Enam Belas: First Day of Werk

9 3 0
                                    

Rasa lapar membangunkanku dari tidur nyenyak yang sempat terganggu oleh teriakan dua bocah di luar rumah semalam. Matahari masih malu-malu untuk muncul, pertanda ini masih pagi. Kulirik jam dinding yang menunjukan pukul tujuh. Rumah masih sangat sepi, Luke dan Calum pasti masih tertidur. Mustahil jika Calum pulang semalam, dia sangatlah mabuk.

Sebenarnya aku kecewa pada Luke yang melanggar janjinya—untuk tidak mabuk lagi. Tapi aku maklumi kejadian semalam, dia hanya menghargai Calum yang sedang diselimuti masalah. Bicara soal Calum, aku teringat perkataannya semalam. You should lose some weight.

Gue gendut banget ya? Ya gue emang gendut sih,, tapi emang gue sejelek itu ya? Gue olahraga dah biar semok dikit, kurus dikit.

Tapi jika aku olahraga sekarang sepertinya tidak akan sempat, aku harus bekerja. Perutku sudah tidak mau menahan napsunya lagi, jadi aku bangkit dan melangkah menuju dapur untuk meneguk segelas air—setidaknya itu akan mengganjal rasa laparku selagi aku membuat sarapan. Sarapannya cuma sereal aja sih, tapi ya ga apdol aja gitu rasanya kalo bangun tidur gak minum.

"Sayang?" Luke memanggilku dari arah kamarnya, dan dari tempat aku berdiri, aku bisa melihat Calum masih tertidur dengan posisi yang sama di sofa. Aku tidak menyahut karena tidak mau membangunkan Calum. Aku hanya duduk di meja makan dan menyantap sarapanku.

Lalu munculah sosok tinggi pujaan hatiku dari kanarnya. Jalannya lunglay dan begitu ia sampai di hadapanku, dia langsung duduk di meja makan dengan tergopoh. Ia memijat-mijat keningnya. "This hangover's killing me." Gumamnya.

"Siapa suruh mabok." Aku tak mengumbris. "I dont know what you're saying. Im having headache right now." Ia menjawab tanpa menatap mataku. Karena aku baik, aku pun menuangkan segelas air putih dan memberikannya pada Luke. "Thanks."

"Im going to work now." Ujarku sembari beranjak dengan membawa mangkuk bekas sereal dan melenggang ke kamar mandi. Aku berencana untuk mandi pada sore hari saja karena aku akan berolahraga sepulang kantor nanti. Jadi sekarang aku hanya menggosok gigi dan mencuci wajahku saja. Setelahnya aku mengganti pakaianku menjadi kemeja baby blue dengan blazer hitam dan juga celana bahan panjang serta flat shoes kemarin. Dan untuk rambut, aku hanya menguncirnya menjadi ekor kuda.

Melihat kondisi Luke yang sedang seperti itu, aku tidak mau dia untuk mengantarku. Aku tidak mau salah satu dari kami celaka. Aku kembali menghampirinya ke dapur untuk menuangkan semangkuk sereal dan juga susu. "Im leaving now. Take a cold shower and don't let Calum leave before he sobber." Ujarku sebelum mencium puncak kepala Luke dan pergi.

Perlu berjalan sekitar enam meter untuk sampai di halte bus. Aku merasa santai karena aku belum terlambat. Jam masuk kantor adalah pukul delapan lewat lima belas menit. Masih ada satu jam lagi.

***

Sesampai di kantor, aku langsung dipersilahkan Amanda—wanita resepsionis—untuk segera menuju ruangan Mr. Morgan. Awalnya aku mengira ruang kerjaku berada di luar atau di dekat milik Mr. Morgan, ternyata aku salah. Aku tidak memiliki ruangan karena aku akan selalu berada di samping Mr. Morgan setiap saat.

Aku tidak tau apa yang harus kulakukan selagi Mr. Morgan belum datang. Aku belum tau apa saja tugasku, rutinitas Mr. Morgan, aku masih buta akan pekerjaanku. Tapi beruntung pintu ruangan terbuka dan memunculkan sosok tinggi Mr. Morgan dengan setelah abu-abunya. "Good morning, Ms. Sucipto. Today is your very first day, you nervous?" Tanyanya dengan senyum. Aku membalas senyumannya, "Good morning, Mr. Morgan. Yes, im kinda nervous but i got this."

"Good. Take it easy. I need you to write down everything i say." Dia berjalan menuju meja kerjanya. Dengan segera, aku mengeluarkan buku tulis dari tasku dan menuliskan semua hal yang beliau katakan. Dia menjelaskan jadwal kegiatannya dalam seminggu.

Lukman 2020: Kembalinya Aku ke AustraliaWhere stories live. Discover now