[FOLLOW SEBELUM MEMBACA]
"Izinin gue memantaskan diri buat lo, Ra. Kalau udah pantas gue bakalan ajak lo ta'aruf," kata Rafka.
Ucapan Rafka membuat Maira terdiam di tempatnya.
"Lebih baik Bapak pantaskan dulu diri Bapak di hadapan-Nya. Urusan jodoh...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Cantik itu relatif, apalagi dengan persepektif dari masing-masing orang." -
Selesai membersihkan diri Maira memutuskan untuk menonton televisi. Biasanya Maira akan tadarus al-qur'an sembari menunggu waktu isya, tetapi untuk saat ini dirinya tengah mendapat tamu bulanan. Maira mulai mengganti chanel yang ia inginkan.
Tidak ada chanel yang menarik.
Maira mengehal napas lalu bangkit dari duduknya, mengambil notebook di atas meja nakas. Maira kembali lagi ke tempatnya duduk, sembari mulai membuka satu persatu halaman. Di dalam memang terdapat banyak poin penting yang sengaja Maira catat mengenai hotel ini.
Entahlah Maira senang saja jika harus belajar mengenai ini semua. Di satu sisi ia juga bukan mengambil jurusan perhotelan waktu kuliah, makanya ia akan bekerja sambil belajar untuk mengetahui semua mengenai dunia perhotelan.
Cklek
Maira mengalihkan atensinya saat mendengar pintu kamar terbuka. Ternyata Uzma yang masuk.
"Asalamu'alaikum." Uzma mengucap salam sambil kembali menutup pintu kamar.
"Wa'alaikumsalam," balas Maira. "Loh, kok udah pulang, Ma. Harusnya kan shift malam sampai jam sepuluh."
Uzma tersenyum menghampiri Maira. "Iya gara-gara Pak Rafka. Aku disuruh balik ke asrama." Penjelasan Uzma membuat Maira bingung.
"Siapa Pak Rafka? Terus apa hubungannya kok dia bisa nyuruh kamu balik gitu aja padahal kerjaan kamu belum selesai," tanya Maira.
"Kamu belum tau Pak Rafka? Itu loh anak bungsu pemilik hotel ini, dia orangnya ganteng, putih, tinggi pokoknya idaman banget deh," jelas Uzma sambil membayangkan wajah Pak Rafka itu.
"Astaghfirullah Uzma dosa tau bayangin laki-laki yang bukan mahram kita." Uzma hanya menyengir kuda lalu melanjutkan ucapannya, "Tadi aku dibilang cantik sama dia, terus dia nyuruh aku buat istirahat aja di asrama nggak usah kerja sampai malam. Pas aku nolak dia bilang gini 'Cantik saya tuh berhak buat merhatiin pegawai hotel ini. Biar kamu nggak kecapean terus sakit. Nanti kalau kamu sakit saya nggak bisa lihat wajah cantik kamu, deh.' Gitu katanya, ah, so sweet banget deh Pak Rafka."
Maira menggeleng-gelengkan kepalanya. Astaghfirullah Uzma ini sudah dibilang tidak baik memikirkan atau membayangkan seseorang yang bukan mahramnya, tetapi tetap saja.
"Tapi kok bisa gitu, sih. Itu kan udah menyalahi aturan hotel ini." Uzma menghela napas. "Ya, bisa aja sih. Orang Pak Rafka kan yang nantinya bakalan gantiin Ayahnya mimpin ini hotel. Lagian orang hotel juga nggak bakalan berani lawan perintahnya."