Esok harinya Sobin memilih bolos buat jelasin semuanya sama keluarga. Dia sengaja nggak kasih tau Arin biar cewek itu nggak protes dan dianggap pembakang sama keluarga mereka. Sobin lagi usaha biar nama Arin tetep bersih. Sarapan pagi ini kerasa tegang banget, apalagi muka Juna yang terlihat mengeras pas denger kalau Sobin mau buat pengakuan.
"ngapain tumben banget ngajak sarapan bareng, biasanya kamu paling nggak mau ngumpul begini kalau nggak weekend." Ucap sang mama.
"kamu nggak ada kelas?" Imbuh Surya.
"aku titip absen, sesekali bolos nggak bakal bikin aku di d.o" Sahut Sobin coba menghilangkan kegugupan.
"jadi ada apa tumben begini. Pasti ada yang mau diobrolin kan." Tebak Sonya.
"aku mau buat pengakuan." Sahut Sobin.
"selesaiin dulu makannya, baru ngobrol." Cegah Juna menatap sinis Sobin.
"jadi apa yang mau kamu akuin? Kamu mau bahas apa emangnya?"
"ibu janji marahnya sama aku aja, jangan ke yang lain oke." Sobin masih coba melindungi Arin.
"apaan sih kak?" Panggilan Sonya bikin Sobin merasa berdosa banget.
"aku sama Arin pacaran." Nggak ada respon apapun dari 3 orang disana kecuali Juna yang sama deg-degannya.
"kamu apa? Ayah nggak paham. Kamu sama Arin pa-pacaran?" Surya bahkan berharap pendengarannya salah.
"iya aku sama Arin pacaran dari 6 bulan lalu." Sobin berujar lirih.
"yang bener dong kak, pacaran sama saudara sendiri? Kamu udah gila ya pacaran sama adek sendiri." Sonya berujar nggak percaya.
"maaf ibu, tapi faktanya aku sama Arin bukan saudara. Satu lagi, aku yang maksa Arin. Dia udah mikirin ini sebulan sampai akhirnya kita pacaran. Aku yang salah karena kalah sama ego ku ibu, jangan salahin Arin."
"bagus banget kamu bohong selama 6 bulan, kamu masih anggep kita keluarga nggak sih bin, mikir nggak kalau kelakuan kamu kayak gini bikin kita kecewa?" Surya rasanya pengen murka.
"aku sadar kalian bakalan kecewa, aku akuin aku salah bikin kalian kecewa– bagus banget timing nya, yang ini belum kelar udah nambah lagi masalah gue." Ucapan Sobin terinterupsi getaran ponsel dimeja menampilkan deretan nomor yang udah dihafal Sobin 3 bulan ini.
"siapa itu? Kenapa nggak ada namanya?" Sobin cuma diem dan menggeser tombol 'jawab' kemudian menekan speaker di gawai nya itu.
"halo sayang, kamu dimana? Masih kuliah? Kamu sibuk banget ya sampai nggak pernah kesini lagi?" suara line seberang menambah kerutan di dahi 4 orang dewasa itu.
"saya nggak sibuk, saya lagi dirumah. Kenapa ibu menelepon saya? Apa ibu sudah setuju dengan permintaan saya?" Sobin berusaha sopan.
"kenapa bahas itu? Ibu kangen sama kamu nak, pasti kamu lagi seneng-seneng sama keluarga angkat kamu itu ya? Tega kamu, aku ibu kandung–"
"buktikan dulu baru anda boleh menyebut status anda terhadap saya. Anda bahkan belum menyetujui kesepakatan yang saya berikan 3 bulan lalu jadi jangan berani menyebut saya sebagai anak anda."
"tapi kamu sudah pernah kesini beberapa kali dan kamu tahu ibu punya banyak bukti."
"maka lakukan permintaan saya supaya saya yakin siapa saya sebenarnya. Tolong jangan menambah rumit status jati diri saya ibu. Saya tutup telponnya, hubungi saya jika anda memang yakin bahwa anda benar." Sobin memutus sambungan telpon sepihak.
"kamu udah ketemu–"
"aku udah tau suatu saat bakal begini jadinya, tapi aku nggak nyangka bisa barengan. Kalian udah denger sendiri kan? Tadinya aku nggak mau bahas ini karena masalah yang aku timbulin belum selesai." Sobin menghela nafas lelah.
"kapan kamu kerumah orang itu, kenapa nggak ngomong?" cecar Surya.
"3 bulan? Komplit kan yah, bohong pacaran sama Arin 6 bulan sementara aku bohong juga sama Arin dan kalian tentang orang ini 3 bulan lalu. Udahlah terserah kalian mau benci sama aku juga silakan nggak ngerti aku sama diriku sendiri." Ucap Sobin terdengar frustasi.
"bin, kenapa nggak ngomong jujur sih?" bu Juna berujar lembut.
"adakah efeknya buat aku ma? Aku emang egois soal masalah pacaran sama anak mama, tapi untuk ninggalin keluarga ini aku nggak bisa egois. Aku bisa aja pergi dari kalian supaya hubunganku sama Arin nggak ngecewain kalian tapi– Apa lagi! Bisa nggak telponnya nanti aja mood gue lagi anjlok setan, nggak ada nongkrong bareng!" Teriak Sobin begitu sambungan telpon yang menginterupsinya terhubung.
"bin buruan kesini..." Suara seberang terdengar memelas.
"lo dimana?" Sobin yakin teman kuliahnya itu benar-benar sedang butuh bantuan.
"kita di pinggir jalan mau kerumah lo, buruan kesini bantuin kita. Mana Arin ditahan sama mereka lagi." si penelpon -Minhyuk- terdengar panik. "katanya dia suruhan ibu lo." Lanjut Minhyuk.
"ibu? Sial! Share lokasinya gue kesana." Sobin kemudian memutus sambungan. "papa tolongin Senja buat yang terakhir kali ya, telpon polisi buat nangkep penjahat. Nanti Senja kirim lokasinya." Ucap Sobin memohon.
"apa sih masalahnya? Kamu jangan bikin panik bin." Sonya merasa khawatir.
"lakuin aja omongan aku tadi, 1 jam dari sekarang Senja bakal balik kesini bawa seseorang buat jelasin semuanya. Tungguin aku pulang ya bu..." Sobin berlalu mengambil jaket dan kunci mobilnya kemudian keluar.
"apa sih ini? Tadi dia buat pengakuan sekarang dia kayak intel yang harus nangkep penjahat. Siapa yang dimaksud penjahat sama dia?" Surya masih bingung sama apa yang barusan terjadi.
"udah turutin aja dulu, kita nggak tau apa yang bakal terjadi nanti jadi biar anaknya sendiri yang jelasin nanti." bu Juna berusaha menenangkan walaupun dirinya sama cemasnya.
Apa yang bakal terjadi? Tungguin part selanjutnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Brother-zone (?)
Fanfiction'gue suka sama lo lebih dari saudara 'kalau gue juga suka sama lo gimana?' 'yaudah ayok pacaran bukan sedarah juga kan.' Pic © pinterest
