[FOLLOW SEBELUM MEMBACA]
"Izinin gue memantaskan diri buat lo, Ra. Kalau udah pantas gue bakalan ajak lo ta'aruf," kata Rafka.
Ucapan Rafka membuat Maira terdiam di tempatnya.
"Lebih baik Bapak pantaskan dulu diri Bapak di hadapan-Nya. Urusan jodoh...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
-
Rafka kini sudah berada di dalam kamar hotelnya setelah tadi menyelamatkam Maira yang hampir tertabrak. Niat awal ingin pergi ke sebuah tempat untuk bersenang-senang, berakhir kini di kamar hotel kembali. Ya, Rafka tidak jadi pergi. Setelah sok-sokan kuat di depan Maira, tapi sekarang malah tengah meringis di atas sofa kamarnya. Gengsi dipelihara.
"Awsssh ... anjir sakit banget," ringisnya sambil memegangi lengannya.
Kakinya beranjak setidaknya berbaring di tempat tidur. Tapi yang ada malah kakinya ikut nyut-nyutan.
"Ini kenapa kaki ikutan sakit segala sih, padahal tadi juga nggak sakit." Sekarang sudah terkesan kesal sendiri dengan keadaannya.
Dengan tertatih akhirnya Rafka bisa mencapai kasur. Membaringkan tubuhnya yang baru terasa remek. Berusaha memejamkan mata siapa tau setelahnya akan lumayan mendingan.
Disisi Maira yang tengah diintrogasi oleh Uzma. Uzma sudah seperti komandan polisi dan Maira yang menjadi terdakwah. Ah, peribahasan yang keren.
"Terus, kok bisa Pak Rafka ada di sana juga?" tanya Uzma penasaran.
"Aku juga nggak tau kalau itu, Ma. Aku ingatnya pas liat ada motor yang mau nabrak aku dan teriakan, tapi aku nggak begitu ngeh kalau itu suara Pak Rafka," jelas Maira.
Uzma mengangguk-angguk, lalu tiba-tiba ekspresi wajahnya ada yang aneh. Senyum-senyum sendiri sambil menaik turunkan alisnya. Uzma cacingan, ya?
"Kenapa kok ekspresi kamu kaya gitu?" Maira merasa ada yang tidak beres dengan Uzma.
"Ehem, ... jangan-jangan Pak Rafka suka sama kamu, Ra," ujar Uzma membuat Maira tersentak.
Mana mungkin.
"Ngaco kamu mah, nggak mungkin Pak Rafka suka sama aku," elak Maira.
"T—"
"Yaudah aku mau ganti baju dulu ya, Ma. Baju aku kotor nggak sempat ganti, gara-gara langsung diintrogasi sama kamu."
Uzma hanya menyengir ke arah Maira. Lalu gerakan tangannya seperti mengusir Maira. "Yaudah sana-sana ganti baju."
Maira hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Uzma.
***
Masih di sisi Rafka, yang belum juga merasakan ketenangan. Sebab rasa sakit di lengan dan kakinya semakin menjadi. Yang semula hanya ringisan berganti dengan rintihan.