Keluarga adalah surga atau neraka.
🖤🖤🖤
Hilda harus terburu-buru mempersiapkan alat tulis menulisnya saat menyadari ia hanya memiliki waktu tiga puluh menit. Sepuluh menit waktunya ia gunakan untuk mandi, dan lima menit untuk mengenakan seragam sekolah. Tersisa lima belas menit menuju perjalanan ke sekolah atau ia akan mendapat hukuman karena terlambat.
Kelalaian ini disebabkan dirinya yang harus membagi waktu antara mengulas kembali pelajaran disekolah, dengan memprioritaskan Roy. Ia sangat menyesali kelalaiannya. Namun, tak ada yang dapat ia lakukan, selain pandai-pandai menggunakan waktu sempitnya. Roy dan pelajaran sekolah sama-sama penting bagi hidupnya, sehingga ia tak bisa mengorbankan salah satu diantara keduanya.
Ia baru bisa bernapas lega dan akan mengambil bekalnya saat disadari sesosok tubuh jangkung nan berotot kekar tengah duduk di ruang makan. Rupanya orang itu sudah kembali. Orang yang sejak keberadaannya di rumah ini membuat hidup Hilda terasa tidak tenang.
"Hi, ni bekal kamu, sudah Bunda siapkan." kata Bunda saat menyadari kehadiran Hilda yang sejak tadi hanya mematung tepat lima langkah dari kursi yang Jamaludin duduki.
"Dia lagi, dia lagi." keluh pria itu ketika menoleh dan mendapati Hilda yang menatap ruang makan dengan kebimbangan. "Sudahlah, Sri jangan kau terlalu manjakan dia. Anak ini sudah dewasa tapi otak udangnya tak pernah hilang. Seharusnya dia sudah bisa mengurus dirinya sendiri, bukan kau yang harus selalu sibuk memanjakan dia."
"Biarkan Bang, apa salahnya memberi perhatian pada anak saya sendiri. Ini sudah kewajiban saya sebagai bundanya mengurus dan memperhatikan dia." sahut Bunda.
"Tapi, kalo kau terus-terusan seperti ini kapan dia akan pintarnya? Anak ini akan jadi seperti orang idiot, kau tahu itu?" sahut Jamaludin tak setuju dengan ucapan Bunda.
"Cukup!" timpal Hilda dengan suara tegas.
"Bunda makasih buat bekalnya, tapi Hilda akan makan di kantin saja." ujar Hilda dengan lembut pada Bunda. Lalu, tatapan berbeda ia layangkan untuk pria yang sangat dibencinya tapi begitu dicintai bundanya.
"Dan kau Jamal, berhenti selalu berkata-kata yang buruk tentang saya, seharusnya kau bersyukur masih diberi tempat di rumah ini. Rumah peninggalan Almarhum ayah saya!" tegasnya dengan sengaja, untuk menyeimbangkan kata-kata menyakitkan yang selalu pria itu berikan padanya.
Prak!!
Pria itu menggebrak meja. Mukanya merah padam. Tampak sangat marah mendengar penghinaan Hilda untuknya.
"Sudah berani rupanya kau sama saya?" ujarnya dengan tatapan membunuh. Dalam keadaan normal, mungkin Hilda akan merasa terintimidasi, tapi tidak ketika seluruh jiwanya tengah dipenuhi amarah.
"Saya tidak akan takut, kalo saya tau ketakutan saya hanya akan menambah kelancangan Anda!" tegasnya.
"Lagipula, seekor ular tidak takut melawan gajah pecundang seperti Anda." kata Hilda lagi lantas pergi meninggalkan Jamaludin yang semakin berapi-api. Pria itu bangun dari tempat duduknya, lalu berlari mengejar Hilda.
Hilda baru saja berhasil membuka pintu ketika tubuh kekar berotot itu mendorong tubuh kecilnya hingga tersungkur.
"Jaga ucapan kau! Percuma kau sekolah tinggi-tinggi kalau melawan pada orang tua!" ujar pria itu memperingatkan.

KAMU SEDANG MEMBACA
HI - in Love
Teen FictionCinta yang terhalang gengsi.. Cinta yang terhalang emosi.. Cinta yang terhalang ego.. Cinta yang bersambut, tapi tak berani terucap..