Bersantai

4 3 2
                                        

Setelah kejadian aneh tadi. Maira langsung mengajak Uzma pamit untuk keluar, dengan alasan masih banyak kerjaan. Dirinya hanya tidak ingin terjadi hal yang lebih aneh dari tadi, jujur saja Maira merasa tidak nyaman dengan sikap Rafka semenjak pertama kali bertemu. Lebih baik menjaga jarak saja.

"Ra, kenapa sih kan belum selesai bersih-bersihnya, keranjang sampah juga belum dibuang sampahnya." Ucapan Uzma menghentikan langkah Maira yang berjalan di depannya.

"Enggak papa. Lagian tadi aku liat masih bersih kok, belum banyak sampahnya," jawab Maira.

"Tapi kan tadi Pak Rafka bilang--" Belum sempat Uzma menyelesaikan ucapannya, dengan cepat Maira memotong.

"Pak Rafka tadi cuma becanda palingan. Nggak usah ditanggapi lah," ujar Maira memperingati.

Setelah mengatakan hal tersebut Maira melanjutkan langkahnya. Lebih baik ia menyelesaikan pekerjaan yang lain. Daripada harus menanggapi Uzma yang kemungkinan sebelas duabelas dengan atasannya itu.

"Eh, eh. Ra tunggu aku."

Uzma yang sadar dirinya ditinggal langsung berlari mengejar langkah Maira.

Sedangkan di dalam kamar Rafka tengah memikirkan kejadian tadi. Ia merutuki mulutnya yang asal ceplos, bagaimana coba ia bisa mengeluarkan kata-kata seperti itu. Apalagi di depan karyawannya. Apakah mereka akan berpikir dirinya playboy yang suka merayu wanita. Ah, ia merasa image-nya buruk sekali. Apalagi di depan Maira–ya Rafka paling ingat dengan nama karyawan yang satu itu.

"Gila sih, gue kan sukanya sama si Maira. Kenapa tadi gue iyain ucapan si gendut coba," rutuknya sambil mengacak rambut.

Memang benar ia akui, semenjak melihat Maira pertama kali ia sangat menyukai gadis itu. Namun, ia sedikit sangsi untuk mendekati. Seperti mendekati mantan-mantannya, itu sangatlah mudah. Tetapi, Maira sepertinya akan berbeda, ia terlihat tidak seperti gadis lainnya.

"Pokoknya gue bakalan dapetin tuh cewek, nanti gue pikirin caranya mau gimana."

Ya, Rafka si playboy bertekad ingin mendekati Maira.

Drrttt drttt

Rafka merogoh saku celananya saat merasakan ponselnya bergetar. Melihat ada sebuah chat masuk.

Nando
||Woy, bro gmna lo di sana? Udh nemu cwe baru

Ternyata itu pesan dari sahabatnya yang ada di Jakarta.

Rafka mengetikkan balasan kepada Nando.

Rafka
||Aman. Udh nemu lah lebih cntik malahan

Nando
||Aseek. Dtunggu tgl jadiannya, traktir gue bro jgn lupa

Read

Tidak berniat membalas pesan sahabatnya lebih lanjut, Rafka memilih merebahkan badannya di kasur. Menatap lamat-lamat pada langit kamar yang ia tempati.

Pikirannya malah terbayang akan wajah Maira, ah sial.

Otak playboy-nya seakan merespon cepat jika soal cewek, salahkan saja otaknya. Namun, dari perintah otaklah Rafka berbuat hal demikian. Ah, benar-benar bisa gila dia.

Lebih baik ikuti saja alurnya dan ikuti saja kemauan otak Rafka.

Gampang, kan?

Di sebrang jalan nampak Rei—sepupu Rafka sekaligus tangan kanannya tengah menelepon. Setelah tadi mengantarkan Rafka kembali ke hotel, Rei harus menemui beberapa investor menggantikan Rafka dikarenakan sang sepupu tidak ingin lagi terlibat dalam urusan hari ini. Jika boleh Rei rasanya ingin membuang Rafka jauh ke kutub utara, sepupunya yang memiliki sifat semaunya sendiri membuatnya kewalahan mengurusi tugas yang sebenernya bukan untuknya.

Insya Allah Ta'arufCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang