10. PULANG

49 4 0
                                    

Bright menghabiskan sebagian besar akhir pekannya untuk mengemasi barang-barang yang akan ia bawa menuju Jakarta. Yang paling mengganggunya adalah keinginan untuk mengajak serta sang Ibu yang masih belum bersedia ikut. Ia sama sekali tidak bermaksud membuat hati ibunya bersedih, dia hanya ingin mengajak ibunya jalan-jalan diwaktu senggang yang sangat sulit ia dapat belakangan ini. Namun, tekadnya untuk menemui sang ayah sudah bulat dan ibunya pun paham akan hal itu.

"Kamu gak usah terlalu memikirkan mama, Nak. Nanti pasti kamu ada waktu libur lagi, tapi untuk sekarang pergilah kamu dulu, temui ayah mu. Dia pasti bangga melihat anak satu-satunya sekarang sudah sukses." kata ibunya dengan lembut. Beliau sedang menemani sang anak mengemasi barang bawaan sambil duduk dilantai kamar. Melipat beberapa pakaian dan menjejalkannya ke dalam koper.

"Yaudah kalau itu udah keputusan mama, aku paham. Nanti diliburan selanjutnya, aku janji bawa mama jalan-jalan kemana pun mama mau" kata Bright sambil memasukkan kamera analognya kedalam tas kecil. Salah satu barang wajib bila bepergian selain ponsel adalah kamera analog kesayangannya yang belakangan setia menemani kemanapun Bright pergi.

Sang ibu pun mengusap puncak kepala anak laki-lakinya itu dengan lembut. Senyum bangga selalu menghiasi wajahnya. "Iya, yang penting kamu sehat dan selalu jadi manusia yang baik sama orang mama udah seneng."

Malam telah larut, seperti layaknya anak kecil yang hendak bepergian Bright belum bisa memejamkan matanya malam itu. Dipandangnya langit-langit kamar yang sudah redup dengan tatapan kosong. Tidak yakin dengan apa yang sebenarnya ia pikirkan, Bright menyambar ponsel yang sedari tadi tergeletak disampingnya. Pemuda tampan itu lalu mencari kotak pesan dari ayahnya yang berisi alamat beliau di Jakarta. Ini adalah perjalanan traveling nya seorang diri untuk pertama kali. Sebelumnya Bright tidak pernah bepergian seorang diri, selalu ada teman atau pergi bersama sang Ibu. Setelah memastikan lagi alamat itu, Bright tersenyum dengan mantap kemudian mulai memejamkan matanya untuk tidur.

-----

Hari ini adalah hari yang sangat istimewa, setelah kurang lebih lima belas hari di opname akhirnya Phoenix dibolehkan untuk pulang oleh Prof. Harry. Namun pulang disini bukan berarti sakitnya sembuh, Lupus adalah penyakit yang sampai saat ini belum dapat disembuhkan melainkan hanya bisa dikontrol.
"Ingat ya, kamu harus happy. Sebanyak apapun kamu minum obat, kalau hati engga happy ya ga akan berpengaruh. Dalam penyakit Lupus, obat itu hanya komponen rem, yang memutuskan untuk diinjak atau digas ya diri kita sendiri. Diinjak berarti terkontrol, digas terus ya nabrak. Kambuh lagi, Opname lagi, ketemu saya lagi hehe paham ya?" Prof Harry memberi nasihat sedikit pada pasien muda nya itu. Sifatnya yang peduli pada pasien membuat Phoenix nyaman berada dibawah penanganan Profesor.

"Iya Prof, maaf ya kalau saya suka bandel dan suka lepas kontrol." jawab Phoenix yang masih duduk diujung ranjang rumah sakit, dia sudah memakai pakaian kasualnya dan bersiap kembali kerumah. Genaro berdiri disampingnya bersama kedua orang tuanya, menyimak setiap kalimat wejangan yang diberikan sang dokter.

"tuh dengerin!" Genaro menimpali, "Dia emang kalau udah urusan kantor ga bisa direm Prof, suka lupa waktu."

"Eh lo juga ya!" sahut Phoenix cepat. Prof Harry hanya menggeleng sambil tersenyum melihat tingkah anak-anak ini. "Ya sudah kalau begitu, hati-hati dijalan ya. Jangan lupa untuk kontrol rutinnya. Oke? saya permisi dulu."

Setelah sang dokter meninggalkan ruang rawat, Genaro, Phoenix dan kedua orang tua Genaro menyusul dibelakang meninggalkan ruangan tersebut. Mereka menaiki mobil milik ayah Genaro untuk kembali ke rumah dan beliau menyetir didepan. Genaro duduk dibangku belakang menemani Phoenix yang masih terlihat sedikit lemas.

"Nix, tadi Ibumu titip pesan ke bude kalau nanti sudah sampai kostan kamu tolong telepon Ibumu ya, nduk. Khawatir banget dia." seru Ibu Genaro dari kursi depan penumpang.

"Oh iya bude, nanti langsung aku telepon Ibu." jawab Phoenix.

"Nduk, kamu jadi cuti toh abis ini?" tanya Pak Galih, ayah Genaro. Phoenix tidak langsung menjawab, jujur ia sudah sedikit melupakan kesedihan lantaran harus menjalani cuti panjang dari kantornya. Namun kali ini ia harus kembali menghadapi kenyataan itu. "Sepertinya jadi pakde." jawabnya lirih.

"Nduk, ga usah terlalu dipikirkan. Sing penting kesehatan kamu nomor satu. Inget kan tadi pesan Prof?" kata pak Galih disertai anggukan pelan dari gadis itu. Beliau sudah menganggap Phoenix seperti anak kandungnya sendiri begitupun dengan istrinya, bu Rina. Terlebih lagi beliau tidak mempunyai anak gadis karena Genaro dan kedua kakaknya semua laki-laki.

"Phoenix ini emang harus sering-sering diingetin pak, kalau engga nanti dia bandel nekat masuk ke kantor," Genaro menimpali. "Maaf ya, aku udah ngerepotin kalian semua. Makasih banget Bude, Pakde udah mau jaga aku." seru Phoenix pelan.

Genaro melirik sinis kearahnya, "Bapak ibu doang yang diucapin makasih? gue engga??" Senyum tersungging dari wajah imut Phoenix mendengar reaksi Genaro barusan, "Iya Gen, makasih juga buat lo. Puas?"

Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di kediaman pak Galih. Phoenix izin untuk lamgsung menuju kamarnya yang sudah kurang lebih dua minggu tidak ditempati. Meskipun masih sedikit lemas, tapi ia berniat untuk langsung bersih-bersih kamarnya saat itu juga.

Phoenix ditemani Genaro menuju kamarnya sambil menenteng tas berisi pakaian sahabatnya itu. Tanpa ragu, Phoenix langsung membuka kunci pintu kamarnya, namun tanpa ia sadari ada sesuatu yang telah menunggunya didalam.

Halo!
Maaf untuk sangat teramat slow update, mohon vote dan komen nya ya :)
terimakaciww

MY PRETTY MELODYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang