Entah ini kabar baik atau buruk, Marchel masih tak mengerti. Di sisi lain dia senang ternyata Balqis masih ada walau hanya arwahnya saja namun, dia juga sedih mendapati fakta bahwa arwah Balqis masih terjebak di sana.
Marchel hendak menceritakannya kepada Hazby namun terhenti karena handphone nya yang berdering. Stephani. Marchel menggeser ikon telepon ke warna hijau.
"Mau temenin gue ke rumah Pak Agus lagi nggak?"
"Lo kenapa, Phan?" Ada yang aneh dengan Stephani.
"Gue ketemu sama Maya."
Keesokan harinya mereka. Stephani dan Marchel, sepakat untuk bertemu di depan rumah Pak Agus. Mereka sengaja untuk merahasiakan ini pada teman temannya. Marchel juga menceritakan tentang Arum yang merasa arwah Balqis masih terjebak.
"Mau sekarang aja?" Seru Stephani.
Mereka berdua masuk kedalam, rasanya masih sama, bau debu yang menyeruak juga tekanan tenaga yang luar biasa.
"Lo bisa manggil Maya, Phan?" Tanya Marchel memecah hening. Mereka berdiri di ambang pintu, mengucap doa sebelum melangkah lebih dalam.
"Kalo manggil gue belum bisa, tapi Dia bakalan masuk kalau gue dalam bahaya."
"Apa ini tempat masuk ke dunia lain?" Tanya Marchel. Stephani mengangguk.
Tadi pagi. Stephani menemukan buku catatannya terbuka di atas meja rias yang ternyata sudah banyak sekali tulisan.
Kamu tidak boleh berurusan lebih lama dengan mereka. Mereka bukan tandinganmu ataupun tandinganku, sebaiknya cepat cepat selesaikan.
Salah satu temanmu masih terjebak di sana. Pergilah ke pintu gerbang utama, selamatkan arwahnya yang menjadi sandera. Aku akan melindungi mu dengan seluruh jiwaku.
Candramaya.
Stephani tersentak kaget. Mungkin ini saat nya dia bisa mengakhiri. Stephani mulai sadar, kejadian 4 tahun yang lalu belum sepenuhnya usai. Dia harus membebaskan Balqis apapun caranya.
Dibawah kasur. Tempat tujuan mereka. Dengan hati hati mereka berdua menyusuri setiap kamar yang ada. Tiga kamar yang sudah mereka buka semuanya kosong tak ada perabotan sama sekali, tinggal satu kamar yang tersisa. Kamar paling ujung dekat dengan dapur.
Marchel menggenggam ujung kenop berkali kali. Sial! Ini terkunci. Mau tak mau Marchel Harus mendobraknya.
Brak!
Kling!
Suara pintu yang bertabrakan dengan tembok di susul dengan suara besi kecil jatuh. Ternyata grendel dari pintu itu copot. Sebentar. Berarti pintunya dikunci dari dalam? Bagaimana bisa? Kamar tersebut tidak ada jendela lalu bagaimana bisa pintu terkunci dari dalam sedangkan tak ada seorangpun di sana. Atau memang ada orang?
Bau debu menyeruak membuat Stephani menutup hidung nya. Bau debu ini lebih kuat dari kamar kamar yang lain.
Mereka berdua masuk. Menatap sekeliling mencoba mencari sesuatu. Hanya ada balai balai atau alas tempat tidur. Tak ada perabotan lain. Marchel mencoba untuk menghidupkan lampu dengan menekan saklar. Lampu yang memancarkan cahaya kuning itu beberapa kali hidup mati lalu hidup kembali dengan cahaya yang agak minim.
"Mungkin di bawah sini." Marchel berseru.
"Mau coba geser?" Timpal Stephani.
Letak dari tempat tidur itu sendiri berada di tengah tengah, benda tersebut tidak terlalu besar ataupun kecil, namun kalau Marchel sendiri yang mendorongnya mungkin agak kewalahan. Dengan hitungan satu dua tiga, mereka mendorong tempat tidur itu. Berhasil! Mereka bisa melihat dua pintu kecil tertanam di sana. Apa ini yang di namakan gerbang menuju alam lain?
KAMU SEDANG MEMBACA
PETAKA
HorrorSeperti Dejavu, kejadian 4 tahun lalu kembali terulang dan menghantui Marchel dan yang lainnya. Cerita 4 tahun yang lalu ternyata belum selesai, para iblis terus terusan menganggu mereka seakan menuntut balik apa yang mereka renggut. Stephani hanya...
