"belum bangun juga Sobin? Anak siapa sih begitu? Kena kopi aja tepar." bapak Surya sepertinya tidak berkaca bahwa kafein bisa membuat darah tingginya kumat.
"emang kamu nggak tepar kalau minum kopi? Berlagak tanya anak siapa padahal sifatnya kayak kamu." Cibir sang istri.
"Sobin bangun!" Teriak Arin tepat ditelinga cowok berlesung pipi itu.
"ibu..."
"iya?" Sonya menyahut terus duduk di deket badan Sobin yang goleran di sofa.
"ibu, hehehe Senja sayang ibu... Ibu Senja salah ibu jangan marah ya. Ibu temen aku bilang Senja anak aneh karena nggak mirip ibu, ibu mereka jahat sama Senja..." Racau Sobin.
"enggak, Sobin nggak mirip ibu karena Sobin mirip ayah. Sobin kan anak ayah jadi gapapa kalau nggak mirip ibu. Nanti ibu bakal marahin mereka karena ngejekin kamu ya.. Sekarang bangun dong, Senjanya ibu anak baik." Sonya menanggapi dengan nada bergetar menahan tangis.
"ibu, mau tau nggak pacar aku?"
"siapa sayang?" Sonya udah cemas aja.
"first love aku namanya Sonya panggil aja ibu..."
"bangun ayok kak." Arin nggak suka momen sedih begini jadi dia narik paksa tubuh Sobin sampe terduduk yang otomatis ngebuat si cowok Nebula setengah sadar.
"rin..."
"apa?"
"putus yuk." Ucap Sobin dengan setengah nyawa.
Plak! "sadar dulu kalau ngomong, nyawanya kumpulin dulu coba." dua tangan Arin mendarat dipipi Sobin.
"sawkit rwin, emwang guwe ngomwong apwa?" Ucapan Sobin jadi nggak jelas karena tekanan yang diberikan Arin pada pipinya.
"mau putus?Ayok aja gue tapi nanti lo galau." Ledek Arin.
"gue dimana sih ini?" Sobin baru nyadar dia udah nggak di kafe lagi.
"dirumah." Jawaban Juna otomatis bikin Sobin nengok dan mendadak blank.
"astaga mulutnya Arin bobrok bener. Kenapa jawabnya begitu?" Sobin malah nyalahin Arin setelah kembali sadar.
"apa? Virusnya kan elo. 6 bulan dibucinin sama lo virusnya nempel ke gue." Frontal aja cewek rambut sebahu itu.
"lo nyumpahin pala gue ilang ya rin, jangan dibahas dulu kenapa? Dendam lo sama gue karena nggak gue jemput minggu lalu?" Ucap Sobin memelas.
"gue nggak dendam, cuma heran pacar apaan yang nyuruh temennya buat jemput gue dengan alasan tugas padahal aslinya lo nongkrong? Kalau mau bohong pinteran dikit pak." Omel Arin.
"gue emang ada tugas, tapi melipir nongkrong." Sahut Sobin ciut pas udah dipelototin Arin.
"jadi putus nih, mau saudaraan aja? Jelasin deh mumpung mereka masih disini. Jangan dianggurin kek patung jatohnya mereka." Entahlah mungkin bener Arin udah ketularan virus bocor dan bobroknya Sobin beserta circlenya.
"sopan lo begitu? Kebanyakan main sama kembar gancet nih." cibir Sobin.
"kan mainnya sama elo juga, heran lo pake pelet ke gue jangan-jangan biar gue betah satu circle sama kalian." Arin berujar jengah.
"diem, gue mau jelasin nih. Jangan ngoceh dulu." Sobin akhirnya berani natap 4 orang dewasa disana yang dari tadi jadi pendengar setia pertengkaran pasangan nggak jelas itu.
"jadi mau jelasin apa?" Surya udah mode serius.
"jadi, kita berdua kan pacaran nih. Ngaku beneran pacaran kita, nah kira-kira kalian gimana? Secara kita bukan saudara sama sekali nggak ada hubungan darah apapun. Semisal kalian bilang enggak, kita-"
KAMU SEDANG MEMBACA
Brother-zone (?)
Fanfiction'gue suka sama lo lebih dari saudara 'kalau gue juga suka sama lo gimana?' 'yaudah ayok pacaran bukan sedarah juga kan.' Pic © pinterest
