(BUKAN CERITA BL)
Obat dari segala penyakit adalah hati yang gembira :)
Note: Cuma mau mengingatkan kalau cerita ini hanya fiktif dan untuk hiburan semata. Aku tidak bermaksud menyinggung siapapun dan pihak manapun 🤍
Jangan lupa untuk Vote dan Kom...
Seperti biasa jangan lupa vote dan comment, thank you 🤍
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Phoenix menampar pipi kanan nya. Sakit. Lalu gantian ia menampar pipi sebelah kirinya, namun kali ini tangannya berhasil ditahan oleh Bright.
"Eh eh kamu ngapain sih?"
Phoenix melirik pergelangan tangannya yang dicengkeram erat oleh pria itu. Jantungnya berdegup sangat kencang, rasanya benar-benar seperti ingin meledak.
Bright yang ikutan gugup lalu melepas cengkeraman tangannya, "Sorry.." katanya pelan.
"Kamu pingsan di toko buku, makanya aku bawa kesini." sambung Bright dengan tatapan khasnya.
Gadis itu masih terdiam, entah mengapa bibirnya seperti lengket satu sama lain alias tidak bisa dibuka. Dadanya naik turun tidak karuan.
"Ka-kamu mending duduk dulu duduk!" katanya sambil menunjuk sebuah kursi. Bright pun menuruti dan menarik sebuah kursi mendekat kearah ranjang.
Setelah Bright duduk, Phoenix yang masih sulit mencerna keadaan berusaha mengatur napas, "Huuuuh haaaah huuh haaah..oke! sekarang kamu jelasin dari A sampai Z."
Bright ikut menghela napas pelan lalu menyandarkan punggungnya ke kursi, "Baik, tapi aku mau tanya sesuatu dulu sama kamu."
Phoenix makin frustrasi dibuatnya, kenapa tidak langsung to the point saja sih? batinnya. Namun akhirnya Phoenix pun mengangguk, "He'em, tanya apa?"
Bright menyipitkan matanya dan mengarahkan telunjuknya kearah gadis itu, "Kamu...beneran ga tau aku ini siapa?" Tanya Bright, wajahnya biasa saja namun dimata Phoenix pandangan itu begitu mengintimidasi.
"Ya Allah ganteng bangetttt" gumam Phoenix pada dirinya sendiri.
"Sorry?"
"Engg...eh ngga itu...kamu..."
Bright tiba-tiba menyodorkan tangan kanan nya kearah gadis canggung itu, "Aku Bright."
Phoenix menatap uluran tangan dihadapannya itu dengan pandangan kaget, pelan-pelan ia mengangkat tangan kanan nya yang sedang diinfus untuk membalas, "P-Ph-Phoenix" sahutnya.
"Kamu tadi pingsan. Inget kan?"
Tentu saja Phoenix ingat, sangat ingat. Makanya ia merasa malu dengan pria dihadapannya ini. Kenapa dirinya begitu bodoh bisa pingsan ditempat umum seperti itu?
"I-ingat kok ingat. hehe makasih ya, Bright." lidahnya merasakan keanehan begitu mengucap nama "Bright." Ia butuh kamarnya untuk berpikir.