbuka, wajah mengantuk ibunya menyambut mereka. "Kalian? Kupikir kalian pulangnya besok."
"Malah ditanya gitu." Jimin memutar mata. "Harusnya ibu kangen melihatku."
"Iya, aku kangen kok. Sini peluk dulu, Nak. Oh, Sayangku." Ibunya langsung merentangkan tangan lebar-lebar, Jimin dapat pelukan beruang. "Gimana keadaanmu?"
Pertanyaan ini...
Pertanyaan yang membuat Jimin harus menguatkan diri untuk tidak meleleh sekarang. Jangan sekarang. Jangan di depan cowok itu dan ego tingginya.
"Aku baik-baik saja, terima kasih sudah bertanya, Ma."
Entah feeling ibu atau gimana, Mamanya Jimin menoleh ke Jungkook sambil bilang. "Syukurlah anakku tidak kenapa-napa. Soalnya jaman sekarang banyak laki-laki tidak bertanggung jawab. Aku takut putriku sedih."
"Ma!" Jimin menepuk pelan lengan ibunya. "Ngomong apa sih. Aku ngantuk nih. Mau tidur ah."
Jungkook gusar. "Jimin."
"Apa?" Jimin menoleh ogah-ogahan ke cowok itu. "Aku ngantuk. Ngobrolnya nanti-nati saja. Besok. Good night!"
Jungkook tampak berat hati melepas kepergian cewek itu. Tapi dia nggak bisa dateng-dateng main paksa dengan gaya preman. Ini bukan rumahnya. Yang ada dia malah diseret ke kantor polisi, dilaporin sama ibunya Jimin.
"Aku pulang dulu, Bibi Park. Sampai jumpa besok."
"Hati-hati di jalan. Jaga dirimu baik-baik." Mamanya Jimin menepuk pundak cowok tinggi besar itu. "Maaf ya, Jimin mungkin moodnya lagi gak bagus, kalau masih ada urusan, besok saja lagi temui dia."
Jungkook mengangguk pelan. "Iya, besok saya datang lagi."
"Ya sudah. Terima kasih sudah mengantarnya pulang."
Meski berat, Jungkook langung pamit setelahnya.
.
.
.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kamar Jimin benar-benar gelap gulita, satu-satunya penerangan berasal dari laptop di hadapannya. Sudah lewat tengah malam, jarum jam menunjuk tepat di angka dua. Jimin tahu dia seharusnya tidur, tapi pikirannya nggak mau diajak kerja sama. Pikirannya yang lelah justru gak mau diajak berkelana di dunia mimpi. Tubuh dan pikiran Jimin yang capek menolak disuruh tidur. Matanya yang lelah karena capek menangis justru memilih terjaga.