Terpaksa jadi Mak Comblang

24 0 0
                                        

Hari ini aku membuat janji temu dengan teman lamaku. Tepatnya teman sebangku waktu duduk di kelas 7 hingga kelas 9. Ya, teman SMP. Gina namanya. Lama kami tak bertegur sapa karena dia bukan tipe orang yang senang mengikuti tren. Dia cenderung pendiam dan punya kesibukan sendiri.

Ketika booming sosial media, aku coba ketikkan namanya di kolom pencarian, hasilnya nihil. Aku tak meneruskan pencarian, karena aku yakin Gina tak ikut-ikutan.

Hingga akhirnya kami dipertemukan oleh aplikasi dengan logo f berwarna biru. Aku memasang nama asliku di profil, sehingga teman-teman dan karib kerabatku bisa dengan mudah menemukanku. Tak terkecuali, Gina.

Dia menyapaku lewat messenger dan meminta nomor WhatsApp-ku agar kami bisa leluasa bertukar pesan. Katanya dia rindu tertawa riang dan bersenda gurau menghabiskan waktu denganku. Aku pun rindu dia, karena setahuku dia bekerja di luar kota kata temanku yang lain.

Kami bertukar pesan tentang aktivitas masing-masing dan kuketahui ternyata dia masih berstatus single alias belum menikah. Aku pun teringat tentang Tio --mantanku-- yang meminta dikenalkan dengan teman atau saudaraku. Aku mulai mencocokkan kepribadian Tio dengan Gina. Mungkin mereka bisa saling kenal terlebih dahulu, selebihnya aku biarkan mereka untuk memutuskan bagaimana kelanjutannya.

Kami janjian di sebuah kedai kopi yang cukup terkenal di kotaku. Sebelum menyanggupi aku meminta izin suamiku terlebih dahulu.

Senangnya saat suamiku mengizinkan aku untuk pergi me time, dia tentu akan mengantarku dan anak-anak dia yang pegang. Kalau suamiku sedang tak banyak kerjaan dia memang selalu mengambil alih peranku untuk menjaga anak-anak. Dia mengerti betul bagaimana rasanya menjaga anak-anak setiap hari.

Dia selalu bilang, "ini anak kita, makanya aku juga harus sesekali full time menjaga anak-anak."

Meskipun tak sering dia lakukan hal itu, tapi aku selalu bersyukur karena dia tak pernah menyepelekan tugasku yang satu itu.

Pukul 04.00 aku terbiasa bangun, semua aktivitasku harus kukerjakan dengan cepat. Aku tak bisa mengerjakan apapun jika Rayyan sudah bangun dan bermain, fokusku hanya tertuju padanya saja, dia memang sedang aktif-aktifnya. Karena hari ini ada janji, jadi aku mengerjakan semua tugasku harus lebih cepat dari biasanya.

Pukul 06.00 nasi sudah matang dan masak pun sudah selesai. Aku sudah biasa sarapan dengan A Raihan sekitaran jam segitu, karena anak-anak belum bangun jadi aku bisa makan dengan tenang. Kadang kalau anak-anak sudah bangun, aku sulit untuk makan dengan benar karena harus memperhatikan Rayyan atau menyuapi Shanum.

Sepanjang sarapan aku tak henti memikirkan bagaimana caranya agar Gina mau berkenalan dengan Tio.

Pikiranku tiba-tiba berkelana saat masa SMP dulu.

Gina disukai oleh teman seangkatan yang berbeda kelas, Deni namanya. Kelas kami bertetangga. Sebelum Deni menyatakan perasaannya terhadap Gina, mereka sering iseng dan bercanda bersama kala waktu istirahat tiba. Deni orangnya supel, bertemu orang baru pun ia mampu mencairkan kekakuan yang tercipta, apalagi dengan kami yang bahkan setiap hari bertemu.

Tepat setelah mengetahui perasaan Deni terhadapnya, Gina tak masuk sekolah, di surat izin tertulis alasannya karena sedang sakit. Aku menjenguk setelah dua hari ia tak masuk, ingin memastikan bahwa keadaannya baik-baik saja.

Dan benar saja, waktu aku bertandang ke rumahnya, ia sedang asyik nonton ftv remaja sambil makan keripik singkong.

"Sehat gini kok gak masuk?" selidikku sambil mencomot beberapa keripik singkong yang ia pegang.

"Aku gak enak badan kok ...," dengan suara agak bergetar, aku menangkap matanya yang menyiratkan ada sesuatu yang ia tutupi.

"Coba aku cek ...," aku tempelkan lenganku di dahinya, "ah kamu baik-baik aja, kok ...."

Terjerat MantanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang