Chapter 13 : 27 Club

309 49 11
                                        

Tubuh Stephani lemas lalu segera ditangkap oleh Dimas.

"Yang ! Kita pulang sekarang ya ?"

"Nggak, nggak usah. Kita belum nemu petunjuk apapun." Stephani memaksakan badannya untuk berdiri. Ia meyakinkan bahwa dirinya sudah biasa dan dirinya harus terbiasa.

"Yang masuk ke tubuh gue tadi mahluk besar hitam. Dia bilang tempat ini bahaya." Setelahnya Stephani ditarik oleh Dimas untuk mengajaknya keluar dari sana namun ia menahannya.

"Mungkin ini akal - akal an dia saja  agar kita nggak nemu-in sesuatu. Pasti ada yang ditutup - tutupi." Mereka semua terdiam. Stephani ada benarnya. Mungkin saja ada sesuatu yang belum mereka ketahui.

"Sekarang jam 15:30, sebisa mungkin jam 16.00 kita harus keluar dari sini. Perasaan gue udah nggak enak."

Mereka masuk kedalam mulai mengamati setiap sudut ruangan tersebut terutama foto Dhavis. Tepat di samping foto Dhavis terdapat satu foto yang menurut Hazby tidak asing.

Reno Wijaya

Sepertinya otak Hazby tidak mau berpikir untuk mengingat foto orang bernama Reno Wijaya tersebut. Hazby lalu membawa foto Dhavis dan juga Reno untuk ia tanyakan ke Marchel nantinya.

Sedangkan Stephani ia dengan seksama memandangi foto sekelompok orang yang memakai jubah hitam beserta penutup kepala kerucut yang hanya memperlihatkan kedua mata. Semakin lama Stephani melihatnya semakin lama juga pengelihatannya pelan pelan menjadi buram. Dan sampai akhirnya dia..,

"Pergi ! Cepat kalian pergi dari sini !" Stephani tiba tiba saja berteriak, pupil matanya juga berubah menjadi warna merah.

Dimas dan Hazby pun panik. Dugaan mereka Stephani kerasukan. Lagi.

"Pergi ! Cepat pergi sekarang ! Sebelum kalian bernasib sama seperti saya ! Cepat per-" Stephani jatuh begitu saja, Dimas hendak membantu pacarnya tersebut itu bangun namun tiba tiba Stephani lebih dulu bangun dengan raut muka wajah tenang yang kemudian berubah menjadi tawa menyeramkan.

"Lancang sekali kalian masuk ke wilayah orang tanpa izin !" Suara Stephani berubah menjadi sangat berat ditambah tatapan matanya yang sangat tajam.

Dimas sadar akan pergantian mahluk yang ada di tubuh Stephani langsung mendekat hendak menampar kembali pipinya namun Stephani lebih dulu menghempaskan Dimas dengan ayunan tangan kanannya. Alhasil tubuh Dimas menghantam meja persembahan.

"Kalian pikir kalian bisa keluar dari sini hidup hidup ?" Stephani mendekat ke arah Hazby yang hanya bisa mundur satu langkah.

"Kalian cukup bodoh masuk kesini tanpa tahu akibatnya."

Hazby tak bisa melangkah mundur lagi dikarenakan tembok yang menghalanginya. Stephani menyeringai lalu mencengkram leher Hazby dan mengangkatnya ke udara.

"Sayang sekali gadis bernama Rima menangnggung kesalahan bodoh kalian yang telah masuk kesini." Hazby yang mendengarnya dengan sekuat tenaga ia mencoba untuk melepaskan cengkraman yang ada dilehernya. Namun naas, Hazby terlebih dahulu dihempaskan sehingga tubuhnya menghantam tembok dengan tangan kanannya yang menekuk, alhasil. Kemungkinan tangannya patah.

Hazby tak mampu berdiri, sekujur tubuhnya lemas ditambah tangan kananya yang sakit luar biasa.

Stephani, ah tidak. Lebih tepatnya mahluk yang ada ditubuh Stephani hendak menghampiri Hazby namun ia malah menjerit-jerit kesakitan lalu Stephani jatuh tak sadarkan diri.

Ternyata Dimas melemparkan tengkorak kepala kambing kearah sesajen yang membuat mahluk yang ada ditubuh Stephani kesakitan.

Dimas dengan susah payah membopong sahabat dan pacarnya kedalam mobil satu persatu lalu langsung pulang untuk menemui adikknya.

"Rim ! Rima !" Suara Dimas menggelar ke seluruh ruangan dan langsung mencari Rima kekamarnya sedangkan Stephani yang sudah sadar membawa Hazby dan membantunya untuk duduk diruang tamu.

Dimas membuka kamar Rima dan mendapati adiknya terduduk dimeja belajar yang memunggunginya. Dimas bernapas lega. Lega karena Rima baik Baik saja. Namun, kejadian tak disangka pun terjadi.

Tubuh Rima tiba tiba saja melayang ke udara lalu membalik menatap Dimas dengan tatapan yang menyeramkan. Sedangkan Dimas, tubuhnya terpaku seakan sesuatu yang kuat menahan tubuhnya.

"Dasar manusia kurang ajar ! Lihat apa yang kamu lakukan berimbas padanya !" Rima melayang-layang menghampiri Dimas yang tidak bisa berbuat apa-apa.

"Kau kira aku akan diam saja dengan perilaku kurang ajar kalian ?."

Kreek

Kreekeek

Tangan kanan dan kiri Rima berputar berlawanan yang menyebabkan tangannya patah.

"Bagaimana ? Kau puas ? Aku rasa ini belum cukup."

Perlahan kepala Rima berputar terbalik, Dimas tak mampu lagi melihat, bukan hanya tubuhnya saja yang tak mampu bergerak, kini mulutnya pun ikut bungkam.

Kepala Rima hampir berputar hampir kebelakang sampai akhirnya pintu kamar terbuka dan muncul Stephani dengan raut wajah marah.

"Mahluk biadab !" Stephani menghempaskan Rima dengan tangannya tanpa menyentuh sama sekali.

Rima hendak bangun walaupun kepalanya menghantam lantai sangat keras, Stephani berlari lalu mencengkram leher Rima dengan erat.

"Enyah kau dari sini mahluk bajingan !" Tangan kanan Stephani menarik sesuatu yang tak kasat mata dari kepala Rima, seakan ia menarik mahluk yang ada di tubuh Rima untuk keluar.

Tubuh Rima pun lemas, Dimas yang tubuhnya kaku kini bisa digerakkan lalu berlari menuju ke Rima.

Baru saja Dimas mendekap tubuh Rima, Stephani lebih dulu tumbang.

"Ah anjing !" Umpat Dimas frustasi.

Singkat cerita mereka semua berhasil dilarikan ke rumah sakit. Rima mengalami patah tulang di kedua tangannya sementara Hazby patah tulang di bagian tangan kanannya.

Dimas memandangi Rima dan Hazby yang belum sadar diatas ranjang sementara pacarnya, Stephani yang bersender dipundaknya, ia mulai melamun.

Ia takut kejadian 4 tahun yang lalu terulang. Kali ini bukan sahabatnya saja, melainkan adiknya pun ikut terkena imbasnya.

Tak lama deritan panggilan video call dari Marchel muncul dilayar kaca Dimas. Dimas yang tak mau membuat Stephani bangun dengan hati hati menidurkan Stephani diatas sofa. Sebelum pergi keluar ia menatap lama wajah damai Stephani yang tengah tertidur.

Kasian. Dirasuki lebih dari 3 kali dalam sehari bukanlah hal wajar bagi Stephani. Mungkin ini pertama kalinya. Namun Dimas bangga pada Stephani karna dia masih bisa bertahan.

Dimas mengelus pelan puncak kepala Stephani lalu mencium dengan lembut keningnya.

Singkat cerita Dimas menceritakan segala kejadian yang telah membuat Hazby dan Rima saat ini dirawat di rumah sakit. Marchel awalnya agak shock dan bersikeras untuk datang kesana namun Dimas menolak.

"Ternyata Dhavis masuk kedalam klub 27" ujar Marchel.

6 jam yang lalu, Marchel mendapat pesan singkat dari ibu Ani yang berisi.

Teman kamu itu, Dhavis. Dia pemuja setan. 27 club. Seingat saya ada daftar nama namanya dibuku berwarna hitam di bawah tanah rumah saya yang lama, kemungkinan masih ada. Kamu bisa mengambilnya.

"Setelah gue cari tahu apa itu klub 27 gue dapet sesuatu yang seenggaknya itu cocok dengan Dhavis."

"Cara kerjanya orang yang mau karirnya sukses harus jual jiwanya sama iblis itu nah, nanti kalau di umur 27 mereka akan mati." Dimas diam, mencoba untuk mencerna kalimat yang keluar dari mulut Marchel.

"Fakta bahwa Dhavis adalah penulis terkenal yang karyanya saja ada jutaan lebih pembaca dan itu pun laris manis."

"Kita beda berapa tahun sih sama Dhavis ? 5 ya kalau ngga salah? Berarti dua pul-"

"27 ! Dhavis meninggal di umur 27"

See you next chapter :"







PETAKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang