Scarlett sibuk melahap makanannya sambil melihat ke arah luar penjara. Mencari kesempatan untuk pergi mencari bantuan. Karena Scarlett baru saja dimasukkan ke dalam sebuah kapal besar dan para awaknya mengurung Scarlett di lantai paling bawah kapal itu.
"Scarl, apa yang sedang kamu cari?" tanya Hanna dari kurungan sebelah Scarlett sebelum menyantap makan siangnya.
"Pasti di sini ada radio. Aku harus mencarinya agar bisa menghubungi seseorang," ucap Scarlett sebelum melahap makanannya dan kembali melihat sekelilingnya. Sementara Hanna juga ikut melihat keluar untuk mencari kesempatan.
Lalu, seorang penjaga membuka pintu kurungan lalu mengambil makanan semua orang di dalam kurungan. Tepat di saat orang itu berada di dekat kurungan Scarlett, Scarlett pun melihat kesempatan untuk mengambil kunci yang berada di belakang si penjaga.
Penjaga itu pun membuka pintu kurungan Scarlett dan mengambil makanan Scarlett. Namun sebelum penjaga itu membuka pintu kurungan Scarlett, tiba - tiba saja tubuhnya terjatuh. Scarlett mengernyitkan dahi melihat hal itu lalu menatap Hanna.
"Itu bius yang kutembakkan padanya. Dosis kecil dan hanya bertahan selama beberapa menit. Sebaiknya kamu bergegas Scarlett," ucap Hanna tepat sebelum Scarlett segera berlari keluar kurungan.
Scarlett segera berlari ke tangga yang membawanya ke arah lantai tengah. Di lantai tengah, terdapat sekitar 12 kamar yang pastinya berisi para penumpang yang ingin berlibur. Scarlett pun berlari cepat ke arah ujung ruangan berharap ruangan yang dia temukan adalah ruangan yang dia cari.
Namun di tengah larinya, dia merasakan pusing yang sangat menusuk. Membuat Scarlett harus memegang dinding untuk tetap berjalan. Pusing itu pula ditambah dengan mual yang membuat dia tidak bisa berjalan lagi. Akhirnya Scarlett jatuh sambil memegangi perutnya.
"Nak... Biarkan mama mencari bantuan. Kamu mau ketemu papa kan?" tanya Scarlett sambil mengusap perutnya yang masih rata. Tepat di saat itu, Scarlett tidak kuasa menahan sakit kepalanya dan penglihatannya mulai buram. Hingga akhirnya semuanya menjadi gelap.
"Scarlett?" panggil seseorang dan sukses membuat Scarlett terbangun dari tidurnya. Scarlett mendapati dirinya berbaring di atas kasur empuk masih dengan kepala yang berdenyut nyeri.
"Lo inget gue nggak? Temen Indonesia lo yang pernah lo tolongin soal masalah hidup," ucap seseorang dari sampingnya. Scarlett menoleh karena dia kenal betul suara itu. Dia membelalakkan mata mengetahui siapa lelaki itu.
"Anak Agung Narendra Rajasta?" tanya Scarlett dan membuat yang disebut namanya membelalakkan mata lalu menepuk tangannya.
"Panggil aja Naren astaga. Gile juga lo masih ingat nama panjang gue. Baguslah biar lo tau gue turunan bangsawan," ucap Naren sebelum terkekeh. Membuat Scarlett mengangkat bahu.
"Kenapa lo bisa - bisanya pingsan depan kamar gua dengan baju serba putih seperti kuntilanak? Mau nakutin gue tapi nggak jadi?" tanya Naren dan sukses membuat Scarlett terdiam sesaat.
"Gue ditangkap, Naren. Gue entah bakal dijual atau dibunuh. Sekarang gue nggak bisa diam aja. Gue harus cari bantuan sebelum anak gue kurang gizi gegara makanan kurang baik di bawah sana," ucap Scarlett dan membuat Naren mengernyitkan dahi tidak mengerti.
"Maksud lo dijual? Human trafficking gitu? Kok bisa lo gitu? Terus apa tadi? Anak lo? Anak lo mana?" ucap Naren dengan kepala dibanjiri banyak pertanyaan.
"Gue lagi hamil dan di lantai paling bawah kapal itu tempatnya orang - orang bakal dijual," ucap Scarlett, tepat di saat itu Scarlett langsung keluar dari kamar. Namun di depannya, berdiri seorang pria dengan raut wajah bingung melihat Scarlett.
"Scarlett Walter?" tanya pria di depannya sambil mengernyitkan dahi.
"Anak Agung Bagaskara Adibrata," ucap Scarlett dengan mata membelalak mengetahui pria di depannya adalah kakak dari Naren yang biasa dipanggil Aska.
Namun Scarlett tetap berlari melewati pria itu. Ke arah lantai bawah dengan cepat sebelum kedua pria itu sempat mengejarnya. Lalu kembali ke kurungan dengan wajah berkeringat. Dia bersyukur penjaga itu masih tertidur dan bangun tepat ketika Scarlett sudah kembali ke kurungan.
Sementara jauh di daratan Kanada, Benicio sibuk membaca dokumen yang telah tertata di mejanya. Beberapa sudah dia selidiki dan masih saja belum ada petunjuk apakah ini bukti yang benar atau jebakan.
"Ayolah Benicio, kenapa kau tidak melaporkan ini langsung?" tanya Luca sebelum menguap lebar.
"Tidak akan sebelum aku menemukan ini benar atau salah," ucap Benicio sebelum memainkan ponselnya sembari mengirim pesan pada semua teman polisinya.
Hingga akhirnya, sebua berita menarik perhatian Benicio. Sebuah berita yang tidak dia sangka - sangka akan terjadi.
"Mr. Jacob menyabotase perusahaan kita," ucap Luca dari belakang Benicio. Benicio pun langsung berbalik dan menatap Luca dengan tajam.
"Aku akan menyelidiki ini semua dahulu. Frank sebentar lagi akan meneleponku. Pergi dan cek ke sana Luca," perintah Benicio dan dibalas oleh anggukan Luca. Tepat setelah Luca melaju ke arah perusahaan, ponsel Benicio berbunyi dan terdapat nama Luca di layarnya.
"Aku sudah menyelidiki beberapa hal. Tuduhan penjualan manusia kepada Jacob Company pernah kami tangani dua tahun lalu. Sayangnya, itu semua hanya tuduhan palsu. Namun masih banyak yang percaya bahwa Jacob Company memang menjual manusia," ucap Frank sebelum akhirnya berpamitan dan menutup ponselnya.
Benicio mengecek tanggal di dokumen itu dan mendapati bahwa dokumen itu sudah berumur sekitar lima tahun. Bisa dipastikan bahwa itu hanya bukti palsu. Maka dari itu, Benicio harus mencari lagi bukti konkret agar perusahaan musuh bisa jatuh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Save The Baby (Complete)
Gizem / GerilimBenicio Walter menghadapi bahaya besar dimana perusahaan tempat dia bekerja diancam oleh perusahaan musuh. Dimana musuh itu juga mengincar istrinya, Scarlett yang sedang mengandung buah hati mereka. Kisah kejar mengejar ini apakah berakhir bahagia?
