Stephani membatu seketika ketika mendengar jawaban dari Rima. Beberapa kali dia meminta Rima untuk memperhatikan baik baik foto itu jawabannya tetap sama, Rima tak melihat apa yang dimaksud oleh Stephani, Stephani sendiri tak memberi tahu sosok tersebut kepada Rima karna ia tahu Rima penakut.
"Kita punya kayu bakar nggak sih ?" Tanya Marchel.
"Buat apa kayu bakar, Chel ?" Tanya Hazby sambil menyeduhkan air panas kedalam cangkirnya yang berisi kopi.
"Buat api unggun biar nambah aesthetic gitu, tapi kayaknya disekitar sini ada deh. Temenin yuk," ujarnya dengan mata yang mengarah ke Dimas.
"Kenapa lo lihat ke gue? Sama Hazby aja sana ah, males gue,"ucapnya kemudian pergi menuju tenda dan tidur.
Marchel beralih ke Hazby yang tengah menyeruput kopi, "nggak ! Gue nggak mau, lagi sibuk menikmati senja." Hazby berbalik membelakangi Marchel.
Marchel berdiri lalu menjawab, "oke, jangan sampai lo nyesel kalo kontrak bokap gue sama lo, gue batalin. " Dia berbalik kemudian berjalan layaknya cewek ketika marah. Hazby yang tahu nyawa perusahaanya di pertaruhkan segera menyusul Marchel.
"Jangan gitu dong Chel, masa main batal batalin aja. Kan kita besplen. " Bujuk Hazby dengan merangkul pundak Marchel.
Marchel yang risih pun menepis tangan Hazby dan menjawab, "ih jangan sentuh aku mas, aku jijik sama kamu ! " Ucapnya kemudian tertawa diakhir karna tak percaya dia bisa mengatakan hal laknat seperti itu. Hazby yang disampingnya hanya bisa diam menunggu sampai anak itu berhenti lalu ia berkata, "dasar anak anjing ! "
Mereka berdua mulai memungut satu persatu ranting yang jatuh namun, hasilnya hanya sedikit. Hazby pun berinisiatif untuk berpencar dan ketempat semula yang sudah mereka sepakati.
"Tapi jangan jauh jauh, kalau bisa kurang dari sepuluh menit harus kumpul disini lagi," ujar Hazby. Lalu mereka mulai berpencar.
Dengan mudahnya Hazby bisa mengumpulkan banyak ranting dengan waktu kurang dari sepuluh menit. Ia pun berbalik untuk pergi ketempat semula yang sudah ia janjikan dengan Marchel. Lurus, belok kiri dan dia akan sampai disana. Namun, setelah ia belok kiri kenapa ada jalan lagi? Hazby mencoba untuk tidak panik dan mengikuti salah satu jalan yang ada. Tetap saja, rasanya ia sudah memutari tempat ini lebih dari lima kali. Mulai panik, Hazby menjatuhkan semua kayu yang ia bawa dan berlari ke salah satu jalan yang ada namun hasilnya sama.
Disisi lain Marchel yang sudah menunggu ditempat lebih dari sepuluh menit pun mulai khawatir, dia menyusul Hazby dan berharap dia ada disana. Dengan memanggil nama Hazby di sepanjang jalan Marchel menyusuri hutan dengan raut wajah cemas. Karna tak kunjung menemukan Hazby, Marchel berbalik dan segera memberitahu teman temannya yang lain.
"Dim.., dim! " ujar Marchel kewalahan karna berlari. Dimas yang mendengar teriakan Marchel pun langsung keluar dari tenda.
"Ada apa, Chel ?" Tanya Dimas ikut panik setelah melihat wajah panik Marchel.
"Hazby hilang ! "Marchel mengatakannya dengan napas yang tersenggal, dia bisa melihat wajah terkejut Dimas saat ia selesai berbicara. Begitu juga dengan Stephani dan Rima yang langsung keluar dari tenda dengan raut wajah yang sama halnya dengan Dimas.
"Kok bisa sih, lo, 'kan tadi sama dia," ujar Dimas.
Mereka mulai mencari Hazby setelah Stephani berhasil melerai Dimas dan Marchel, mereka berdua saling adu mulut dan saling menyalahkan yang membuat pertengkaran diantara mereka terjadi.
Disisi lain, Hazby mulai lelah untuk mencari jalan keluar. Tenaganya sudah mulai habis dan ditambah ia mulai merasa haus setelah berteriak meminta pertolongan namun tak ada sahutan sama sekali. karna putus asa, Hazby mulai berjalan maju dari tempat ia duduk sampai tak sadar kakinya mulai basah karna menginjak genangan air. Dia mulai tersadar ketika ia semakin berjalan air tersebut malah semakin tinggi, ketika ia mendongak kedepan ternyata ia sedang didepan air terjun. Seperti mendapat harapan, Hazby dengan semangatnya meminum air yang ada disana kemudian membasuh wajahnya.
Suara gemericik air seakan mengajaknya untuk terus bermain main, air yang jernih nan segar pun seakan menghipnotisnya agar terus berlama lama disini. Dia bisa melihat langit mulai gelap namun, entah karna tergoda Hazby melepas seluruh pakaiannya yang hanya menyisakan pakaian pendeknya lalu dengan penuh semangat ia melompat ke kolam tersebut. Hazby bisa merasakan betapa segarnya air tersebut ketika bersentuhan dengan kulitnya.
Beralih ke teman temannya. Karna tak kunjung menemukan Hazby, Marchel memutuskan untuk berpencar namun, Dimas menolak dengan beralasan, "nanti kalau lo yang hilang gimana ? nggak mau gue, mending bareng bareng aja."
"Nggak akan Dim, nanti kalau kita tersesat atau semacamnya tinggal pencet aplikasi ini. ini suaranya kenceng banget, gua udah download in ini ke hp kalian masing masing," ujar Marchel menjelaskan. Dimas pun percaya dan akhirnya menyetujuinya. Dimas bersama Stephani dan Marchel bersama Rima, mereka pun mulai berpencar.
Langit mulai menghitam dan satu satunya alat penerangan mereka adalah senter dari handphone. Sambil meneriaki nama Hazby, Marchel dan Rima pelan pelan menyusuri jalan karna banyak sekali dahan dan ranting ranting yang mengganggu. Sesekali Rima menarik rambutnya yang tersangkut diantara dedaunan bahkan hampir melukai matanya dia tetap diam. Lama tak bertemu dengan Marchel membuatnya sedikit canggung. Marchel yang menyadarinya langsung mengesampingkan rambut Rima lalu merangkulnya agar tidak ada ranting yang tersangkut di rambutnya.
Mereka memelankan langkahnya ketika mendengar suara aneh yang berasal tak jauh dari depan mereka. Penasaran mereka mulai mendekatinya secara diam diam lalu mengintipnya dari celah celah dedaunan. Betapa terkejutnya mereka ketika melihat Hazby yang bertingkah aneh yang seolah olah sedang berenang dengan semua pakaian terlepas yang hanya menyisakan pakaian pendeknya. Marchel dan Rima pun langsung membantunya, "by lo kenapa! sadar by, sadar ! "Marchel mengguncang guncangkan tubuh Hazby dengan sesekali menampar pipinya agar dia segera sadar.
Hazby terus meracau tidak jelas dan terus mendorong Marchel agar menjauh sampai Marchel baru menyadari ini ulah ' mereka ' yang tak kasat mata. Karena mengingat ini hutan dan mengingat hazby mengatakan hal yang seharusnya tidak dikatakan, dengan sabar Marchel menyuruh jin atau apapun yang ada dalam diri Hazby untuk pergi dan juga meminta maaf atas apa yang dikatakan Hazby. Cara itu berhasil, Hazby sadar dan langsung berdiri dengan kepalanya yang pusing dan juga badannya lemas. Mereka bersyukur Hazby bisa sadar, Rima membawakan pakaian Hazby yang tadinya berserakan di tanah. Setelah mengenakan pakaiannya Hazby berdiri dibantu Marchel dan juga Rima. Baru lima menit mereka berjalan Marchel dan yang lainnya mendengar suara yang keras.
"Dimas dalam bahaya, " ujar Marchel lalu dengan sekuat tenaga berlari menghampiri Dimas dan Stephani.
Disisi lain, Dimas dan Stephani tengah beristirahat setelah berlari menghindar dari kejaran sosok yang menyeramkan.
"Kamu tahu dari mana tadi dia ngejar kita ?" Tanya Dimas
Stephani hanya menggelengkan kepalanya dia juga tidak tahu kenapa dia bisa melihatnya. Awalnya tadi dia melihat seorang nenek yang tengah mencari kayu bakar namun, setelah Stephani perhatikan posisi kaki nenek tersebut terbalik. jari kaki yang seharusnya membelakanginya ini malah menghadap kearahnya, tak lama kemudian tubuh nenek tersebut berbalik kearahnya dengan posisi tubuh yang seharusnya namun dengan wajah yang hanya menyisakan mata yang merah menyala. sontak Stephani menjerit ketakutan lalu menyeret Dimas dan untuk menjauh dari sana.
Dimas merogoh sakunya lalu mengambil handphonenya dan memencet tombol bantuan, Stephani memeluk Dimas lalu menangis, Dimas menenangkannya dengan mengelus rambutnya.
Hey ! Stay safe
KAMU SEDANG MEMBACA
PETAKA
HorrorSeperti Dejavu, kejadian 4 tahun lalu kembali terulang dan menghantui Marchel dan yang lainnya. Cerita 4 tahun yang lalu ternyata belum selesai, para iblis terus terusan menganggu mereka seakan menuntut balik apa yang mereka renggut. Stephani hanya...
