Masih Bersamanya

26 1 0
                                        

Kubuka ponsel untuk melihat semua notifikasi yang masuk.

[Yang, dimana? Sudah di rumah Mama?] pesan dari A Raihan yang selalu kutunggu.

[Iya, aku di rumah Mama. Kenapa, A?] balasku begitu selesai membaca pesannya. Terpaksa berbohong agar A Raihan tak menaruh curiga.

[Aa gak jemput hari ini. Gak 'papa?] balasnya kemudian.

[Gak 'papa.]

Aku seperti kehilangan mood setelah dikabari A Raihan.

Kutekuk mukaku. Rasa malas menjalar hingga ubun-ubun bahkan sekadar untuk melihat ponsel. Kupikir A Raihan bersedia untuk cape sedikit lagi, tentu untuk menjemput keluarganya sendiri.

"Tan! Minum?" Tio yang datang tiba-tiba menyodorkan sebotol air mineral.

Kuambil air mineral itu, kubuka dan langsung kuminum seperempatnya. Haus dahagaku hilang, tapi tidak dengan haus kasih sayangku.

"Makasih, A." Kalimat yang meluncur dalam mulutku pun rasanya sangat berat untuk sekadar kuucapkan.

"Kamu kenapa? Ada masalah?" Tio duduk di sampingku. Tentu ia ciptakan jarak diantara kami.

Aku meliriknya.

"Anak-anak sedang bermain," kata Tio yang seperti paham maksud tatapanku.

Kutarik napas untuk menghalau air mata yang siap menggenang.

"A Raihan gak bisa jemput ...," nada suaraku semakin mengecil volumenya, karena aku pun malas untuk berbicara terlebih lagi membahas hal yang membuatku akhir-akhir ini merasa bosan.

"Oh ... ya sudah, aku anterin," enteng kalimat yang dia ucapkan. Wajar, karena dia tak tahu apa yang sedang mengerubungi hatiku kini.

"Gak, A. Aku mau pulang ke rumah Mama aja." Tak sedikit pun aku melihat Tio.

"Kalo kamu punya masalah, boleh cerita, kok. Aku siap jadi pendengar setia," tawarnya. Aku sedikit tertarik.

Kupikirkan dalam-dalam kalimatnya. Aku tak perlu berbicara dengan Tio tentang apa yang kurasa. Takut membuka celah dirinya untuk semakin masuk ke dalam bahteraku.

Harusnya aku bicara tadi saja kepada Rena. Itu lebih baik. Tidak, aku lebih baik cerita sama Mama saja.

Kucoba bertanya sedikit tentang hobi bagi kaum pria kepada Tio. Seingatku, Tio tak memiliki hobi apapun. Entah jika sekarang.

"Dipandangan kaum pria, hobi tuh kayak gimana, A?" tanyaku dengan wajah tak lagi menunduk. Kulihat kedua anakku yang sedang berlarian di arena bermain.

"Hobi apa?" Tio belum menangkap maksudku rupanya.

"Laki-laki senang main bola, futsal, mancing, bersepeda, itu hobi 'kan namanya? Menurut pandangan Aa sebagai laki-laki, itu gimana?" sedikit menjelaskan.

"Em ... hobi, ya biasa aja. Kalo bosen ya kita bisa bermain dengan hobi. Tapi, untuk aku, saat ini gak punya hobi. Kalo ada yang ngajakin, ya aku pergi. Kalo lagi mood. Kalo gak mood, ya aku nolak ajakan mereka," Tio mengangkat bahunya.

Aku coba olah kalimat Tio tentang pandangannya soal hobi. Apa mungkin A Raihan bosan terhadapku?

Aku tak percaya jika A Raihan bosan denganku. Mungkin ia bosan dengan aktivitasnya saja.

Aku terus bersenandika.

"Tan! Halo ...," suara Tio membuyarkan semua aksara yang sedang antri melintas dalam benakku. Ia memandangku seraya mengibas-ngibaskan tangannya depan wajahku.

"Ma-maaf, A."

"Kamu ada masalah? Suami kamu lagi sibuk sama hobinya?" Tio menerka.

Aku hanya bisa mengangguk.

Terjerat MantanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang