part 2

238 15 0
                                        

Besoknya Sobin beneran ikut ortunya buat jemput si adek gemes pulang dari Australia. Baru juga 3 tahun nggak ketemu tapi berasa seabad. Kalau nggak ditegur bapaknya Sobin bakalan terus pelukin cewek 18 tahun itu nyampe sore dibandara.

"dek papa nanti jemput kesini kan?" si ibu negara bertanya setelah mereka 2 jam lalu sampai rumah.

"iya bu, mama bilang biar aku istirahat disini dulu." Jawab Arin sambil nyemil disofa ruang tamu.

"kamu kenapa sih kak? Katanya kangen sama adek? Sekarang adeknya disini dianggurin." bu Sonya beralih pada putranya yang justru sibuk sama gawai nya.

"adeknya nggak usah pulang gimana bu? Nginep sehari disini boleh ya?"

"nanti tanya papa kalau udah dateng, boleh enggak Arin nginep disini." Sahut sang ibu tenang.

"lo mau kuliah disini kan? Mau ambil jurusan apa?" Sobin udah mengalihkan fokus pada perempuan muda yang masih asik dengan cemilannya.

"mau manajemen aja deh, kayaknya nggak susah." Sahut Arin.

"kampus gue kan?"

"iyalah mau kemana emang? Kalau nggak ke kampus lo ngapain gue pulang kesini." Sahut Arin jengah.

"selesai kuliah lo balik ke Australia lagi?"

"kagak, kalau gue mau balik kesana lagi ngapain pulang? Mending kuliah sekalian disana. Gue tuh pulang kangen rumah kak, lo nggak kangen sama gue?"

"enggak, biasa aja gue nggak kangen. Lo disana pasti punya cowok kan? Makanya jarang telpon kita? Ngaku lo." Elak Sobin biar nggak ketahuan bucin sama adek sendiri.

"apaan sih, gue disana sekolah. Nggak ada waktu buat nyari cowok. Lo kali yang sibuk nyari pacar sampe lupa sama gue." Sahut Arin nggak terima.

"iya cewek yang gue suka masih belum peka, udah lah gue mandi dulu." Sobin beranjak dari sofa menuju kamar mandi.

"kakak kenapa sih yah? Sensi banget kayaknya?" Arin memandang kepergian Sobin heran.

"capek banyak kegiatan kali, nggak usah dipikirin nanti juga moodnya balik lagi." Sahut pak Surya kalem.
.
.
.
.

"udah ngomong belum sama papa?" Pancing Sonya pada Sobin soal niatnya tadi.

"nggak jadi deh, yang kangen kan bukan cuma aku jadi batal aja nginepnya." Sahut Sobin.

"kalau gue yang mau nginep gimana?" Arin berujar.

"ya itu terserah lo, tapi gue nggak janji bisa nemenin lo jalan. Kan gue harus kuliah." Sahut Sobin mengendikkan bahunya.

"lo nggak bisa titip absen gitu?" Arin berusaha membujuk saudaranya buat bolos kuliah.

"lah absen gue jelek dong cantik kalau nurutin elo. Nggak, gue kan udah ikut jemput tadi jadi lunas utang gue."

"kamu mau kemana sih? Udah dirumah aja dulu, kalau mau main kesini aja nggak usah keluar." ucap pak Juna.

"bosenlah pa, aku rencana daftar kuliah aja masih sebulan masa nggak kemana-mana." Rengek Arin.

"ya ajak cowoknya jalan dong." Goda mamanya.

"apaan sih? Aku nggak ada cowok mama."Sahut Arin sambil cemberut.

"masih sebulan kan? Gue ada jadwal kosong 2 hari minggu depan mau jalan kemana?" Tawar Sobin akhirnya.

"kemana aja, muterin kota juga gapapa." Sahut Arin kelewat seneng.

"iyain deh, apa yang nggak buat lo."

"kakak emang terbaik." Arin senyum sampe matanya ilang.

"seneng banget manja sama Sobin, udah buruan makan abis itu kita pulang." Tegur Pak Juna.

"iya papa sayang, jangan bawel." Sahut Arin lagi kini melanjutkan makannya.
.
.
.

Pagi hari Sobin beneran kacau, dia lupa kalau hari ini jadwal pagi mana bangunnya mepet. Kelas jam 8 dia bangun jam 7.30 jadi dia nggak sarapan dan langsung berangkat aja. Sonya sang ibu cuma bisa geleng kepala pas liat putranya itu turun dengan terburu kemudian menyambar roti di meja menyelipkan dimulutnya sementara tangannya sibuk memakai almamaternya.

"aku berangkat bu, nanti aku pulang agak sore ada rapat organisasi." Pamit Sobin sebelum melesat menuju motornya digarasi.

"semalem ngapain sih sampe kesiangan begitu?" Surya si kepala rumah tangga hanya menatap heran kelakuan putranya itu.

"untung nggak telat boss, bayangin lo telat semenit bisa disuruh skotjam sama dosen lo." Minhyuk Si kembar identik berujar.

"nih siapa, nggak hafal gue muka lo mirip."

"Minhyuk elah, nanti jadi kan rapatnya? Udah gue buatin proposal tinggal bahas dana dan sponsor abis itu siap dilaksanakan misi kita." Ujar Minhyuk lagi.

"iya jadi, sambil nongkrong ya tapi. Lagi males pulang gue." Sahut Sobin suntuk.

"kenapa? Kata Minhyung kemarin adek lo pulang, mending dirumah kan siapa tau gue bisa kenalan sama adek lo." Minhyuk menaik turunkan alisnya.

"nokrong aja udah, lagian adek gue nggak dirumah. Lagi dirumahnya dia, janji deh kalau ada waktu gue ajak ke kampus." Bujuk Sobin yang yang dapat deheman dari lawan bicaranya.

"kelas lo pagi aja apa sampe siang nih?" iya hari ini sebenernya Sobin cuma dapet kelas pagi sisanya dia rencana mau nokrong di mall sampe sore.

"ngumpulin ini dulu baru cabut deh." Sahut Sobin menunjukkan makalah yang ia kebut semalam sampai berujung kesiangan.

"gue tunggu diparkiran ya, Minhyung nyusul katanya." pemilik nama akhir Kanaka itu berlalu menuju parkiran kampusnya meninggalkan Sobin yang berjalan keruang dosen.

Dijalan pemilik nama depan Senja itu tidak lupa memberi kabar lagi kalau dia sedang ada rapat dengan teman organisasinya. Fyi Senja itu ketua Hima dari semester 3. Bisa dibilang bocah angkasa itu cukup terkenal di kampusnya. Dirumah mungkin dia manja, tapi kalau udah berurusan sama organisasi bakal berubah jadi tembok besar China.

Dapet salam dari anak teknik Satu Bangsa semester 5

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Dapet salam dari anak teknik Satu Bangsa semester 5

Brother-zone (?)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang