Chapter 6 : Sosok yang lain

379 65 10
                                        

        Setelah berunding dengan Toni, kakak Arum. Mereka telah memutuskan untuk melakukannya esok hari.  Mendengar cerita dari mereka, Toni menyimpulkan bahwa sosok tersebut akan keluar atau berulah saat Stephani sedang lelah. Tapi ini masih dugaannya.

      Keesokan harinya mereka memulai aksinya. Stephani pun sudah tahu tentang rencana mereka berkat Toni yang pelan pelan menjelaskannya pada Stephani.

" Yakin rum ini akan berhasil ? " Tanya Marchel yang berada di samping Arum. Rencana mereka hari ini akan membuat Stephani kelelahan. Dari tadi pagi Arum sudah mengajaknya joging keliling kampung kemudian sesampainya di rumah ia mengajaknya untuk bersih bersih rumah.

" Yakinlah, ini juga untuk kebaikan Stephani."

     Kali ini mereka akan mengajak Stephani belajar matematika. Ya tidak salah, matematika adalah pelajaran yang sangat sangat Stephani benci dan juga mata pelajaran itu lah kelemahannya. Marchel akan mengajari Stephani rumus pythagoras , dengan cara ini mungkin Stephani akan lelah mendengar penjelasan disana juga sudah ada Toni yang bersiap dengan bunga tujuh rupa dan juga seikat daun kelor.

    Sesi belajar di mulai, Marchel mulai menjelaskan sedangkan Stephani, Arum dan juga Toni mendengarkan. Tak butuh waktu lama Marchel selesai menjelaskan lalu memberikan soal masing masing Lima untuk dikerjakan. Layaknya belajar pada umumnya, disini mereka benar benar menjawab dan Marchel menjadi gurunya.

    Sepuluh menit berlalu namun lembar dari Stephani dan juga Arum masih kosong, keduanya saling beradu argumen rumus mana yang akan digunakan untuk soal nomor satu. Sedangkan Toni sedang menuju nomor 3 , jika dilihat lihat Toni cukup mahir dalam pelajaran ini.

    Arum dan Toni mulai merasakan aura yang tak enak, saling menatap satu sama lain. Tangan Toni sudah bersiap menggenggam erat daun kelor, sedangkan Arum bersiap siap untuk memegang kepala dan tubuh Stephani  Marchel menutup jendela dan pintu lalu keluar dari ruangan.

    Stephani tiba tiba terdiam dan sekilas matanya berubah menjadi hitam, ia menatap Toni dengan mata hitamnya sambil tersenyum. Dengan sigap Arum memegangi dan Toni langsung menampar Stephani dengan daun kelor sampai beberapa kali. Stephani menjerit kesakitan dengan suara yang agak berat pastinya itu suara dari mahkluk yang ada di dalam tubuh Stephani.

    Marchel dan yang lain mengintip dari jendela luar sambil menahan Dimas yang sedari tadi ingin masuk kedalam alasannya tak tega melihat Stephani yang menjerit kesakitan dengan pipi yang merah akibat daun kelor yang di tampar kan oleh Toni.

    Tujuh kali Toni melakukannya namun di tamparan terakhir jeritan itu berubah menjadi suara tawa puas. Sorot matanya yang tajam menatap Toni, Arum terhempas ke tembok akibat dorongan satu tangan kiri Stephani. Mahkluk kali ini sangat kuat, aura dingin menyelimuti ruangan. Toni masih terpaku dan tak tahu harus berbuat apa.

    Toni tercekik sampai tubuhnya terangkat.  Marchel mencoba untuk membuka pintu namun tak bisa. Mereka benar benar dalam bahaya  mahluk yang ada di dalam tubuh Stephani tak terkendali dan juga terlalu kuat.

"Kalian bukan lawan ku." Suara berat tersebut keluar dari mulut Stephani. Kemudian menghempaskan Toni kebawah.

    Toni melihat sesuatu yang aneh. Sosok perempuan berada tepat di samping Stephani sedang mengulurkan tangannya seperti meminta bantuan. Tak lama, Stephani ambruk pingsan dan hampir saja kepalanya mengenai sudut meja.Pintu terbuka dan Dimas langsung memeluk Stephani yang pingsan sedangkan yang lainnya menolong Arum dan juga Toni.

    Mereka semua terdiam, tenggelam di pikiran mereka masing masing. Stephani sudah sadar dan kini berada di pelukan Dimas. Cara mereka gagal. Ternyata bukan satu sosok saja yang ada di tubuh Stephani namun dua sekaligus. Ini yang membuat mereka tak habis pikir, bagaimana bisa dua sosok itu bersarang ditubuh Stephani.

    Keesokan harinya Arum mengajak mereka untuk pergi ke pantai. Hanya untuk melepas kejadian kemarin yang mungkin masih membuat mereka trauma apalagi dengan Stephani yang sejak kemarin dia menjadi pendiam. Mungkin ini berat sekali bagi seorang Stephani yang tidak mengerti apa apa. Dimas dan yang lainnya pun melihatnya merasa kasihan.

    Tujuan mereka kali ini adalah di pantai pulau merah yang terletak lumayan jauh dari rumah Arum. Arum menyiapkan segala barang yang sekiranya membuat mereka nyaman disana. Hari ini mereka harus membuat Stephani kembali ceria setidaknya hari ini dia melupakan kejadian kemarin.

"Wah gila! Bagus banget, kenapa baru ngomong sekarang kalo ada pantai secantik ini." Dimas mengambil kameranya lalu menyeret Stephani untuk dijadikan objek foto berlatarkan pantai dibelakangnya.

    Tawa Stephani melebar tat kala Dimas memotret dirinya dengan sesekali mencipratkan air padanya. Arum dan yang lainnya lega rasanya bisa melihat senyum itu lagi. Tak mau kalah dari pasangan Dimas dan Stephani, Hazby juga mengajak Rima sedikit menjauh dari tempat Marchel dan Arum berada untuk membuat sebuah istana pasir. Mungkin ini terdengar agak kekanak-kanakan namun mereka berdua senang melakukannya.

    Arum memperhatikan Marchel yang tengah mengambil gambar pemandangan lalu berujar, " sini biar gue yang foto in"

"Ah nggak usah, nggak bisa gaya gue." Marchel melihat sebentar hasil jepretannya dari ponselnya lalu memasukkannya kedalam kantong.

"Lo nggak mau foto gitu ?" Tanya Marchel yang melihat Arum hanya diam dan melihat kesana-kemari.

"Ngapain, udah sering gue kesini," ujarnya

"Gue tinggal ke toilet dulu ya." Marchel menitipkan ponselnya ke Arum dengan keadaan masih terbuka.

    Dikarenakan ponselnya yang terbuka Arum disana bisa melihat isi ponsel Marchel tak terkecuali wallpaper nya. Wanita cantik dengan rambut sebahu berpose manja dengan senyum lebar. Sesaat hati Arum berdenyut saat melihatnya, ada rasa yang sangat mengusik hatinya yang membuat ia tak suka dengan wanita yang terpampang di ponsel Marchel itu.

"Cih !" Umpatnya lalu mengganti wallpaper tersebut kembali ke settingan default. Tak lama dari kejauhan Marchel berjalan kearahnya Arum pun mematikan ponsel itu lalu membalikkan posisinya kebawah.

    Disisi lain Dimas dan Stephani duduk berdua dibibir pantai dengan Stephani yang melihat hasil jepretan sang pacar. Dimas melihat lihat sekitar sampai matanya tertuju pada perlengkapan snorkeling.

    Singkat cerita Dimas menyewa dua perlengkapan snorkeling untuk dirinya dan juga Stephani. Dimas bisa melihat senyum bahagia Stephani saat dipasangkan alat ditubuhnya.

"Nggak nyangka kak Dimas bisa se romantis itu." Rima melihat kakaknya yang sedang membantu Stephani memasang alat snorkeling dengan senyum yang mengembang.

"Manis banget," Hazby melihat Rima dari samping seakan terhipnotis oleh senyuman manis Rima tak sadar Hazby ikut tersenyum.

"Iya manis banget," ujar Rima

"Kamu manis."Rima menoleh dan mendapati Hazby yang menatapnya dengan mata berbinar. Entah apa yang sedang ia lakukan namun kata kata Hazby tadi membuat jantung Rima berdetak lebih cepat.

Tak sadar mereka saling menatap satu sama lain, baik Rima ataupun Hazby tak mau memalingkan wajahnya. Sampai tiba tiba Hazby mengecup sekilas bibir Rima lalu meninggalkannya menuju Dimas yang sedang kesulitan memasang alat. Sedangkan Rima yang baru saja mendapat ciuman masih tak sadar dengan mata yang terbelalak. Tubuhnya membeku juga jantungnya melaju lebih cepat. Rima menyentuh bibirnya, ciuman pertamanya telah diambil namun hatinya merasa sangat sangat senang sampai sampai pipinya saat ini memerah.

Ps : untuk kalian pembaca baru, aku saranin baca dulu cerita aku yang sebelumnya biar nggak bingung alur kedepannya karena bakal ada sedikit flashback nantinya. Sekian terimakasih :)

PETAKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang