Bab 2. Bukan Mimpi
Haikal pergi meninggalkanku seorang diri setelah menyelesaikan kalimatnya. Kata-katanya meluncur tanpa perasaan, tanpa penyesalan. Lidah memang tak bertulang. Namun, tajamnya mampu mencabik hingga terasa nyeri dan perih pada segumpal daging yang bersemayam di dalam tubuhku, yaitu hatiku.
Baginya, rusaknya rencana pernikahan ini adalah salahku. Aku yang berpegang teguh pada prinsipku juga norma-norma agama yang diajarkan padaku, kerap kali menolak terlalu berdekatan secara fisik dengannya karena status kami masihlah belum sah. Takut terbujuk rayuan syetan yang menyesatkan, menjerumuskan dua orang yang masih belum halal dalam kubangan nista dosa zina.
Bergandengan tangan pun hanya pernah beberapa kali saja, bisa dihitung dengan jari selama hubungan kami. Itu pun karena Haikal merengek dan setengah memaksa saat kami menghadiri pesta pernikahan temannya. Selebihnya jika ada waktu bertemu, lebih sering hanya mengobrol di kursi teras rumahku saja.
Atau, sesekali pulang bersama selepas bekerja jika kebetulan jam pulang Haikal berbarengan denganku. Dia akan menjemputku ke toko kue tempatku bekerja menggunakan motor bebeknya, dan seperti biasa aku akan langsung meminta diantar pulang ke rumah.
Sering kali setiap pulang bersama, dia membujukku dengan berbagai macam dalih ingin mengajakku mampir ke tempat kost kawan-kawannya. Aku selalu menolak dengan tegas, tak terbiasa tiba di rumah terlalu lambat dari jam pulangku. Aku selalu ingat pesan ibuku yang terpatri dalam ingatanku, bahwa anak gadis tidak sepantasnya keluyuran kemana-mana lagi setelah pulang bekerja terlebih lagi dengan lawan jenis.
Dua bulan tak bertemu muka. Bukannya saapan manis penuh rindu yang kudapat dari pria yang mengisi ruang terindah di hatiku, melainkan luka pilu menyembilu yang dihadiahkan padaku. Haikal mengatakan alasannya berpaling adalah bahwa karena aku tak pernah memahaminya.
Apakah baginya toleransiku dengan memundurkan rencana pernikahan kami seperti keinginannya bukanlah sebuah pengertian? Mengapa harus dengan cara kotor berkubang dosa kita membuktikan cinta dalam sebuah hubungan yang belum sah di mata agama dan negara? Jadi, apakah aku salah mempertahankan prinsipiku seperti yang ditudingkan Haikal tadi?
Dadaku semakin sesak. Pandanganku buram terhalang air mata yang makin deras membanjiri. Aku menunduk menggigit bibirku kuat-kuat menahan isakan. Buliran-buliran bening menganak sungai ditemani gemericik derasnya air langit yang tengah memadu kasih dengan Bumi. Seolah alam pun ikut merasakan remuk redamnya kalbuku yang tercerai berai menjadi serpihan hingga berserak.
Kopi latte yang kupesan belum kuteguk satu tetes pun, masih utuh memenuhi cangkir putih di hadapanku. Tenggorokanku tercekat luar biasa, tersumpal gumpalan kesedihan laksana batu, begitu berat menyesakkan dada. Hatiku menjerit perih, tenggelam hanyut mengalir bersama jutaan tetes air hujan.
Lalu aku teringat akan ibuku. Dadaku makin terasa nyeri tak berujung. Bagaimana reaksi beliau nantinya saat mengetahui kabar yang akan mencoreng wajahnya ini. Aku masih tak sanggup membayangkan akan hujatan orang-orang sekitar.
Gaun pengantin sudah dipesan. Wedding organizer sudah di booking. Katering dan tempat pernikahan pun sudah diberi uang muka menggunakan uang yang ditabung ibu selama ini.
Aku sempat menolak dan mengatakan ingin pernikahanku sederhana saja sesuai jumlah uang yang diberikan keluarga Haikal padaku lantaran tidak ingin terlalu membebani ibu yang mata pencahariannya kini hanya bergantung pada sebuah penggilingan padi tua peninggalan bapakku.
Akan tetapi ibu memaksa, bersikukuh ingin memberikan yang terbaik untuk pernikahanku sebagai anak satu-satunya. Mengatakan bahwa ia akan merasa bersalah jika hanya berpangku tangan tanpa mendedikasikan yang terbaik kala aku menemukan tambatan hati.
Tidak adakah sisa-sisa yang masih bisa kuselamatkan dari puing-puing asaku yang terkoyak?
Sejenak aku mencoba berpikir jernih. Kulirik jam di dinding, sekarang sudah pukul lima sore, hujan juga mulai mereda. Kuhapus air mataku. Segera kuayunkan kakiku yang lemas meninggalkan kedai dan bergegas pergi menuju satu tempat untuk meminta penjelasan lainnya. Aku masih tak mau menelan pil pahit yang dihaturkan Haikal padaku, berharap semua rasa sakit yang merasuki kalbuku ini hanyalah mimpi belaka.
****
"Assalamu'alaikum."
Kuucap salam di depan pintu rumah bercat kuning berpadu hijau yang tak lain adalah rumah orang tua Haikal. Kuremat jari-jemariku yang nyaris membeku. Kusapukan pandangan ke sekeliling. Ada yang berbeda dengan rumahnya, seperti baru direnovasi, ditambah sebuah mobil Fortuner warna hitam yang tampak masih baru terparkir di halaman.
"Wa'alaikumsalam." Terdengar sahutan dari dalam rumah.
Pintu terbuka. Ibunya Haikal yang membukakan. Biasanya wanita paruh baya ini menyambutku dengan senyuman manis, tetapi kini air mukanya datar, tidak ada lagi lengkungan indah di wajahnya.
"Ada apa kamu datang kemari, Azalia?" tanyanya tanpa berbasa-basi, bahkan tak mempersilakan aku masuk. "Bukannya Haikal sudah menemuimu? Apakah masih belum jelas yang disampaikannya padamu?"
Kutelan ludahku susah payah. Nada bicara ibunya Haikal begitu dingin bak sebongkah es. Kalimat yang kurangkai selama di perjalanan tak mampu kuucapkan, sepertinya memang sudah tidak ada lagi yang bisa kuharapkan.
"Kami akan datang besok atau lusa untuk menemui ibumu. Relakan Haikal, itu adalah yang terbaik untuk kehidupan dan karirnya. Sebagai seorang Ibu aku hanya akan mendukung keinginan anakku, terlebih lagi pilihan Haikal kini lebih baik untuk masa depannya."
"Tunggu, bagaimana denganku juga ibuku?" tanyaku pilu. "Kalian tidak bisa seenaknya mengacaukan hidup kami!" seruku berbalut perih di hati. Kurasakan tubuhku nyaris limbung, seluruh kekuatanku seolah ditarik keluar, dicuri paksa dalam hitungan jam saja.
"Maaf, maafkan kami. Sebagai sesama perempuan kamu pasti mengerti, kepada siapa Haikal harus lebih bertanggung jawab. Sebaiknya kamu pulang. Tidak ada yang bisa kulakukan untukmu."
Pintu kayu itu tertutup kembali, menyisakan aku yang membeku di teras. Duniaku terasa gelaplah sudah. Jadi, beginikah akhir ceritaku dengan Haikal?

KAMU SEDANG MEMBACA
Batal Akad (Tamat di Karyakarsa & KBM)
RomanceRank# 1 kategori romantis-15 Maret 2022 Rank# 2 kategori pernikahan-15 Maret 2022 Rank# 4 kategori cinta-15 Maret 2022 Rank# 6 kategori ramadhan- 18 Maret 2022 Kisah ini kutulis sepenuh hati dengan membubuhkan banyak cinta juga pesan-pesan tersirat...