(BUKAN CERITA BL)
Obat dari segala penyakit adalah hati yang gembira :)
Note: Cuma mau mengingatkan kalau cerita ini hanya fiktif dan untuk hiburan semata. Aku tidak bermaksud menyinggung siapapun dan pihak manapun 🤍
Jangan lupa untuk Vote dan Kom...
Hi Readers!! Udah pada bosen belum ya sama ceritanya? hehe seperti biasa, jangan lupa vote dan comment nya, thank you 🤍
Setelah yakin dengan bangunan bertuliskan The Ivy Bookshop dihadapannya sekarang, Bright semakin mantap ingin mendatangi tempat tersebut.
"Pak, tunggu sini sebentar ya? saya mau ke toko buku yang itu." tunjuk Bright dari dalam mobil.
Sang sopir pun mengangguk antusias atas perintah dari tuan mudanya itu, "Siap Mas. Nanti tinggal call saya saja kalau mas Bright sudah selesai."
"Sip. Ya udah saya turun dulu ya pak."
Bright lalu memakai kacamata hitam serta maskernya sebelum keluar dari mobil lalu menyeberangi jalan yang tidak terlalu ramai.
Sebelum masuk, ia sekali lagi memandang papan nama toko tersebut dan kemudian melangkahkan kakinya kedalam.
Lonceng diatas pintu berbunyi pelan tanda adanya seseorang yang baru masuk. Meskipun ada beberapa orang didalam, toko buku yang juga merangkap kafe itu tampak hening. Orang-orang sibuk dengan kegiatannya masing-masing tanpa mengeluarkan suara.
Bright mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan bernuansa hangat tersebut, mencari seseorang yang sebetulnya ia juga tidak tahu apa kepentingannya. Naluri pemuda itu mengalir begitu saja.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Setelah beberapa saat berkeliling menyusuri lorong demi lorong rak buku, akhirnya Bright menemukan sosok yang ia cari. Beruntung gadis itu sedang sibuk dengan laptopnya, jadi tidak menyadari kehadiran dirinya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Haduh Bri...Bri...lo kaya orang ga ada kerjaan aja" Bright bermonolog dibalik salah satu rak buku tempatnya bersembunyi sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Pandangannya kembali berkeliling ruangan itu, dan tak lama ia menemukan ada satu sofa kosong tepat dibelakang Phoenix. Bright langsung pergi ke meja barista untuk memesan secangkir kopi lalu duduk di sofa tersebut.