Kedatangan seseorang seperti udara yang tidak diketahui namun sangat berarti.
🖤🖤🖤
Di balkon kamarnya, Roy tampak merenung menatap hamparan langit di atas sana. Bulan bersinar terang dan bintang-bintang tampak mulai gemerlapan. Roy tersenyum. Bukan, bukan pada pemandangan indah di atas sana, melainkan pada sebuah bayangan yang kembali hadir memenuhi alam bawah sadarnya.
Pikiran Roy mulai kembali berputar, mengingat kembali percakapannya dengan Hilda sewaktu di rooftop sekolah siang tadi.
"Ini pertama kalinya bagi gue. Pertama kalinya gue ngerasa berharga, lo adalah alasannya."
Roy tidak tahu apakah perkataan itu murni yang dirasakan oleh Hilda, atau hanya berupa gombalan. Yang ia tidak mengerti lagi sebuah desiran dalam hatinya. Mengingat kembali semua ucapan manis Hilda, Roy merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Ia benar-benar tidak mengerti apa yang tengah ia rasakan kini. Perasaan itu membawanya pada sebuah rasa lain yaitu rasa senang.
"Gue seneng Lo ada disini, dalam hidup gue. Gue seneng Lo hapus air mata gue. Gue berharap selamanya lo tetap seperti ini."
Selamanya. Apakah itu berarti Hilda memintanya memberikan sebuah ketulusan? Karena Roy tahu hanya sebuah ketulusan yang bisa memenuhi harapan itu. Kata 'selamanya' merujuk pada kesetiaan. Tidak mungkin orang yang datang dengan maksud tertentu dapat memberikan kesetiaan, kecuali ada hal lain yang membuat dirinya pada akhirnya bertahan, yaitu cinta. Malangnya, Hilda juga tidak akan mendapatkan itu darinya. Cewek itu terlalu jauh dari tipikal cewek yang Roy idamkan. Jadi kecil kemungkinan untuk Roy bisa mencintainya.
Roy ingat betul bagaimana cewek itu memeluknya, bercerita, dan menatap matanya. Kalau ia tidak salah, sebuah ketulusan ia lihat dari kedua mata cewek itu. Tidak satupun sandiwara yang bisa Roy kenali dari sana. Sepertinya balas dendamnya ini akan melahirkan sebuah pilihan antara ego dan rasa kasihan. Ia harus bisa menentukannya.
"Lo adalah satu hal yang bikin gue bahagia."
Mata Roy terpejam seiring suara dan kata-kata manis Hilda kembali bergema dalam benaknya. Semilir angin menyeruak dalam dadanya, menciptakan kesejukan serta kedamaian yang Roy tidak tahu harus menyebutnya apa. Ini pertama kali ia merasakan hal-hal seperti ini, sehingga butuh waktu untuk ia memahaminya.
Di tengah asyiknya Roy merasakan kehangatan dalam dadanya, tiba-tiba sebuah sepasang telapak tangan tampak menutup kedua mata Roy yang masih terpejam. Spontan Roy menggumamkan satu nama yang sejak tadi bercokol dalam otaknya.
"Hilda.."
"Happy birthday.." bisik cewek itu di telinga Roy.
Roy tersenyum, lalu meraih kedua telapak tangan yang masih menutupi kedua kelopak matanya.
"Kok elo tau sih gue lagi-" Roy kontan membisu ketika ia membalikkan badan dan melihat sosok dihadapannya. Dasar bodoh, ia berpikir Hilda akan memberikan kejutan tanpa berpikir bagaimana mungkin Hilda mengetahui alamat rumahnya. Sekali saja bahkan ia belum pernah membawa cewek itu datang ke rumah ini.
Cewek berparas manis didepan Roy tersenyum.
"Wish you all the best. Gue harap di tahun ini lo gak jadi anak yang egois lagi ya.." katanya sembari menarik hidung Roy.

KAMU SEDANG MEMBACA
HI - in Love
Teen FictionCinta yang terhalang gengsi.. Cinta yang terhalang emosi.. Cinta yang terhalang ego.. Cinta yang bersambut, tapi tak berani terucap..