Kedatangan tamu

2 1 0
                                        

Pagi sekali suasana hotel sudah heboh akan kedatangan tamu yang katanya salah satu keluarga pemilik hotel. Persiapan yang dilakukan oleh beberapa pegawai hotel sudah dikatakan hampir mendekati kata perfect.

Di depan lobby baru saja terparkir mobil BMW putih. Setelahnya dari kursi penumpang bagian kanan seorang pria dengan jas hitam yang membalut tubuhnya keluar. Mengitari mobil dan berakhir membukakan pintu mobil bagian kiri–Fadil, kakak tertua Rafka dan Vina–sang istri keluar.

"Pak, tolong bawa koper kami, ya," perintah Fadil kepada sang sopir yang mengantarnya ke sini.

"Baik, Pak."

"Ayo, sayang," ajak Fadil dengan menggandeng tangan sang istri.

Saat memasuki lobby beberapa pegawai nampak menyapa kedua pasang suami istri yang sudah mereka kenal sebagai anak tertua dari pemilik hotel.

Fadil menghampiri meja resepsionis untuk menanyakan letak kamar yang ia pesan.

"Maudy," sapa Fadil kepada wanita yang berada dibalik meja resepsionis.

Maudy nampak tersenyum kikuk saat disapa oleh anak pemilik hotel. "Iya, Pak Fadil."

"Kartu akses kamar yang saya pesan," pinta Fadil.

Tersadar dari lamunannya, Maudy segera memberikan kartu akses kamar executive untuk pria di depannya. "Ini Pak."

"Terima kasih."

Setelahnya Fadil dan sang istri langsung melangkah ke kamar yang akan mereka tempati untuk beberapa waktu ke depan.

"Sayang, kamu masuk duluan ya. Aku mau ke tempat Rafka sebentar." Fadil berujar sembari memberikan kartu akses kamar mereka.

Vina tampak mengangguk saja, dari wajahnya wanita itu tampak lelah. "Iya."

Kini sepasang suami istri itu melangkah berlawanan arah, Fadil yang melangkah ke arah kantor untuk menemui sang adik dan istrinya melangkah untuk ke kamar.

Brak!

Suara pintu terbuka dengan tidak santainya membuat dua manusia yang tengah duduk di dalam ruangan terlonjak.

"Woy curut!"

Fadil–pelaku yang membuat kericuhan dan kini berteriak dengan keras melangkah masuk dan duduk di sofa dekat dengan seseorang yang menatapnya datar.

"Wah, ada saudara kesayangan juga di sini," ujar Fadil dengan menepuk pundak Rei.

Ya, dua manusia yang berada dalam ruangan itu adalah Rafka dan Rei. Mereka tadinya tengah membahas mengenai kinerja pegawai, kegiatan yang dilakukan harus terhenti oleh ulah Fadil.

"Apa kabar, Rei?" tanya Fadil, mengambil stopmap yang ada di atas meja. Menggunakannya untuk mengipasi wajah.

Rafka menepuk dahinya sembari menghela napas berat. Meratapi nasibnya, mengapa ia harus memiliki saudara yang aneh-aneh. Abang keduanya sudah seperti kulkas, datar dan sangat kaku, sedangkan abang pertamanya sama sekali tidak memiliki otak yang waras, banyak tingkah. Untung dirinya normal saja, mungkin itu yang bisa ia simpulkan sendiri.

"Bang, lo ngapain kipas-kipas pakai stopmap, ac udah ada kenapa nggak digunain. Waras nggak, sih?"

Fadil mendelik. "Heh, lo kok ngatain gue gila!" Rei yang melihat itu hanya bisa menghitung mundur.

1

2

3

"Emang lo gil–"

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 18, 2023 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Insya Allah Ta'arufCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang