Ting
Ting
Ting
Ting
♬ ♪Ringkihku terbias dalam kisah semu, manis yang tersa—
Ting
Ting
Hasna yang sedang sibuk mencuci piring kotor di dapur sampai harus menghentikan kegiatan karena notifikasi yang berjubel masuk serta missed call yang entah dari siapa. Tidak sopan sekali, ini masih setengah tujuh. Ponsel yang tergeletak di meja makan itu membunyikan satu notifikasi lagi.
Ternyata, pesan whatsaap dari adiknya tercinta.
Vanya: P
Vanya: Mbak Hasna anterin Vanya. Ini udah pada gak ada angkot. Bisnya juga, Vanya ketinggalan.
Vanya: Udah siang ini, nanti Vanya telat
Vanya: Anterin ya, mbak.
Vanya: Mbak cepet kesini!
Vanya: MBAAAK
Vanya: Mbak, Vanya bolos ajalah daripada dihukum gara gara telat
Iya, mbak na otw. Tunggu lima menit.
Dengan masih menggunakan setelan piyama juga kerudung biru langitnya. Hasna cepat-cepat menyambar kunci motor di kamar. Menggerutu dalam hati, Vanya selalu saja menyusahkan jika sudah seperti ini. Anak itu yang begadang, malah Hasna yang harus kena imbasnya.
“Mbak Na, mau ke mana?” teriak sang ibu yang sedang bergelut dengan bunga-bunga peliharaannya di pekarangan rumah. Ada Hasan juga yang duduk di teras dengan segelas kopi dan sepiring umbi-umbian rebus.
“Bu, Hasna mau anterin Vanya ke sekolah. Udah kesiangan, gak ada bis atau angkot katanya.”
Ia menggunakan segera helmnya. Sang ibu mengangguk, “Hati-hati di jalan, jangan ngebut banget. Mendingan telaaat.”
Ismi meninggikan suara saat putri sulungnya mulai memutar sepeda motor kemudian berlalu dari pekarangan rumah. Dalam hati dia bersyukur, anak kecilnya kini tumbuh menjadi gadis dewasa yang begitu tangguh. Hasna yang ia pikir tak bisa apa-apa, detik ini mengubah segala keadaan di keluarga mereka menjadi lebih baik.
Seentara di persimpangan jalan dekat lampu merah biasa Vanya menunggu angkutan. Di sanalah Hasna menoleh ke sana kemari, menepikan motor lalu memeriksa sekitar. Adiknya tidak ada.
“Di mana sih itu anak,” gumam Hasna kesal bercampur khawatir.
Ia kembali ke motor, menyalakan mesin lalu berbelok ke kiri lalu melajukannya sampai kurang lebih sekitar seratus meter. Hanya ini yang terpikirkan oleh Hasna. Toko catering miliknya. Mungkin saja katena tak sabar menunggu, Vanya minta diantarkan oleh Nita.
“Ibu-ibu, apa barusan Vanya ke sini minta dianter betangkat sekolah?”
Semua orang di dapur itu kontan menoleh, menggeleng dan berkata tidak. “Vanya gak ke sini, emang ada apa mbak?” tanya Nita. Gadis itu sedang mengupas kentang.
“Tadi minta dianterin sekolah kan, soalnya angkot udah pada gak ada. Kesiangan dia. Pas aku ke sana, malah udah gak ada.”
Hasna sungguh bingung harus mencari ke mana, mungkinkah dia ketemu teman di jalan dan sudah berangkat bersama.
“Coba Mbak Hasna telpon aja”
Hasna tersenyum lalu berbalik bergegas kembali keluar. Malangnya benda itu tertinggal dan ia harus kembali ke rumah untuk memastikan kalau adiknya itu sudah sampai di sekolah.
Dan saat sudah mengetikkan pesan pun mengirimnya. Hanya centang satu. Hasna gemas sekali, kesal dengan remaja itu.
Awas aja nanti sore, batin Hasna. Ya, dia berencana ingin memarahi remaja itu nanti.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Satu Janji
RomancePria asing itu menyapaku, tersenyum, dan mengaku-ngaku sebagai Farhan. Menggeleng kecil, tidak mungkin itu dia. Kisah kami sudah usai tujuh tahun silam, semenjak Farhan pergi tanpa jejak. Tidak meninggalkan nomor ponsel, akun media sosial, atau apa...
