Mulai mendekat

14 8 0
                                        

-

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

-


Maira terkejut bukan main atas ucapan yang keluar dari mulut Rafka.

Apa-apaan atasannya ini!

Rafka yang melihat ekspresi Maira menahan tawanya. Suka sekali Rafka mengerjai Maira, terhitung sudah tiga kali kalau tidak salah Rafka berhasil mengerjai dan pastinya menggoda Maira juga.

"Boleh kan?" tanya Rafka sekali lagi yang membuat bulu kuduk Maira meremang.

"M-maf Pak, nggak boleh kan bukan muhrim," balas Maira cepat.

Dirinya ingin cepat pergi dari sini. Jika bisa memilih Maira akan menghilang saja biar cepat pergi dari hadapan Rafka.

Semenjak adanya tamu sekaligus atasannya yang satu ini membuat Maira bekerja dengan tidak tenang. Terlebih lagi sosok Rafka sering kali muncul tiba-tiba dihadapan Maira.

"Malah ngelamun." Rafka mengibaskan tangannya di depan wajah Maira.

Maira mengerjap-ngerjap lucu. Sontak membuat Rafka gemas, ingin sekali rasanya mencubit pipi Maira. Tapi masih ia urungkan niatnya itu.

"E-nggak kok Pak," balas Maira.

"Yasuda—" Kalimat Maira terpotong saat ada suara bariton dari arah belakangnya.

"Rafka!"

Rafka memutar bola matanya malas saat menyadari sosok yang berdiri di belakang Maira.

"Ck, penganggu," decak Rafka.

Sedangkan Maira langsung membalikan badannya dan melirik sekilas sebelum kembali menundukkan pandangan. Karena menyadari sosok itu seorang lelaki. Ya, Maira masih selalu menjaga pandangan dengan yang bukan muhrim.

"Apa?" Rafka bertanya ketus.

"Ikut gue," kata Raden. Masih ingat Raden adalah kakak kedua Rafka.

"Kemana?" tanya Rafka.

Raden tak menjawab malah langsung membalikan badannya dan melangkah meninggalkan Rafka begitu saja. Rafka yang sudah hafal betul dengan kakaknya satu itu mendengus sekali lagi. Sudah menggangu, main perintah suruh ngikutin segala. Kampret memang.

Sebelum pergi menyusul Raden, Rafka berpamitan terlebih dahulu pada Maira. Padahal dirinya tadi belum puas mengerjai Maira. Pending dulu.

"Ra, gue duluan ya. Bye ... bye jangan kangen," ucap Rafka dengan pede.

Maira hanya mengangguk. Selepas kepergian sosok Rafka Maira mendongakan pandangan dan bernapas lega. Akhirnya.

Dilain sisi, Rafka sedang mencak-mencak tidak jelas lantaran kakaknya itu yang tak kunjung menjawab pertanyaannya. Dirinya tadi disuruh ikut bersama Raden dan berakhir di dalam mobil Raden. Dan sedari tadi juga Rafka bertanya tujuan kakaknya itu mau kemana tak kunjung mendapat jawaban yang diinginkan.

Insya Allah Ta'arufCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang