C5M - 11. Menolak

26 9 0
                                        

‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍“Vanya! Ngapain di sini?”

Gadis itu muncul tepat di balik etalase. Hasna tak menyadari ada Vanya bersama mereka. Apa ini sudah jadi bagian dari rencana mereka. Vanya, pasti anak itu yang memberi tahu Farhan tentang kedtangannya ke sini.

“Mbak Hasna gak bohong, kenapa Mbak Hasna gak ngaku aja, sih?”

Dua alis Hasna nyaris bertautan. “Vanya ngomong apa sih? Nguping itu dosa loh.”

“Tapi bohong juga dosa kan, Mbak?”

Oke, jadi sekarang ini adiknya ingin mengajak Hasna berdebat. Menghela napas pelan, ia memilih menyingkir saja. Cekalan tangan Farhan di pergelangannya mencegah Hasna mengambil langkah.

“Mbak, tolong jawab pertanyaan Kakak. Jangan buat Kakak bingung dalam mengambil keputusan.”

“Ih, Kak Farhan nih. Kan udah aku kasih tau, Mbak Hasna itu gak pernah gak sayang sama kakak.”

Hasna menarik pergelangan tangannya. Melempar tatapan tajam pada temaja itu. Vanya, kenapa dia jadi berani berkata begitu pada Hasna di depan orang lain.

“Ini, buktinya.” Vanya meletakkan debuah ponsel putih di atas etalase. Astaga, itu punya Hasna. Ponsel lamanya yang menyimpan semua chat mereka dulu.

“Aku tau aku gak sopan, tapi ... aku cuma mau nyelametin Mbak Hasna dari perasaan terpaksa.”

Hasna semakin mengernyitkan dahi mendengar penjelasan sang adik. Apa yang ABG itu katakan.

“Mbak Hasna pasti gak tau kan kalo nanti malem Mas Galen ke rumah buat lamar mbak Hasna. Ibu udah setuju dan semuanya tergantung Mbak Hasna.”

Hasna menutup mulut dengan satu tangan, pandangannya berlarian ke sana-kemari. Jadi ini alasan kenapa ibunya terus saja memaksa Hasna menikah. Galen, dia penyebabnya.

“Vanya bukan lagi anak TK yang gak ngerti apa-apa. Vanya tau kalo Mbak Hasna ada perasaan ke Kak Farhan. Dan dari awal juga Vanya tau kalo Kak Farhan ini bukan sekedar teman biasa.”

Mendadak kaki Hasna melemas, ia mendudukan diri di bangku plastik. Apa ini, Hasna tak siap mendapatkan berita ini. Dia belum siap untuk menikah atau apa pun itu.

“Mbak Hasna kaget kan? Vanya juga. Meski sebenernya Vanya lebih seneng kalo Mbak itu nikah sama Mas Galen, tapi Vanya juga pengen liat Mbak Hasna bahagia sama orang yang mbak Hasna sayang.”

Farhan dan Hasna sama-sama diam. Vanya, gadis itu menghela napas pelan lalu pamit pulang ke rumah.

“Mbak nanti bakal di telpon ibu jam setengah delapanan, Mbak Hasna siap-siap. Terus, jangan sampe ibu tau kalo Vanya yang ngasih tau bocoran ini.”

Sepeninggalnya gadis itu, Farhan berdehem membuka perbincangan. “Mbak, kakak masih nunggu jawaban soal lamarannya.”

“Kak tolong, aku butuh waktu buat jawab. Yang Vanya bilang, semauanya emang bener. Tapi cinta aja gak cukup kan untuk mebangun sebuah hubungan kan?”

Setelah mengucapkannya Hasna berlalu begitu saja, meninggalkan Farhan sendiri dibawah semburat jingga mentari yang mulai malu-malu menampakkan diri di ujung langit.

***

Persis seperti yang Vanya beri tahu tadi sore. Saat Hasna melangkah masuk ke dalam rumah, Galen di sana duduk bersama ibu dan ayahnya berbincang penuh keakraban. Vanya juga di sana, menunduk sibuk dengan ponselnya.

“Nah ini dia, sini Hasna duduk di sebelah ibu.”

Galen yang lengkap dengan setelan kerjanya menyunggingkan senyuman. Hasna membalas sekilas, lalu memilih diam sementara lelaki itu kembali melanjutkan topik perbincangan bersama ayah dan ibunya. Hahh ... Ya Tuhan, Hasna masih ragu harus mengambil keputusan seperti apa. Waktu dua jam, mana mungkin dia bisa mengambil keputusan sebesar ini dalam waktu singkat.

“Hasna ada sesuatu hal yang mau Galen bicarain,” ujar Ismi membuka perbincangan.

Ruangan senyap, selain Galen hanya ibunya saja yang terlihat begitu bahagia. Hasan terlihat biasa saja, sedangkan Vanya sedikit menekuk wajah. Di sebrang Hasna, Galen berdeham kecil. 

“Hasna, sejak dua tahun yang lalu aku selalu menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan hal ini. Tapi aku rasa saat itu kamu masih fokus ke usaha.”

Hasna diam, menunggu kalimat itu keluar sembari berpikir ulang dengan keputusan yang akan diambilnya.

“Sebelumnya aku udah minta izin sama Ibu dan bapak kamu, Na. Dan sekarang aku tinggal minta jawaban dari kamu aja.” Galen mengeluarkan sebuah kotak putih kecil dari saku celananya.

Dia membuka benda itu, mengarahkannya pada Hasna. “Apa kamu mau nerima lamaran dari aku?”

Hasna menelan saliva. Ismi di sebelah Hasan mengangguk. Apakah itu sebuah perintah dari ibunya untuk menerima lamaran Galen. Sedangkan Hasan diam pun begitu dengan adiknya.

“Maaf, Kak. Aku perlu waktu untuk berpikir.”

“Oh,” senyum laki-laki itu memudar seraya menarik tangan, menyimpan benda itu lagi. “Ah, ya gapapa. Aku ngerti, kapan pun kamu siap dengan jawabannya. Tolong hubungi aku.”

Hasna tersenyum mengangguk kecil. Malam itu berakhir dengan makan malam bersama di rumah Hasna. Tak ada yang berbeda, semua masih sama seperti biasa, bahkan setelah kejadian di ruang tamu tadi. Semua kecanggungan itu seolah tidak pernah terjadi.

Galen emang udah mengambil hati semua orang di rumah, kecuali aku.

Masih di malam yang sama. Sesaat setelah Galen pamit pulang, Hasna tak menyangka ibunya akan semarah ini atas keputusan yang tadi diambilnya.

“Kenapa kamu nolak jodoh yang dateng Hasna?”

Hasna mentap tak percaya ada ibunya. Apa? Jodoh yang datang? Astaga.

“Emang kamu udah punya pilihan lain? Kamu udah ketemu sama laki-laki yang cocok?”

Hasna tak bisa menjawab iya, karena memang begitu adanya. Dia bahkan masih ragu dengan Farhan.

“Ibu gak tau kenapa kamu nolak Galen gitu aja.”

“Bu, Hasna itu buannya nolak. Dia cuma butuh waktu buat berpikir ulang, menyakinkan dirinya dengan keputusan yang akan dia mabil,” Hasan menyela ucapan istrinya.

“Mau gak yakin gimana lagi sih, Pak? Kita udah kenal Galen dari lama. Dia baik, banyak bantuin keluarga kita. Dia udah mapan, kerjaan terjamin.”

Ismi menjeda sejenak, menarik napas lalu kembali berujar, “Kurang apa lagi? Galen itu menantu ideal buat ibu dan menurut ibu, dia suami ideal buat kamu. Hasna denger kata ibu, gak?”

“Tapi, bu—”

“Udahla Bu, gak usah menekan Hasna. Dia udah dewasa, pasti punya pertimbangan sendiri. Biarkan dia memilih hidupnya sendiri.” Hasan menginterupsi lagi, kali ini lebih tegas.

“Kenapa? Apa salahnya kalau aku pengen yang terbaik buat anak kita?” Ismi lalu menatap pada Hasna.

“Ibu gak mau kamu menyesal karena nolak Galen.”

Hasna menunduk, menatap lantai dengan kening berkerut. Jujur Hasna bingung. Selama hampir dua puluh tujuh tahun hidupnya, tak penah sekali pun Hasna mengambil keputusan tanpa persetujuan ibunya.

“Hasna,” Dari di ujung meja Hasan tersenyum. “Udah jangan dipikirkan lagi, sekarang udah malem, waktuya kamu sitirahat.”

Bersama dengan kursi rodanya, Hasan mendekat ke tempat putri sulungnya duduk. dia mengelus kepala berbalut  hijab itu.

“Kamu punya keputusan penuh atas hidupmu, Nak.” Setelah menepuk pundak Hasna dua kali, Hasan benar-benar pergi dari meja makan.

Hasna mengeluarkan sebuah kotak beludru warna merah dari tasnya. Menatap benda lalu merebahkan kepala di meja.
Hasna belum mau menikah, dia harus apa.

Cinta Satu JanjiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang