Akhir; Sebuah Kontemplasi Rasa

8.4K 1K 191
                                        

Segelas susu coklat telah menjadi sahabat setia Winter selama satu tahun belakangan ini

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Segelas susu coklat telah menjadi sahabat setia Winter selama satu tahun belakangan ini. Ketika hujan turun, gadis bersurai pirang itu akan menyempatkan diri untuk terduduk di balkon kamar sembari menyeruput cairan berwarna coklat pekat itu. Sedangkan netranya akan sibuk memandang jalanan kota Pemalang yang tampak basah oleh tetesan air hujan.

Saat itu pula, Winter akan termenung seraya mengingat beberapa momen yang telah terjadi antara dirinya dengan gadis relawan bernama Karina Asmaraloka satu tahun yang lalu.

Tepat pada siang hari yang kelam ini, Winter kembali mengingat saat dirinya menelepon Karina untuk pertama kalinya. Mengingat suara lembut gadis itu yang mampu membuat jantungnya berdetak kencang tak terkendali.

Bahkan untuk saat ini; Winter masih saja tak bisa mengontrol detak jantungnya sendiri tatkala ingatan itu kembali terbayang. Gadis berkaus putih itu melirik kearah kamarnya, senyuman manisnya terukir saat kedua matanya beradu dengan sebuah papan gabus yang tersampir rapi di bagian dinding kamar bercat putih gading.

Papan gabus yang ia buat secara sengaja untuk mengingat segala sesuatu tentang Karina Asmaraloka.

Winter berdiri dari duduknya, langkah mungilnya berjalan kearah papan gabus buatannya sendiri. Benda berbentuk persegi panjang itu terlihat cantik penuh warna karena Winter tempeli kertas manila kecil yang mempunyai warna berbeda-beda. Setiap kertas kecil tersebut terdapat deretan huruf yang dapat terbaca dengan mudahnya. Kata-kata yang pernah Karina katakan padanya, dan Winter menulisnya diatas kertas tersebut agar bisa selalu ia ingat.

Gadis bernetra amber itu tersenyum tipis, kembali mengingat penggalan kata-kata manis dan menohok dari Karina tepat saat setelah keduanya pulang dari kedai bubur kacang hijau Bu Karsi satu tahun yang lalu.

"Win, saya boleh minta empat hal sama kamu?"

Karina bertanya setelah dirinya berhasil membukakan pintu mobilnya untuk Winter, jaketnya terasa agak lembab karena terkena tetesan gerimis yang masih setia turun. Tak deras, tetapi mampu membuatnya menggigil. Sedangkan gadis yang ditanyai baru saja keluar dari mobil, memposisikan diri tepat di depan daksa menjulang Karina.

"Kenapa harus empat?" Begitu tanyanya membuat gadis yang lebih tua mengernyitkan dahi. "Kamu keberatan?"

Winter terkekeh sembari menepuk-nepuk jaket bagian bahu kiri Karina, lantas menggeleng sambil menyunggingkan senyum andalannya hingga sebuah lesung tipis di pipi kirinya terlihat. "Bukan maksud saya keberatan, Kak. Bahkan saya bisa ngasih kakak lebih dari empat hal. Kak Karina minta seratus hal pun, saya akan berusaha sanggupi."

Efek kupu-kupu yang sebelumnya Karina rasakan di kedai Bu Karsi, kini ia rasakan kembali. Sepertinya Winter benar-benar memiliki niat untuk membunuh Karina malam ini dengan berbagai perkataan manis yang keluar dari bibir mungilnya. Karena sadar atau tidak, penggalan kata yang Winter katakan selalu berhasil membuat pair jantungnya bergerak tak berirama.

Quora [Completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang