Inggit Arum Priyanti itu perempuan ceroboh, teledor, anaknya jahil dan nggak bisa diam sekadar lima menit saja.
Itu dulu, sebelum Inggit menemukan anak manusia yang masih bergelimang darah di tempat sampah dekat indekosnya. Inggit mampu mengubah ke...
Tak ada sahutan apapun dari luar sana. Sekali lagi Inggit dan Ibu saling berpandangan. "Biar Inggit yang lihat, Bu."
"Jangan lupa bawa calon kamu pas acara hari H, ndak mau tau pokoknya, kalo kamu ndak bawa, Ibu jodohin sama—"
"Iya, nanti Inggit bawa." Sekalian sama keluarganya biar langsung nikah, lanjut Inggit dalam hati.
"Ya sudah, nanti kamu ke sini lagi. Bawain teh anget sama kue yang ada di atas kulkas, Bu RT tadi maksa banget biar Ibu beli dagangannya."
Inggit hanya bergumam pelan, ia masih penasaran dengan sosok yang telah menguping pembicaraannya dengan Ibu tadi. Masa sih, Pak Dharma nguping? batinnya heran.
Ruang tamu kosong, Bapak dan Pak Dharma di teras rumah pun tidak ada. Inggit mengedikkan bahu, ia berjalan ke dapur untuk membuatkan teh milik Ibu. Fyi, dapur milik keluarga Inggit tidak sebesar dan semegah dapur milik Pak Dharma. Sambil menunggu airnya panas, Inggit membuka kulkas dan mengambil air dingin, mendadak ia merasa hawa disekitarnya terasa panas.
"Gue menang, mana nomor teleponnya?"
"Astaga!"
Bisikan seseorang itu membuat ia termundur hingga menabrak meja. Jika pria dihadapannya ini tak sigap, mungkin gelas kosong tadi akan jatuh dan mengenai kakinya.
"L-lo ngapain di sini?"
Panji terkekeh pelan, menarik kursi lalu duduk. Sikapnya yang tenang justru membuat Inggit makin siaga. "Lo beneran nggak ingat sama gue?"
"Apa sih, jangan aneh-aneh deh. Kita kan emang nggak kenal. Gak usah sok akrab juga."
Panji yang tiba-tiba berdiri membuat Inggit mundur perlahan, pria itu merogoh saku dan mengeluarkan sebuah benda. "Masih belum ingat?"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
(Source: pinterest)
Walaupun warna hitamnya nyaris memudar, bentuk kura-kura itu mengingatkan Inggit pada kejadian beberapa tahun silam.
"T-tunggu!" Bocah yang memakai seragam merah putih itu tampak kepayahan saat mengejar temannya.
"Panji gendut, Panji genduuut."
Sorakan ramai-ramai itu sudah tak asing lagi untuk Panji. Tanpa menghiraukan gelak tawa yang kian mengusik telinga, ia masih berusaha mengatur napas karena mengejar teman-temannya yang membawa sebelah sepatu miliknya.
Untuk ukuran bocah SD, berat tubuh Panji memang melampaui batas, tinggi tubuhnya yang memang tidak seberapa membuat anak itu terlihat seperti bola bèkel yang seakan menggelinding saat berlari.