1. Galau

3 0 0
                                    

Cinta dan benci itu tak jauh berbeda, keduanya bisa datang pada siapa saja dan secara tiba-tiba.

🖤🖤🖤

Rasa penasaran menggerakkan Hilda untuk menguntit seorang cowok tampan yang tanpa sengaja berpapasan dengannya kemarin. Sebenarnya ia malas juga bertindak seperti ini. Ini semua ia lakukan demi menyelamatkan nama baiknya. Ia tidak mau terus-menerus mendapat cibiran karena statusnya yang tidak punya pacar.

Pada jam istirahat, ia sengaja berdiri tak jauh dari warung tempat cowok itu nongkrong kemarin. Beberapa menit berlalu, namun cowok itu belum juga datang. Hilda mulai merasa bosan menunggu. Ia juga merasa sudah tidak waras sekarang.

Hello, seorang Hilda mau-maunya nunggu seorang cowok, buat apa?!

"Arrghh, mending gue balik ke kelas aja. Bete juga sendirian kek gini." gumamnya, saat ia mulai sadar bahwa dirinya sudah terlalu lama menunggu.

Beberapa cowok di sana kontan menoleh padanya, ketika mendengar Hilda bicara sendiri. Hilda menunjukkan tampang judes sebagai tameng untuk melindungi diri dari godaan para cowok itu.

"Cewek, sini.. gabung dong bareng kita. Ya, gak?" seseorang di antara mereka menggoda Hilda, sedangkan teman-temannya tertawa.

"Kelas berapa lo? Berani kurang ajar banget sama gue?" tanpa takut, Hilda memulai peperangan dengan mereka.

"Wah, wah galak juga ni cewek." cowok itu berujar. "Kita kelas sepuluh IPS satu. Emang kenapa? Mau main ke kelas kita?" cowok itu kemudian maju untuk mendekati Hilda. Kontan saja teman-temannya berseru heboh.

"Jadiin Gi. Mantep tuh." seru salah seorang teman cowok tersebut.

"Tenang bro, slow aja. Gue pasti dapetin ni cewek." cowok itu berbicara pada temannya, akan tetapi tatapannya menggoda Hilda.

Hilda berdecih, menunjukkan kegeliannya melihat sikap cowok itu. Cowok seperti ini sama sekali bukan tipenya. Tidak kenal saja sudah berani kurang ajar. Hilda tak habis pikir bagaimana kalau sampai mereka saling kenal. Mungkin saja cowok itu akan semakin berani padanya. Idiih...

"Eh bocah, jangan kurang ajar lo sama gue, gue kakak kelas lo asal lo tau." Hilda menunjuk wajah cowok itu dengan jari telunjuknya. Mencoba memberinya peringatan agar tidak macam-macam.

"Oh kakak kelas." cowok itu mengangguk-angguk. "Kenapa emang kalo kakak kelas?" tanyanya lagi.

"Gak sopan." Hilda mendengkus kasar. Sebal ia meladeni bocah kurang aja semacam ini!

"Ini bukan apa-apa kali, Kak." cowok itu tersenyum, membuat Hilda ingin muntah saat itu juga. "Kalo gak sopan tuh kayak gini." tiba-tiba dia mencolek dagu Hilda.

Refleks Hilda melayangkan tamparannya pada pipi cowok itu.

"Lo pikir sakit? Tamparan lo gak seberapa bep." cowok itu justru mentertawakan Hilda, begitu juga dengan teman-temannya.

"Ini bukan apa-apa, bocah kecil." Hilda berujar tenang, lalu ia melepas sepatunya dan melemparkannya sekuat tenaga hingga mengenai kepala cowok itu. Ia lalu tertawa lebar, saat sepatunya meninggalkan bekas di rambut dan juga kening cowok tersebut.

"Tau rasa lo." ia tertawa puas.

"Jadi cewek kurang ajar banget lo." cowok itu terlihat marah dan nyaris saja ia akan melakukan hal serupa pada Hilda. Sepatu Hilda ditangannya sudah hampir ia lemparkan, namun sebuah suara menghentikan aksinya.

HI - in LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang