Tak dapat dipungkiri mereka tertulis pada tempat yang sama.
Lebih dan cukup berdampak dari keduanya.
"Kata yuqi kalau udah pacaran harus panggil mas gitu."
"Iya dek."
"Loh kok gitu, kan aku pacaran bukan adekan." Kernyitan terlihat di atas kening...
Hai sebagai mana chap kemarin semoga ini bisa menemani sahur perdana kalian : )
Supermarket mulai ramai apalagi pasar tradisional, beberapa hari lagi bulan Ramadhan akan tiba tak heran jika harga bahan pokok melunjak naik dan masyarakat beradu tawar menawar.
Felicia bersama sang ibu menyusuri pasar, mereka berada di lapak penjual sayur mayur.
Gadis itu hanya berada dibelakang ibunya sembari menenteng keranjang dan beberapa plastik berisikan buah buahan.
"Ibu cepetan ih capek banget akunya."
"Sabar lah ini rame mana ini kentang mahal ditawar dulu." Ucap ibu.
"Sini deh aku tawarin."
"Emang kamu bisa?" Tanya ibu Sinta keheranan.
Sejak kapan anaknya ini menawar dipasar.
"Mas ini sekilo lima belas kan?!" Kata Felicia tak santai.
"Ngga bisa mbak dua puluh itu." Elak penjual.
"Alah biasanya juga naiknya seribu dua ribu, udahlah bungkus tiga kilo empat lima!" Tawarnya.
Rada gila memang ini anak babon, udah nawar maksa pulak. Ibunya yang seharusnya menawar malah diam melongo melihat kelakuan anaknya.
"Mbak enggak bisa dua puluh udah pas, sekarang lagi naik naiknya harga."
"Ya turunin dikit, biasanya juga langganan kan tiap kesini, ibu juga tiap mau puasa mesti dilayanin pertama ini malah dilayanin nya paling akhir." Ucapnya tak terima.
"Delapan belas mbak, udah turun itu."
"Nggak enam belas." Tawarnya lagi.
"Tekor lah saya, tujuh belas lima ratus deh."
"Gausah pake lima ratus, tujuh belas udah." Tawar Felicia untuk kesekian kalinya.
"Yaudah deh, tiga kilo kan ini?" Tanya si penjual.
"Iya, tiga kilo."
Ibu Sinta hanya melongo dan terkejut karena tahu anak gadisnya pandai menawar, sudah gitu galak pula.
Bangga Ibu babon kali ini.
"Kamu pinter ih, belajar darimana?" Tanya sang ibu.
"Oh biasanya nawar waktu mau beli oleh oleh di pujasera." Jelasnya.
"Tau gitu daridulu ibu ajak kesini, biar hemat energi."
"Akunya capek nih, nanti beliin es dawet sama cakwe di depan nanti!" Pinta Felicia.
Ibu Sinta mengangguk kemudian melanjutkan belanja kembali.
Usai berbelanja mereka pergi ke depan gerbang pintu pasar untuk membeli es dawet.
"Akhirnya.... Lega."
"Capek banget?" Tanya Ibu.
"Banget lah, rame banget ini pasar."
"Ya wajarlah bentar lagi puasa."
Mereka beranjak pulang ketika Mark sampai dengan mobilnya.
"Eh bentar beli dawet lagi dong dibungkus ada temen temen dirumah!" Titahnya sebelum memasukan barang belanjaan ke dalam mobil.
"Yaa kali aja temen gue gitu, cowo semua berarti?"
"Kenapa juga tanya tanya temen gue kan cuma itu itu aja dikit tapi berkualitas, tumben banget nyariin Dejun lo?" Tanya Mark.
"Apaan orang cuma tanya begitu disambungin sama Dejun." Felicia mendengus kesal.
Percakapan Kakak beradik ini selesai ketika ibu datang membawa beberapa bungkus es dawet.
Mereka kembali kerumah untuk unboxingbahan makanan selama persediaan bulan Ramadhan.
---
Sesampainya dirumah Felicia segera masuk kamar, malas bertemu dengan teman teman abangnya karena jika menghadapi makhluk dakjal campuran iblis ia akan mengucap setiap detik.
Pintu kamar Felicia diketuk oleh seseorang membuat Felicia harus bangun dan membukakan pintunya.
Dilihat ada Kak Minho di depan kamarnya.
Felicia terkejut bagaimana bisa manusia ini masuk kedalam rumah, bahkan berada di depan kamarnya.
"Hai." Sapanya.
"Hai juga, ngapain? Siapa yang ngijinin masuk sampai naik kesini?" Tanya Felicia pada intinya.
"Tadi Ibu sama Mark udah ngijinin kok, aku cuma mau kasih undangan ini." Katanya sembari menyerahkan amplop berwarna biru.
Felicia hanya mengangkat alisnya ketika Minho memberinya undangan.
"Datang yaa, aku langsung pamit aja kalau gitu takut ganggu." Ucapnya lalu turun ke bawah.
Felicia masih termenung kemudian ia meletakan undangan tersebut di kasur, ia mandi dan ingin istirahat.
Minho keluar dari rumah keluarga Chandrasena, tampak dengan wajah berseri.
Tanpa diketahui Dejun yang baru datang bersama Winwin menatap aneh lelaki yang baru saja keluar dari pintu tersebut.
Mereka masuk kedalam rumah mendapati beberapa anak lelaki yang sedang berkumpul sambil bermain Uno.
"Baru dateng nih." Ucap Yohan.
"Felicia mana?" Tanya Dejun dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
Suara riuh mulai menggema di antara kumpulan lelaki itu.
"Lagi tidur jangan diganggu, itu es dawet jatah punya lo ada di belakang sama ibu." Kata Mark yang datang usai dari kamar mandi.
Gimana sahurnya?
Eh iya DREAMIS KONFIRMASI KAMBEK BULAN DEPAN
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
MARI BERDOA SEMOGA THR TAHUN INI LANCAR JAYA TANPA HAMBATAN