“Mbak Hasna ditungguin ibu di rumah juga.” Vanya dengan setelah piyama biru langitnya berjalan mendekat.
Remaja itu melihat pada Farhan sekilas, lalu berucap lagi. Kali ini dengan unsur ancaman. “Disuruh ibu pulang, Mbak. Nih sekarang udah hampir mau jam sembilan, aku tadi mau tidur malah disuruh ibu nyariin mbak. Kan kesel. Besok Vanya sekolah, kalo terlambat Mbak Hasna yang salah kalo sampe Vanya gak sekolah.
Terus juga, empat hari lagi Vanya ultah. Jangan lupa mbak, langsung bikinin Vanya SIM. Biar Vanya gak naik bis mulu.”
Adiknya dan kecerewetannya itu memang tidak pernah bisa Hasna hindari. “Vanya pulang duluan aja.”
“Enggak mau! Vanya pulangnya bareng-bareng Mbak Hasna. Vanya udah diupahin ibu buat nyari dan bawa pulang Mbak Hasna.”
Suara tawa lepas seorang lelaki membuat dua bersaudara itu menoleh penuh oerhatian. Hasna diam dan vanya tersenyum kikuk. Remaja itu lupa kalau mereka sedang tidak cuma berdua.
“Jadi ini ya yang namanya Vanya.” Farhan tersenyum, pipinya itu lantas memamerkan dua lubang yang membuatnya terlihat rupawan berkali-kali lipat. Hasna melengos, dadanya berdegup kencang.
Astaga lancang sekali jantungnya berdebar tanpa izin dari Hasna.
“Kok, kakak kenal aku? Mbak Hasna emang pernah ceri—”
“Vanya tunggu di motor kamu aja sana.”
“Kenapa?”
Hasna menghembuskan napas pelan. Hasna tau apa yang gadis itu inginkan. “Besok pas Vanya ultah, mbak kasih tiket nonton gratis mau?”
“Itu doang hadiah ultah Vanya? Yah, gak surprise lagi dong.”
Ya Rabb, Gadis ini pintar sekali menguras kesabaran Hasna. Dia juga tau bagaimana caranya membujuk orang untuk memberikan apa yang dia ingin.
“Hadiah utama terpisah dengan tiket nontonnya.”
Vanya menutup mulutnya yang terbuka lebar dengan satu tangan. Meloncat-loncat kecil dengan girangnya. “Sayang deh sama Mbak Hasna. Yaudah, Vanya tunggu di sana. Jangan lama-lama ya, Mbak.”
Hasna melirik pada Farhan yang tersenyum mengikuti langkah adiknya. Dan Hasna langsung berpaling saat lelaki itu menatap padanya.
“Seharusnya anda tak perlu meminta maaf. Karena antara anda dengan saya tak pernah terlibat masalah sedikit pun.”
Lelaki itu terdiam menatap hasna dalam-dalam. Sudahlah, Hasna tak bisa berada di sini lebih lama lagi. Pertahanannya nyaris runtuh. Tanpa berucap apa pun, ia melangkah menghampiri sepeda motornya, cepat-cepat memakai helm.
Dan malam itu berakhir begitu saja. Di bawah langit malam bersama deru kendaraan yang berlalu lalang. Laki-laki itu tak mengatakan apa pun. Membiarkan Hasna mengendarai motor dengan perasaan sesak dan genangan air di pelupuk mata. Tertawa kecil, memangnya apa lagi yang bisa Hasna harapkan dari mulut laki-laki itu.
“Mbak jangan lupa loh, double hadiah buat Vanya. Terus SIM juga.”
Hasna mengangguk saja saat adiknya terang-terangan menodong.
“Mbak!”
Sekali lagi, Vanya menahan pintu kamar yang hendak Hasna tutup. Gadis itu, apa dia tidak lihat wajah kusut Hasna. Dia malah melesak masuk ke kamar Hasna. Duduk di karpet dekat ranjang. Sekarang Vanya mau berceloteh tentang apa lagi.
“Mbak, cowo yang tadi siapa sih?”
Menatap sang adik malas, dia kembali melepaskan kerudungnya. Menyimpan peniti juga jarum pentul pada wadah bulat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Satu Janji
RomancePria asing itu menyapaku, tersenyum, dan mengaku-ngaku sebagai Farhan. Menggeleng kecil, tidak mungkin itu dia. Kisah kami sudah usai tujuh tahun silam, semenjak Farhan pergi tanpa jejak. Tidak meninggalkan nomor ponsel, akun media sosial, atau apa...
