Dua Puluh Satu: Lapor Pak Polisi

1 0 0
                                    

Mengintip lubang intip pintu, aku merasa lega saat melihat sosok kepala botak yang berdiri disana. Langsung ku buka pintu itu dan kupeluk makhluk kelepon raksasa itu erat-erat.

"Abel what's wrong? Why you look so panic?" Calum bertanya sambil mendorong tubuhku agar dia bisa melihat ekspresi wajahku. Sebelum aku mulai bercerita, aku menariknya masuk dan mengunci pintu. Aku bertanya kenapa Talica tidak ikut, dan ternyata Talica sedang sibuk mengurus pernikahan.

Baru saja aku hendak bercerita, sebuah ketukan kembali terdengar dan tubuhku mulai gemetaran. "It's okay, it's Luke. I told him when i was on my way here." Calum pun bangkit dari posisinya untuk membukakan pintu. Benar, disana Luke sudah berdiri dengan wajah paniknya. Ia langsung menghampiriku dan memelukku dengan erat selagi Calum kembali mengunci pintu.

"Sayang what happened to you? I just left you for not even a day and shit happens to you! I knew i had bad feeling about you living alone here. Why didn't you tell me but Calum?" Luke mengeluarkan tumpukan pertanyaan yang harus kujawab satu per satu.

"I really wanted to tell you but you're in this important meeting and i don't want to interrupt you. Luckily Ashton called me and he knows i was panic. He wanted to come here but he can't. He harvests his lemons so i ended up calling Cal."

"Okay, so we're here now and tell me what's going on." Titah Calum. Luke duduk di sampingku dan mengusap punggungku—memberiku rasa tenang.

"Im a fucking idiot and nature selection is taking its course at this point so if im dead next week it's not no one else's fault but my own. Cause im fucking stupid!!!" Calum mengernyitkan keningnya, "Abel, what are you talking about?"

Aku tersenyum konyol sambil menunjuk-nunjuk pelipisku, "There's just nothing up here. Nothing. Absolutely nothing up here. You might think im over reacting, and you might think 'What the fuck, Abel. You just let your stalker into your life at this fucking point and it's your fucking fault and i don't know what to do'"

"What the fuck are you doing?" Tanya Calum yang masih berusaha sabar menghadapi adiknya yang imut ini. "I don't know, Calum, i don't know. Im a chick magnet, what can i say?"

Kedua pria di sisi kanan dan kiri ini menundukan kepalanya yang masih memupuk rasa sabar. Gue emang gini kalo panik, mereka udah paham.

"How the fuck he knows your name?!" Calum dan Luke terkejut saat aku menceritakan bagian dimana pria itu memanggil namaku. "I don't know. Im sure i didn't tell him my name." Ponselku masih berdering. Karena kesal, akhirnya aku menyalakan mode pesawat. Setidaknya benda pipih itu akan diam selama aku sedang bercerita.

Aku juga menceritakan bahwa aku memang sempat melihat mobil itu saat di rumah Luke pada hari selasa—saat Mr. Morgan mengantarku pulang. Disitu pula aku baru sadar jika stalker ini telah menguntitku selama seminggu.

Lalu aku juga menunjukan pesan-pesan yang pria itu kirim padaku. Calum dan Luke menghembuskan napas panjang saat aku mengatakan bahwa aku mengangkat telphone itu dengan suara pria yang kubuat-buat.

"Do you know what his name?" Calum bertanya. "I don't know, i think it's Mike or whatever. I didn't ask for his name!"

"Cal, let her finish her story." Luke angkat bicara. Mungkin dia risih dengan ceritaku yang dipotong oleh Calum. Jadi, aku lanjut bercerita. "Why the fuck you gave him your actual number?" Justru kini Luke lah yang bertanya.

"I don't know why i give him my fucking number. Im stupid. Im a pushover." Aku berkata dengan mata berkaca-kaca. "Sayang, let me call him and ask him to stop." Luke berinisiatif.

"No, Luke. Just ignore him. Im really uncomfortable right now." Aku menolak karena tak mau memperpanjang masalah dengan pria menyeramkan ini.

"I was just trynna be nice, i was trynna help him find a burger place." Cicitku dengan air mata yang mulai mengalir di pipiku. Luke langsung menariku kedalam dekapannya, mengusap air mataku dan Calum ikut mengusap lututku hanya sekedar memberikan rasa tenang.

Lukman 2020: Kembalinya Aku ke AustraliaWhere stories live. Discover now