22. GENARO

37 1 0
                                    

Mobil sport berwarna hitam itu perlahan memasuki halaman rumah kost milik Bude Rina dan Pakde Galih. Banyak penghuni lain terlihat berkasak-kusuk saat melihat siapa yang keluar dari mobil tersebut.

"Bright, terima kasih ya udah antar aku pulang." seru Phoenix yang kini berdiri di samping mobil. Dihadapannya berdisi sosok yang membuat para penghuni kost-kostan kini menjulurkan leher ingin tahu.

"Aku yang harusnya terima kasih, kamu udah mau temenin aku seharian ini." jawab Bright sambil tersenyum.

"Ya udah, kalau gitu aku pamit masuk dulu ya. Kabarin by phone aja kalau kamu butuh guide lagi hehe..."

"Sure! I'll text you. Kamu istirahat ya, sekali lagi terima kasih. Selamat Malam, Phoenix."

Setelah mobil itu menghilang dibalik pagar, Phoenix baru menyadari bahwa seluruh pandangan para penghuni kost kini tertuju padanya. Ia memandang sekeliling nya sambil memberengut aneh, "Ih pada kenapa sih?" gumamnya.

Ia lalu meneruskan langkahnya menuju ke kamarnya di lantai dua bangunan itu. Ia ingin segera mandi dan rebahan di kasur karena seluruh badan nya kini terasa sangat lelah serta sendi-sendinya terasa sangat ngilu.

Namun langkahnya terhenti tepat di depan pintu kamarnya, rupanya Genaro sedari tadi berdiri memerhatikannya dari atas balkon di depan kamar.

"Genaro? ngapain lo maghrib-maghrib disini?" tegur Phoenix.

Genaro tidak menjawab, lelaki itu terlihat masih memakai setelan kerjanya lengkap dengan gesper yang masih terpasang di celana. Ia lalu membalikkan tubuhnya menghadap Phoenix yang tampak kebingungan. Sambil tersenyum aneh, Genaro terus memandangi Phoenix dari atas sampai ke bawah.

"Jadi bener ada yang jadi asisten pribadi artis selama sick leave??"

Dari nada bicaranya, Genaro terlihat berkali-kali lebih menyebalkan dari biasanya.

"Maksud lo apa?" Tanya Phoenix, raut wajahnya kini menegang.

Genaro melangkah mendekat kearah Phoenix, pandangan matanya aneh. Tidak seperti Genaro yang selama ini Phoenix kenal.

"Jangan mentang-mentang lo udah jadi asisten artis terus lo jadi sombong."

Phoenix pun membalas tatapan Genaro dengan pandangan yang tak kalah sinis saat ia mendengar perkataannya barusan, "Gue bukan asisten nya, jelas-jelas Bright sendiri yang ngomong kalau gue itu temen nya!"

Genaro lalu berdecih, "Terus? lo bangga gitu dipanggil temen sama dia? jelas-jelas dia itu cuma mau manfaatin lo doang." seru Genaro seraya menoyor kening Phoenix dengan satu telunjuknya. "Katanya sih artis di negaranya, tapi nyewa tour guide aja ga mampu! Lo itu disuruh cuti buat istirahat, bukan buat seneng-seneng kayak gitu!"

Phoenix menggigit bagian dalam pipinya, dadanya kembang kempis mendengar ucapan Genaro barusan. Mereka memang sering terlibat adu mulut layaknya Tom and Jerry. Tapi dari sekian banyak perdebatan antara mereka, baru kali ini ucapan Genaro membuat hatinya terasa sangat sakit.

"Maksud lo? Gue gak boleh ngerasa seneng gitu??" Kesabaran Phoenix kini mulai habis, nada suaranya pun meninggi, "Mau lo gue terus-terusan kepayahan sendirian sambil mikirin penyakit gue yang belum ada obatnya ini? Iya? Tiap hari gue insom, lebam-lebam, sendi bengkak sampai ga bisa jalan, itu yang lo mau, Gen??"

Kedua tangannya terkepal disamping tubuhnya. Mata gadis itu mulai memerah dan berair, dadanya naik turun karena baru saja berhasil meluapkan amarahnya pada Genaro.

Melihat reaksi Phoenix, Genaro hanya tertawa sambil terus meledek. Tanpa ia sadari bahwa ucapannya sudah menyakiti hati sahabatnya, "Kok lo baper sih? gue ga ada ngomong kalau lo ga boleh seneng lho padahal.." Genaro terkekeh, pemuda itu masih saja terlihat santai.

Phoenix yang sudah setengah mati menahan rasa kesal nya pada Genaro, tiba-tiba mendorong tubuh lelaki itu sampai terjatuh ke lantai.

BUAKKK!

"Anjrit! Apaan sih lo? sakit!"

Wajah Phoenix kini memancarkan emosi yang lebih seram dari sebelumnya, seakan gadis itu siap untuk meledak. Terlihat beberapa penghuni kamar kost berdatangan tanpa berani melerai keduanya.

"PERGI LO DARI KAMAR GUE! PERGIIII!!!" Raung Phoenix.

Mendengar ada keributan dibangunan kost nya, Bude Rina dan Pakde Galih datang dari arah belakang Phoenix dengan tergesa-gesa.

"Heh kalian ini ada apa sih maghrib-maghrib gini ribut?" seru Pakde Galih. Lalu seketika pandangan nya tertuju ke lantai tempat Genaro tersungkur, "Heh! Kamu ngapain disitu? Bangun!" gertak Pakde Galih pada anaknya.

Namun sepertinya anak itu tidak merasa menyesal atas perkataannya tadi, Genaro segera bangkit lalu pergi meninggalkan orang-orang itu dengan kekehan dan senyum meledek.

"Nduk? Kamu gak papa kan?" tanya Bude Rina, raut wajahnya terlihat sekali menunjukkan kekhawatiran.

"Aku gak papa Bude, Pakde. Aku izin masuk ke kamar dulu ya, permisi."

Gadis itu pun meringsak masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu dengan cukup keras. Tas ranselnya ia lempar asal dan hampir mengenai Bela yang tidur pulas disudut kamar. Tangis yang sudah ia tahan sejak tadi langsung ia tumpahkan dibalik bantal. Tangis yang hanya bisa didengar oleh ranjangnya. Kepalanya kini ikut berdenyut nyeri, badannya mulai mengeluarkan gejala-gejala kelelahan. Sambil terus menangis, Phoenix menjambak rambutnya karena sakit kepala yang tak tertahankan.

Kata-kata Genaro tadi terus terngiang dipikirannya membuat segalanya menjadi semakin buruk. Kini beberapa lebam sudah muncul di bagian tubuhnya. Suhu dibadannya juga perlahan naik dan perutnya pun terasa mual.

"Ini yang lo mau kan, Gen? Lo mau gue sekarat sendirian kayak gini, kan?"


Finally, update juga my very first book!
After the ups and downs that I've been thru in RL, I'll try my best 👍🏻 😆

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Nov 16, 2021 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

MY PRETTY MELODYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang