Mr. Morgan muncul dengan kaos basah kuyup akibat keringat dan napasnya tersenggal akibat lari paginya. Tentu saja aku langsung memutar badanku. Dia pasti malu jika aku melihatnya dalam kondisi seperti itu. "Im sorry, Mr. Morgan. I didn't know you're here, Bae told me to-"
Mr. Morgan terkekeh, "It's okay. Im here to help you anyway. You need to know my taste." Dia berjalan ke rak bagian jas dan mengedarkan pandangannya—memilih jas mana saja yang akan dia pilih. Dia menjatuhkan pilihannya pada jas abu-abu gelap, navy, dan juga cream. Dia juga mengambil celana berwarna senada dengan masing-masing jas. "You need to know that i don't really like eye-catching color." Lalu menyerahkan semua setelan itu padaku. "Okay, sir."
Ini setelan baju berat juga ternyata astatank.
"Have you had breakfast?" Mr. Morgan tiba-tiba bertanya. "Yes, sir, i had."
"What a shame, i'd like to take you for breakfast actually." Perkataannya membuatku terkejut. "No need, sir. Im all good." Aku menjawab seramah mungkin dan berusaha terdengar tidak canggung. "No, i want you to accompany me. There's this another favorite place."
Mr. Morgan memaksa, jadi mau-tidak mau aku hanya bisa menurut. Dia memintaku menunggunya selagi dia bersiap. Dia mengeanakan setelan jas berwarna putih dan setelah itu dia mengajakku pada sebuah restoran ternama di Sydney. Aku lupa apa namanya tapi satu kejadian membuatku merasa senang: bertemu Andrew yang sedang sarapan disana. Beliau melihatku dari kejauhan, tersenyum dan mulutnya berkata "You're doing a great job!"
Mr. Morgan terus mengajakku berbincang mengenai pekerjaan dan jadwal-jadwalnya yang padat, dia juga terkadang membicarakan pengalamanku yang dia ketahui dari CVku—dia ingin mengenalku lebih dalam. Menurutku itu wajar, kami akan selalu berkomunikasi dan berhubungan 24/7 kurasa itu adalah agar kami lebih saling mengenal. Aku tidak menganggap Mr. Morgan menyeramkan atau apapun karena dia pria yang sopan.
Bahkan saat kami mulai menyantap makanan, dia mulai mengeluarkan candaan yang menurutku cukup lucu. Kurasa Mr. Morgan bukanlah pria tua yang kikuk. Dia adalah pria tua yang keren! Aku kagum padanya. Aku bisa melihat Luke akan menjadi pria tua ini nantinya. Oh iya, aku tidak makan makanan yang berat, aku hanya memakan croissants saja dengan secangkir teh.
Mr. Morgan sangat baik. Dia tau aku sudah bisa berjalan diatas heels. Tapi dia juga tau bahwa aku belum terbiasa, jadi dia akan tetap memapahku. Oh iya, setelah sarapan kami langsung menuju kantor dan mulai bekerja. Tidak, hari ini aku tidak harus membelikannya kopi karena dia sudah sarapan dan meminim kopi tadi. Jadi tugas pertamaku adalah membawa tiga setelan pakaiannya tadi ke ruangan kerja dan mengikuti setiap langkahnya kemanapun dia pergi kecuali toilet.
Aku juga mengingatkan beliau mengenai semua agendanya hari ini yang tertera di iPad. Benar, termasuk transfer pada The Alexis dan sebagainya. Aku juga terus berbolak-balik dari ruangan Mr. Morgan ke ruangan Takeru. Walaupun ruangan mereka berseberangan, tapi tetap saja itu cukup menguras tenagaku. Intinya aku merasa hari ini cukup padat, ini adalah hari keduaku bekerja dan sudah merasakan jadwal yang sangat padat. Baiklah, aku akan terbiasa dengan ini.
Hingga sampailah pada jam makan siang. Mr. Morgan mengajakku dan Takeru untuk makan siang, namun saat aku menerima pesan dari Talica bahwa dia sedang berada di sebuah cafe tak jauh dari kantorku dan memintaku untuk bertemu sekarang jadi aku menolak ajakan makan siang itu. Aku sadar bahwa jalanku tidak secepat saat aku menggunakan sepatu biasa, jadi untuk menghemat waktu aku memutuskan untuk bertelanjang kaki dan menjinjing heels ini. Aku tidak peduli dengan pandangan orang terhadapku. Yang penting aku bisa cepat bertemu dengan Talica. Iya, benar, aku berjalan kaki karena jaraknya hanya beberapa blok. Hemat cuy.

YOU ARE READING
Lukman 2020: Kembalinya Aku ke Australia
FanficPetualangan Abel dan Luke selanjutnya.