"Nanti aja ambilnya kalau gitu, tunggu Aa selesai ketemu konsumen!" aku merebahkan diri di sofa, hanya solusi itu yang terlintas saat ini.
"Dia bisanya pagi ini, Yang ...," kulihat muka A Raihan kusut, aku menikmati ekspresi itu. Saking gak tenangnya dia kalau istrinya harus ketemu mantan tanpa dia, pikirannya dipaksa bekerja keras agar keluar sebuah solusi yang enak di dia dan enak di aku.
'Suamiku sangat mencintaiku, senangnya ....' batinku.
"Masa harus aku yang berangkat, A?" tanyaku kepada A Raihan kemudian. Mukanya menyiratkan ekspresi kaget, matanya membulat sempurna.
Lalu dia menunduk dan memegangi kepalanya, "Aa juga bingung. Mantan kamu juga susah amat diminta buat datang ke rumah Mama!" serunya kemudian merengut di sampingku.
"Ih apa deh! Jangan bawa-bawa kata man-tan-a-ku! Masa lalu itu, dan sudah ku buang pada tempatnya," timpalku.
"Ya sudah gini deh ... Ayang berangkat saja sama Rayyan, Shanum biar aku bawa ketemu konsumen ...," titah suamiku, dia memperhatikan Rayyan berjalan-jalan kesana-sini sambil bawa mainan truknya.
"Seriusan?!" kini aku yang terhenyak, "aku malas ketemu dia, A! Aku mimpi apa semalam, sampe harus ketinggalan ponsel di mobil dia," badanku tiba-tiba saja mager mengingat aku harus keluar dari rumah meskipun untuk mengambil ponselku. Masalah yang lebih pentingnya bukan itu, tapi orang yang harus aku temui itu.
"Udah, jangan diambil pusing! Kamu berangkat aja ambil ponsel kamu! Jangan diemin lama di Tio! Nanti kalau ponselnya disalah gunakan, kamu mau?" aku mulai berpikir buruk mendengar penuturan A Raihan.
"Ya sudah, jam berapa Aa janjian sama dia?" aku bangkit dari kursi, bergegas siap-siap. Rayyan sudah aku mandikan dan tinggal aku pakaikan sepatu saja.
"Sekarang aja! Siang dia katanya ada acara, gak bisa ketemu."
Aku kemudian segera bersiap. Tak perlu berdandan, aku hanya tinggal mengganti dasterku dengan gamis. Aku terbiasa mandi shubuh, semalam ada 'pertempuran sengit', jadilah pagi-pagi aku sudah segar dan merias diri karena semula A Raihan akan pergi bersamaku menemui Tio.
Masker, handsock, kaos kaki, dan sneaker aku pakai. Karena kali ini jelas aku akan bertemu dengan pria bukan mahrom.
'Yaa Allah semager ini aku mau ketemu mantan ....' gumamku dalam hati.
Bagaimana aku tidak malas untuk ketemu Tio, mengingat dulu dia sangat menyia-nyiakanku. Memberiku janji akan melamarku sesegera mungkin, tapi kenyataannya dia malah berleha-leha dan aku temukan fakta lain bahwa dia lebih senang berkawan dengan gadis-gadis single.
Hanya sekedar hangout bilangnya, gak ada ikatan asmara kilahnya, tapi aku merasa dikhianati. Janji akan mengajakku ke pelaminan, namun bualan itu justru membuatku semakin berharap.
Sekarang saat aku sudah bahagia, dia seolah ingin masuk dan merusak kebahagiaan yang sudah lama aku rajut ini.
Ah, aku tak ingin lebih dalam memasuki angan masa lalu. Hanya akan membuka luka lama dan aku akan jelas kehilangan mood jika itu terjadi.
Bergegas aku menyiapkan kebutuhan Rayyan dan kukemas rapi ke dalam tas bayi. Tempat yang Tio janjikan berjarak kurang lebih 20 kilometer dari rumahku dan sekitar 10 kilometer dari rumah Mama. Rencananya pulang bertemu Tio aku akan ke rumah Mama dan menunggu A Raihan menjemputku.
"Aa ... kalo sudah selesai, sesegera mungkin jemput aku, ya! Aku malas kalau harus naik angkutan umum. Takut Rayyan kegerahan dan nangis lagi," pintaku kepada A Raihan.
"Iya ... Aa pasti segera jemput. Tunggu aja di rumah Mama!" jawab A Raihan sembari menyuapkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya.
"Hm ... aku males banget padahal, buat berangkat. Kenapa gak gosend aja sih, A?" aku memberikan ide lain.
KAMU SEDANG MEMBACA
Terjerat Mantan
RomansaBagaimana kalau kamu dipertemukan dengan mantan kamu 10 tahun yang lalu? Apakah yang akan kamu lakukan? Adakah cara untuk menghindarinya? Cek, yuk! Drama ringan rumah tangga. jangan lupa follow dulu!
