Dimas dan Stephani mulai mengeksplor bawah laut dengan sesekali mengabadikan momen didalam air. Sedangkan disisi lain, Arum dan Marchel bergabung dengan Rima dan Hazby untuk membuat istana pasir. Mereka sangat sangat menikmati momen ini. Senyuman hangat terpancar dari wajah mereka masing masing.
Dimas menantang Stephani untuk tidak menggunakan selang oksigen saat menyelam. Pertama Stephani berhasil namun kemudian dia tersedak yang mengakibatkan air masuk kedalam mulut dan juga hidungnya. Dimas sadar bahwa Stephani hampir tenggelam langsung menggendongnya dan mengangkatnya kepermukaan. Stephani kembali bisa bernapas lalu melihat Dimas yang dengan wajah khawatir melihatnya. Stephani tertawa kecil lalu memeluk Dimas yang masih dengan wajah anehnya.
"Nggak Dimas, nggak Stephani sama sama bucin mereka," ujar Arum sembari membuat benteng pasirnya.
Setelah puas bermain air dan juga membuat istana pasir, mereka memutuskan untuk pergi makan ke restoran terdekat lalu beranjak pulang. Kulit merekapun berganti menjadi coklat eksotis akibat terkena paparan sinar matahari.
Stephani menatap kaca toilet dengan kedua tangannya bertumpu pada wastafel. Napasnya sedikit berat dengan sesekali ia terbatuk. Stephani membasuh wajahnya dengan air lalu menatap kaca dengan mengatur napasnya sedikit demi sedikit setelahnya ia berjalan keluar untuk menemui teman temannya yang sudah menunggu di mobil.
Dimas tersenyum ketika melihat Stephani yang berjalan kearahnya. Namun, Dimas menyadari bahwa ada yang salah dengan Stephani. Wajahnya pucat pasi juga keringat yang bercucuran dapat terlihat oleh mata Dimas. Lagi lagi Dimas dibuat khawatir.
"Yang, kamu nggak pa-" Stephani jatuh pingsan sebelum Dimas menyentuhnya. Dimas panik langsung berteriak sehingga Marchel dan yang lain mendengarnya.
Mereka langsung mengangkat Stephani masuk kedalam mobil lalu berangkat menuju rumah sakit terdekat. Stephani langsung dilarikan ke ruang UGD sedangkan yang lain menunggu di luar.
Saat ini mereka sedang menunggu Stephani siuman. Dokter mengatakan bahwa Stephani baru saja mengalami tenggelam sekunder atau yang biasa disebut secondary drowning.
Secondary drowning terjadi ketika air masuk ke paru-paru dan mengiritasi lapisan paru-paru. Akibatnya, cairan menumpuk dan menyebabkan kondisi yang disebut edema paru.
Stephani yang malang terbaring di ranjang dengan teman teman di sekelilingnya. Mereka hanya menunduk dan tenggelam di pikiran mereka masing masing. Merasa kasihan pada Stephani yang terus menderita. Niat hati ingin menghiburnya dan lupa akan masalah malah membuat mereka jatuh kedalam masalah yang baru.
Stephani diperbolehkan pulang esok hari, jadi sebagian dari mereka akan menjaganya malam ini. Tentu saja Dimas sebagai sang kekasih yang akan menjaganya ditemani oleh Hazby, sedangkan yang lainnya pulang terlebih dahulu.
Suasana didalam mobil sangat sangat sepi bahkan mereka sendiri enggan untuk menghidupkan musik. Rima yang duduk sendirian di belakang hanya memandangi jalanan lewat jendela yang sengaja ia tutup. Melihat kakaknya yang begitu khawatir dengan Stephani membuatnya iri, ya walaupun dirinya sendiri tahu bahwa itu pacarnya namun Rima juga ingin sekali di perhatikan seperti itu oleh Dimas.
Tak lama mereka sampai di rumah. Bahkan turun dari mobil pun mereka masih membisu. Rima langsung menuju kamar dan mengunci dirinya disana, Arum yang tahu langsung memberi tahu kepada Marchel.
Tok tok tok !
Marchel mengetuk pintu kamar Rima dengan sangat lembut.
"Kenapa kak ?" Tanya Rima tanpa membukakan pintu untuk Marchel.
"Kamu kenapa, rim ? Boleh pintunya dibuka dulu ?" Bagi Marchel, Rima seperti adiknya sendiri. Semenjak Dimas dan Marchel dekat, Rima pun juga semakin akrab dengan Marchel. Rima pun tak sungkan sungkan untuk curhat tentang cowok ke Marchel ketimbang dengan kakaknya yang sibuk dengan pacarnya itu.
Pintu terbuka, Rima dengan wajah lesuhnya keluar sambil menundukkan kepala. Marchel langsung tahu bahwa Rima tidak sedang baik baik saja. Alih alih menanyakan ada apa gerangan dengan Rima, Marchel langsung memeluk Rima dan menyuruh gadis itu untuk menangis sepuasnya. Air mata Rima tak bisa terbendung lagi, ia memeluk Marchel dengan erat lalu menumpahkan segala kekecewaannya pada Marchel.
Melihat pemandangan tersebut, Arum yang berada di belakang mereka menatap sinis dengan tangannya yang mengepal. Hatinya sangat sangat memanas ketika melihat cara Marchel memeluk Rima dengan suka rela. Rasa cemburu ? Ya Arum mengakuinya, sudah lebih dari setahun Arum menyukai Marchel tanpa cowok itu ketahui. Dan selama menjadi temannya tidak pernah dirinya dipeluk oleh Marchel seperti itu.
Disisi lain, Stephani telah siuman dan kini ia tengah makan dan disuapi oleh Dimas. Kali ini Dimas memperlakukan Stephani lebih dari yang sebelumnya. Saat ini saja ketika Stephani ingin mengubah posisinya untuk duduk, Dimas dengan sigap menaruh piring yang tadi ada di tangannya hanya untuk membenarkan posisi bantal yang ada di belakang Stephani.
"Kamu kenapa sih ?" Tanya Stephani.
"Ha ? Nggak pa-pa, kamu butuh apa lagi biar aku ambilin, atau bantalnya kurang ? Bentar aku tanya dulu sama susternya." Dimas hendak beranjak dari tempat duduknya namun pergelangan tangannya ditahan oleh Dimas.
"Yang, aku nggak butuh apa-apa dan aku juga nggak pa-pa jadi stop khawatir." Dari mata Stephani masih terlihat wajah khawatir Dimas. Sama dengan wajah saat ia hampir tenggelam.
Dimas kembali duduk dengan tangannya memegang tangan Stephani, "gimana aku nggak khawatir, kamu sakit gara gara aku." Ujarnya sambil menunduk namun tangannya masih mengelus punggung tangan Stephani.
Sedangkan disisi lain, Rima dan Arum tengah menyusuri jalan pulang dengan motor. Rima menenteng kantong plastik berisi makanan untuk mereka bawa ke rumah sakit.
"Kamu deket banget sama Marchel ya, Rim ?" Tanya Arum disela sela obrolan mereka.
"Banget kak, semenjak kak Marchel temenan sama kak Dimas, aku sama kak Marchel jadi deket." Rima mengatakan hal tersebut benar benar dari lubuk hatinya yang paling dalam. Berkat Marchel, moodnya yang tadi hancur kini kembali ceria.
"Oh gitu"
"Kalau di tanya aku lebih sayang kak Dimas atau kak Marchel, aku akan jawab lebih sayang kak Marchel. Karena menurut aku yang lebih tahu diri aku sendiri itu ya kak Marchel." Sesudah Rima mengatakan hal tersebut hati Arum langsung kembali memanas, seharusnya ia tidak menanyakan hal bodoh itu.
Arum menggas motornya sedikit lebih cepat sampai Rima harus berpegangan pada bagian belakang motor. Dari kejauhan Arum melihat batu besar di pinggir jalan, dengan sengaja ia sedikit mendekatinya dengan kecepatan yang sama alhasil kaki kiri Rima terbentur oleh batu tersebut dengan sangat keras. Tanpa dosa Arum tetap melanjutkan perjalanan tanpa menghiraukan Rima yang merintih kesakitan.
"Kak, kaki aku berdarah." Sontak Arum langsung kaget. Kenapa dia sampai sejauh ini ?
Arum memberhentikan motornya lalu melihat kebelakang tepatnya ke kaki Rima yang kini mengeluarkan banyak darah.
Informasi tentang secondary drowning aku dapat dari popmama.com
KAMU SEDANG MEMBACA
PETAKA
HorrorSeperti Dejavu, kejadian 4 tahun lalu kembali terulang dan menghantui Marchel dan yang lainnya. Cerita 4 tahun yang lalu ternyata belum selesai, para iblis terus terusan menganggu mereka seakan menuntut balik apa yang mereka renggut. Stephani hanya...
