"Kita tidak berpisah dengan jarak. Melainkan berpisah dengan waktu"
"Ma Arda mau berberes dulu" Mama Arda mengangguk, Arda segera keluar kamar mamany. Menyiapkan pakaian tidurnya.
"Tani" Mama Arda menjulurkan tangannya. Dengan segera Laya memeluk mama Arda.
"Terima kasih Tani" Dengan suara isakan di pelukan Laya. Mama Arda menangis.
"Tentang apa tante? "
"Kamu telah membantu menjaga Arda. Keluargamu sangat baik Tani."
"Kita adalah sepupu tante, jadi itu sudah hak Arda dan kewajiban kami" Laya semakin mengeratkan pelukan mama Arda.
Suara ketukan high heels yang berjalan menngarah terus mendekat. Kini suara high hells tersebut terhenti.
"Tante! " Pelukan Laya dengan mama Arda pun terlepas.
Laya masih membenarkan posisinya, dirinya masih dalam keadaan menunduk. Laya bangkit.
"Tante aku mau berberes dulu" Di jawab anggukan oleh Mama Arda. Saat Laya berbalik, dirinya melihat kaki jenjang seorang perempuan, dengan high heels merahnya. Laya menelusuri tubuh perempuan ini. Saat ini perempuan ini mengenakan pakaian dress mininya dengan blazer berwarna hitamnya. Dan terakhir ke arah muka.
Laya melempar senyum ke arah Maha. Tetapi senyum yang sedikit kaku dan mengejutkan. Maha membalas senyuman Laya, dengan senyuman penuh misteri.
"Maa Arda akan pesan............ -" Ucapan Arda terpotong ketika melihat Maha berada disini.
"Rani? " Ucap Arda seketika. Hal ini sontak membuat Laya terkejut, bahkan melongo. Laya menatap Maha lekat-lekat.
Maha yang merasa di panggil menoleh ke arah Arda. Dengan senyum manisnya ia tunjukkan kepada Arda. Tidak lama Arda yang sadar dengan ucapannya, kemudian menutup mulutnya. Melirik Laya yang kini telah melongo. Maha pun juga sadar jika saat ini ada Laya di dekatnya, Maha berbalik menatap Laya.
Sangat jelas Maha melihat. Sebulir air mata jatuh ke pipi Laya. Air mata yang tidak bisa di bendung Laya, sekarang Laya tahu Maha berada sangat dekat dengan dirinya. Dan hanya waktu yang bisa membuktikannya.
"Penculik.. Cih! " Umpat Maha lalu pergi meninggalkan tempat tersebut.
Laya yang mendengar umpatan tersebut merasa lemah. Badannya lemas, air mata yang sejak tadi sudah ia bendung tidak bisa tertahankan. Air mata itu lolos membasahi pipi Laya. Dengan sigap Arda menopang tubuh Laya, Arda menggiring Laya ke kamarnya.
***
Arda mendudukkan Laya di ranjang. Kini air mata Laya semakin deras, perih yang ia rasakan tidak hilang. Bertemu dengan seseorang yang telah ia rindukan selama bertahun-tahun. Laya tidak menyangka ia akan bertemu dengan orang itu kembali, jantungnya berdetak kencang. Napasnya memburu, tidak pernah hingga seperti ini. Laya mengacak-acak rambutnya.
Sejak tadi Arda terus memperhatikan Laya dari kejauhan, ia melihat Laya dengan penuh kasihan. Laya terlihat urak-urakan. Kenapa tadi mulutnya tidak bisa diam? Kenapa mulutnya dengan cepat memanggil Rani?!. Arda duduk di kursi yang agak berjauhan dengan Laya, menundukkan kepalanya. Arda sangat tahu, di keadaan yang seperti ini Laya membutuhkan waktu untuk sendiri. Hingga Arda tertidur di kursi itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
INTROVERT (End)
Ficção AdolescenteSiapa bilang seorang introvert akan terus menjadi pribadi yang suka dengan kesendirian, keheningan dan merasa dirinya penat dengan keramaian? Seorang introvert juga bisa menjadi seorang extrovert. Laya sendiri telah membuktikannya! Dari kecil diri...
