Sekilas Masa Lalu

14 0 0
                                        

[Gina punya pria idalam lain.]

Mataku membulat sempurna membaca pesan Tio untuk yang kesekian kalinya.

Kini ia sudah berhasil membuatku bimbang. Sebaiknya aku menghubungi Gina saja, sekadar memastikan.

Sekali aku hubungi Gina, ia tak mengangkat panggilanku. Kedua kali ku-dial nomornya masih belum mendapat respon.

"Hayo!" terlonjak badanku seketika saat lengan A Raihan mendarat cepat di bahuku. Pikiran sedang melalangbuana merenggut fokusku dengan keadaan sekeliling.

"Kamu ngapain sih, Yang ...? Dari tadi Aa salam gak dijawab-jawab ... untung gak dikunci pintunya ...," A Raihan kini memelukku, mengambil ponsel di tanganku lalu diletakkannya di meja.

"Lagi telepon Gina, tapi gak diangkat-angkat, A ...."

"Anak-anak mana?" A Raihan bertanya dengan netranya menyisir setiap sudut ruangan.

"Tidur, A. Baru aja."

"Tumben mereka tidur jam segini? Ya sudah, yuk!" A Raihan menatapku lekat. Fokus matanya cukup membuatku terpesona, ajakan yang bukan sekadar ajakan biasa yang ia coba utarakan.

"Yuk, apa, Aa?"

"Ekhm ...," Mata A Raihan mengerling membuatku malu.

Ia menarikku lembut dan membawaku ke dalam ruangan privasi kami. Di sinilah tempat kami menghabiskan waktu bersama, menumpahkan segala rasa, pun tempat kami memadu cinta.

Tak ada rasa yang bisa tergambar jika waktu telah berpihak sepenuhnya kepada kami. Debaran dan sentuhan mendominasi agar kami sama-sama segera menuju puncak cinta.

A Raihan ... pria yang selalu setia dan berjuang untukku seorang ...

"Terima kasih, A ...," bisikku lembut tepat di telinganya.

Enam tahun yang membahagiakan adalah hidup bersama A Raihan. Takkan kubiarkan siapa pun hadir di tengah-tengah kami. Aku merasakan setiap kasih sayang dan cinta yang semakin besar tiap bergulirnya waktu.

"Terima kasih untuk apa?" tanya A Raihan.

"Terima kasih sudah membuatku harus ... mandi shubuh lagi ...," candaku, A Raihan terkekeh.

Lalu kami pun beranjak hendak membersihkan diri.

Aku kembali menghubungi Gina setelah kewajibanku tertunaikan. Masih belum ada respon terhadap panggilanku. A Raihan menghampiriku dan mengajakku untuk rebahan di peraduan.

"Ayang kenapa kok terus hubungi Gina? Kan, ada besok. Sepenting itu, ya?" A Raihan menarikku untuk rebahan di dadanya.

"Em ... enggak penting ... tapi aku penasaran sesuatu, A ...," jawabku cukup terbata-bata, sepertinya A Raihan sudah mulai penasaran untuk kelanjutannya, terlihat dari matanya yang terfokus penuh ke arahku.

"Bener?"

"Iya, deh, aku cerita ... tapi sambil masak mie, yuk!" aku beranjak dari posisi ternyamanku, menarik lengan A Raihan untuk menurutiku.

Dia kemudian mengulum senyuman dan bangkit mengikutiku menuju dapur.

Sejurus kemudian mie instan kuah sudah tersedia di meja. Aku memasak satu bungkus mie instan rasa empal gentong. Kutambahkan cuciwis, timun, tomat dan cabe rawit hijau.

"Seperti biasa, ini bukan masak mie pake sayur, tapi masak sayur pake mie!" A Raihan membuka suara ketika semangkuk mie sudah di hadapannya dengan uap yang masih mengepul.

Aku memang biasa memasak mie dengan sayuran, malah lebih banyak sayurannya dibandingkan dengan mie-nya. Tak pernah ada protes sedikit pun dari A Raihan, mungkin dia sudah terbiasa dengan selera istrinya.

Terjerat MantanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang