Extra Part; Anjangsana Anandya pada Bentala Amerta

12.6K 1K 291
                                        

Hai? Ada hadiah kecil dari aku untuk kalian yang rindu dengan Quora. Jangan keseringan rindu ya? Berat soalnya, kalian gak akan kuat. Biar aku saja, ok skip. Selamat membaca dan selamat ulang tahun untuk orang-orang yang lahir di bulan Juni.

.
.
.

Pada bulan Oktober 2 tahun yang lalu, Karina mengatakan sebuah tekad. Tekadnya untuk mempertemukan Winter dengan anak-anak di sekolah Bentala Amerta, tentu saja hal tersebut bukanlah sebuah bualan pelega rasa. Karena pada bulan Juni tepat pada usia 3 tahun hubungannya terjalin dengan Winter, Karina membayar tuntas semuanya.

Dengan ditemani semilir angin dan suara tanah becek akibat hujan yang mengguyur Asmat semalam; Karina tidak bisa lagi menahan kurva senyumannya. Hari masih menunjukkan pukul 9 pagi, tetapi Karina merasa jika saat ini malam tengah menyerang dunianya.

Bukan terasa gelap gulita tanpa penerangan, hanya saja Karina merasa seperti sedang mendapatkan bintang jatuh. Tatapannya yang sedari tadi terpusat pada jurai pepohonan matoa, kini beralih pada sosok yang saat ini tengah tertidur pulas di sampingnya. Senyuman Karina semakin melebar, beberapa kilas balik yang pernah terjadi di Pemalang kembali memenuhi ingatannya.

Dulu Karina ingat sekali ketika ia berkata, "Suatu saat nanti jika Tuhan mengijinkan, saya bakal pulang kembali ke Pemalang buat jemput kamu. Bersabar lebih lama lagi buat ketemu sama Missael, ya?"

Dan saat ini, dirinya berhasil merealisasikan perkataannya itu. Haruskah ia merasa bangga?

"Biasa aja kali natap Winternya, dia gak bakalan ilang, Rin."

Karina kelabakan, kali ini tatapannya tidak lagi terpusat pada wajah tenang Winter yang sedang tertidur. Sambil sesekali merutuki dirinya sendiri di dalam hati, Karina mencoba mengedarkan pandangannya ke arah lain. Tetapi sialnya ia tidak bisa, mencoba membuang pandanganpun; fokus matanya hanya ingin jatuh pada Winter.

Iya, Winter. Manusia yang sejak 2 jam yang lalu tertidur dengan menyandarkan kepala di bahunya adalah Anandya Winter. Barangkali penerbangan yang gadis itu lakukan dengan Karina dari Semarang ke Asmat telah berhasil membabat habis energi yang ia punya.

Maka saat telah sampai di Asmat guna melanjutkan perjalanan secara langsung menuju Simsagar dengan sebuah mobil Mitsubishi Expander; Winter memilih untuk tidur. Hal yang diam-diam membuat wajah Karina tergores aura kemuraman, karena jujur saja; rindunya yang telah menggunung belum dibayar lunas oleh Winter karena gadisnya itu tampak kelelahan.

Ah, masih ada banyak waktu yang tersisa. Pun ketika waktu yang tersedia cukup terbatas, Karina tidak akan pernah egois. Winter pasti lelah, karena itulah Karina membiarkannya tertidur.

Suara gelak tawa Giska dan Niranjana selaku manusia yang menjemput Karina di Asmat terdengar konsisten di dalam mobil, ia merasa tengah diejek habis-habisan karena telah memandangi Winter begitu lekat. Namun di sisi lain Karina juga mencibir teman sekomunitasnya itu, mereka berdua tidak tahu saja apa yang saat ini Karina rasakan.

Mungkin jika Giska dan Niranjana tahu bagaimana sulitnya mengendalikan gejolak rindu pada seseorang setelah beberapa tahun tidak bertemu; mereka berdua pasti akan melakukan hal yang sama seperti apa yang Karina lakukan.

"Gila, aku dari tadi di belakang kayak obat nyamuk. Berasa lagi cosplay jadi angin," celetuk Niranjana yang memang posisi duduknya berada di samping Karina. Sontak saja celetukan dari gadis berambut coklat itu dihadiahi kekehan dari Giska.

"Udahlah, Ran, biarin. Kebiasaan pasangan LDR kalo udah ketemu mah gitu, kamu gak tau apa-apa. Diem, ya?" Giska berseloroh.

Lalu gadis itu kembali tertawa bersama Niranjana. Tampak puas betul telah berhasil melukiskan semburat merah jambu di kedua pipi rekan seperjuangannya. Hingga tidak mempedulikan eksistensi pria berkumis tipis sebagai supir yang saat ini tengah berusaha mengendalikan laju mobil beroda cakar di atas jalanan berlumpur.

Quora [Completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang