Melangkah masuk ke dalam kamar, Hasna menaruh asal tasnya di lantai. Mendudukkan diri di kaki ranjang. Tangan kanannya mengepal kuat kotak putih beludru itu. Pikirannya kembali mwngingat kejadian tadi.
Sesaat setelah Farhan pergi, Hasna masuk ke ruang tengah toko kuenya. Tadi puput menelpon karena butuh bantuan, sebab itulah Hasna berada di sini. Namun ternyata semua sudah rapi. Bahkan puput duduk santai dengan ponsel di tangannya.
“Maaf Mbak, tadi Vanya yang minta tolong.”
Hasna mengembuskan napas pelan seraya memejamkan matanya sejenak. “Oke, gapapa. Aku pulang dulu kalo gitu.”
“Mbak bentar!” Ia mengeluarkan sesuatu, lantas menyodorkannya pada Hasna. Kotak kecil bewarna putih.
“Itu titipan dari mas yang tadi buat Mbak.”
Hasna memandang lagi benda di tangannya. Lalu menarik keluar selembar kertas dari saku hoodienya, benda yang terselip di dalam kotak putih. Dibacanya lagi tulisan tangan itu.
Mbak Hasna, sebelumnya kakak minta maaf karena harus menitipkan ini pada orang lain. Kakak khawatir kalau ngomong langsung sedangkan keadaaan hubungan kita kurang baik, kakak malah gak bisa nyampein semua maksud kakak.
Pagi tadi, pas kakak tau dari Vanya kalau mbak mau dilamar Galen. Jujur kakak kaget, sedih. Kakak kira mbak Hasna mencintai laki-laki lain dan mustahil buat kakak milikin mbak.Tapi pas Vanya ngasih tau kalau mbak gak pernah mencintai Galen. Kakak bertekad untuk meminang mbak Hasna.
Iya, kakak tau hampor semua masalah mbak dan keinginana ibu dari Vanya. Kalau ibu mbak pengen punya menantu. Kakak udah siap menikahi mbak.
Mbak gak pernah tau kalo sebenernya kakak itu sayang sama mbak dari dulu. Dari jaman SMA. Iya, berawal dri kakak nyaman ngobrol di whatsaap sama Mbak. Dan setelahnya kakak gak bisa buka hati untuk siapa pun setelah kakak kenap mbak.
Walau kita gak pernah ketemu, tapi kakak gak pernah bisa senyaman ini sama perempuan. Cuma Mbak yang bisa bikin kakak begitu.
Maaf Mbak karena dulu kakak cuma berani lempar kode, maaf karena dulu kakak cuma bisa berandai mengajak mbak main ke Serang, maaf kalo dulu kadang kakak suka kelepasan ngasih perhatian. Dan maaf karena dulu kakak ngilang dan muncul tiba-tiba setelah bertahun-tahun. Maaf karena mungkin semua itu bikin mbak Hasna gak nyaman, bahkan sampai detik.
Bakal panjang banget kalo semua itu diceritain di sini mbak. Pegel jari kakak nulis banyak-banyak. Haha
Tapi, ada satu hal yang kakak ingin mbak tau. Alasan kakak gak pernah bicarain secara gamblang perasaan kakak ke mbak, karena kakak gak mau ada kata putus yang bisa misahin kita.
Enggak mbak, kakak gak mau itu terjadi. Kakak gak mau berpisah bahkan sebelum kita bertemu.
Hari ini ada berkat Vanya. Kalau aja Vanya enggak ngasih tau kakak soal rencana Galen, mungkin kakak akan kehilangan mbak untuk selamanya.
Kakak hari ini, detik ini, saat kakak menulis dan mbak Hasna membacanya. Kakak ingin melamar Mbak. Apa Mbak Hasna terima lamaran kakak?
Tolong Mbak Hasna kasih jawaban ke kakak. Mbak Hasna cuma perlu pake cincin yang kakak kasih, kalau emang Mbak Hasna nerima lamaran kakak.
Apa pun itu, yang buat mbak Hasna ragu. Mbak bisa tanya semuanya. Mbak bisa menemui kakak setelah benar-benar mbak Hasna yakin. Kapan pun mbak mau telpon atau ketemu, kakak akan selalu bisa.
Menurunkan tangan, meletakkan sembarang surat tersebut. Tak ada langkah atau keputusan apa pun yang bisa Hasna lakukan. Mungkin, untuk sementara waktu dia hanya akan menyimpan benda itu. Hasna cuma bisa berdoa semoga ibunya tidak lagi mengungkit-ngungkit apa yang telah terjadi hari ini.
***
“Ibu gak ngerti lagi apa yang ada di pikiranmu Hasna? Apa yang kamu tunggu. Galen, dia sempurna buat jadi suamimu. Dia baik sama semua, ibu, bapak, bahkan Vanya. Galen kurang apa lagi menurut kamu?”
Sudah lebih dari seminggu ibunya terus mengulang-ulang kalimat itu. Dan seminggu itu pula, tak sekali pun Hasna bisa menjawab. Diam, cuma itu yang dia lakukan.
“Hasna jawab ibu, Nak!”
Hasna lagi-lagi masih bungkam, dia menatap piring yang berisi separuh santapan paginya. Ya, semua orang sedang sarapan di sini. Vanya pun ikut mendengarkan omelan ibunya yang itu-utu saja hampir di setiap mereka berkumpul. Oh, jujur saja Hasna muak sekali.
“Kamu gak mungkin kan gak nikah Hasna? Kamu harus nikah, Nak. Percaya sama ibu. Galen orang baik, dia cocok buat kamu, Hasna.”
“Tapi Bu, hatinya mbak Hasna gak cocok sama Mas Alen.” Tiba-tiba tanpa diminta pendapatnya, Vanya berceletuk begitu saja. Membuat Ismi termasuk Hasna membelalakan mata.
“Maksudnya?”
Hasna menggeleng kecil, memperingatkan agar remaja tanggung itu tak mengucapkan apa pun yang bisa membuat keadaan semakin memburuk.
“Apa ibu gak pernah pengen nanya gimana perasaan Mbak Hasna ke Mas Alen? Mas Alen mungkin cinta sama Mbak Hasna, tapi apa mbak Hasna cinta sama Mas A—”
“Vanya!” seruan Hasna sempat membuat suasana hening untuk sesaat.
“Kenapa? Vanya cuma mau bantuin mbak Hasna lepas dari pertanyaan ibu.”
“Jadi,” Ismi menatap pada Hasna. “Kamu gak cinta sama Galen?” Bukan Hasna, tapi malah Vanya yang mengangguk girang.
“Gak masalah, cinta bisa datang setelah kalian menikah. Lagi pula cinta aja gak cukup membangun sebuah hubungan. Ada banyak hal yang harus dipertimbangkan Hasna. Dan Galen memenuhi semua kriterianya. Tinggal menunggu waktu aja, kamu pasti bisa mencintai Galen.”
Hasna tak mengerti kenapa ibunya sangat ingin dia menikah dengan Galen. Apa ada sesuatu yang Gapen janjikan pada ibuny. Tapi tidak, ibunya tidak mungkin seperti itu.
Di tengau kemelut pikiran. Tiba-tiba Vanya berkata lagi, kali ini sukses membuat jantung Hasna berdebar kencang. “Mbak Hasna udah cinta sama orang lain, Bu.”
Ismi terdiam. Berbanding terbalik dengan Hasan. “Kenapa gak dikenalin ke bapak, Hasna? Kalo kamu suka dan kalian siap nikah. Bapak setuju aja. Daripada pusing sama lamaran dari Galen. Mending—”
“Nggak! Hasna gai boleh nikah smaa sembarang orang. Apalagi kalo belum kenal dengan baik orang itu.”
Di seberang Hasan mengernyitkan dahi. “Hasna pasti tau mana laki-laki yang baik man—”
“Enggak!” Ismi menggeleng. “Aku gak mau nasib malang yang menimpaku menimpa anak-anak aku juga. Cinta aja gak cukup.”
“Itu udah lalu, kenapa mesti kamu bahas hal ini di sini?”
Ismi menoleh tajam pada suaminya. “Aku cuma mau mendidik mereka dengan apa yang pernah aku alami.”
“Hasna, semua keputusan ada di kamu, Nak. Mau menerima lamaran Galen, mau menikah dengan pria lain, atau pun belum mau menikah dulu. Semua itu terserah kamu, Nak.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Satu Janji
Roman d'amourPria asing itu menyapaku, tersenyum, dan mengaku-ngaku sebagai Farhan. Menggeleng kecil, tidak mungkin itu dia. Kisah kami sudah usai tujuh tahun silam, semenjak Farhan pergi tanpa jejak. Tidak meninggalkan nomor ponsel, akun media sosial, atau apa...
