“Percayalah, takdir tidak pernah benar-benar jahat. Selalu ada kebaikan setelahnya.”
•-•
Hari itu sangat pagi, sekitar jam enam. Hasna baru saja selesai membantu memasukkan kotak nasi ke dalam beberapa lembar keresek besar. Mobil sedan Galen datang dan terparkir manis di depan toko kateringnya. Tubuh berbalut jas hitam itu berdiri di depan etalase. Dia membenarkan letak kacamata di sela-sela senyumannya pada Hasna. Dia tampak tampan dan keren, Hasna menhakui itu.
Ia lantas menghampiri sambil menyembunyikan telapak tangan di kantong hoodie coklatnya.
“Pas, baru aja selesai di kemas,” celetuk Hasna.
“Gila sih, yang masak belum mandi,” ujar Galen dramatis seraya menjepit hidungnya.
“Eh, tau aja.” Hasna menutu wajah, berpura-pura malu. Lalu kedua orang tersebut tertawa ringan. Kadang Hasna dan Gslen bsia seabsurd itu.
Tiba-tiba saja pria berjas tersebut Galen lengan dan membalik tubuh Hasna sehingga membelakanginya. Tertawa dalam hati, Hasna yakin Galen sedang memastikan kalau kain coklat yang Hasna kenakan ini adalah pemberian lelaki itu.
“Ternyata ... aku pinter juga ya, milihin hoodie buat kamu.”
Berbaluo badan, Hasna memajukan bibir sambil menirukan kalimat Galen tanpa suara. Lalu tawanya pecah. “Tuan Galen ini terlalu percaya diri sekali.”
Keduanya terjeda kebisuan, hanya saling memberi senyuman. Galen menarik tali topi hoodie Hasna yang menjuntai. Entah kenapa Galen tak bisa berhenti untuk tidak menyentuh gadis ini.
“Kayanya aku bakalan merana banget seharian. Coba aja Na, kamu mau ikut dan nemenin aku di acara dies natalies kantor.”
Dan Hasna tertawa kecil seraya menyingkirkan tangan lelaki itu. “Ketauan kan jomlo, makanya cari istri sana. Udah mau tua juga.”
“Ya, kamunya belu—”
“Mbak Hasna, semuanya udah beres tinggal masuk ke mobil.” Baik Galen atau Hasna menoleh pada asal suara, kalimat Nita menginterupsi keduanya.
Dalam hati Galen berteriak mengucap syukur. Itu tadi dirinya hampir saja kelepasan mengatakan kalimat terlarang.
Ya, kamunya belum siap nikah, sih.
Sialan, kalimat itu sangat kentara sekali kan? Terkutuklah dirinya. Semua rencana Galen akan berantakan jika tadi sampai keceplosan.
“Nah Len, bukain bagasinya.” Dia tersenyum di akhir perintahnya. Dan Galen tak bisa menolak melakukan apa yang gadis itu minta.
Dua pekerja catering bergegas memasukkan sepuluh keresek besar itu ke dalam mobil Galen. Memenuhi seluruh bangku penumpang juga bagasinya. Ada 100 kotak nasi dan beruntung semuanya bisa diangkut mobil pria itu.
“Len, kenapa mesti kamu yang ribet-ribet urus konsumsi, sih? Aku yakin, ada banyak bawahan di kantor kamu yang bisa urus masalah itu.”
Galen melipat tangan di dada, mengusap dagu pelan. Seolah berpikir keras. “Eum ya gapapa, biar kamu makin sibuk.”
Dia terkekeh, sementara Hasna menatap sinis dengan dahi melipat. Galen tau persis, Hasna kurang puas dengan jawabannya.
Ah, gadis ini menggemaskan, batin Galen.
“Seperti kamu yang suka ngelakuin semua hal pake tenaga sendiri, aku juga gitu, Hasna. Kemu pasti ngerti.”
Bohong besar. Sejujurnya bukan itu alasan Galen. Dia hanya ingin memiliki alasan untuk terus berada di sekitar perempuan itu. Dan dia perlu menanyakan sesuatu hal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Satu Janji
RomansaPria asing itu menyapaku, tersenyum, dan mengaku-ngaku sebagai Farhan. Menggeleng kecil, tidak mungkin itu dia. Kisah kami sudah usai tujuh tahun silam, semenjak Farhan pergi tanpa jejak. Tidak meninggalkan nomor ponsel, akun media sosial, atau apa...
