3. Kalbuku Pilu

915 124 8
                                    

3. Kalbuku Pilu

Kuambil dua lembar uang sepuluh ribuan untuk membayar ojek online yang mengantarku pulang. Sebetulnya jika naik angkutan umum tarifnya lebih murah, akan tetapi karena diburu waktu yang sebentar lagi menjelang magrib aku memilih memakai jasa angkutan online supaya lebih cepat sampai.

Kuusap wajahku sebelum melangkah masuk, berusaha agar tampak biasa saja. Aku tidak ingin ibu bersedih lebih awal sebelum waktunya jika melihat raut mukaku yang dirundung duka lara. Biarlah kutelan sendiri dulu rasa pahit ini sebelum badai berita buruk itu menyambangi rumah besok atau lusa.

Rumah tampak lengang. Biasanya di waktu menjelang magrib rumahku ramai didatangi anak-anak perempuan usia taman kanak-kanak dan sekolah dasar yang hendak belajar mengaji dari hari Senin sampai dengan Jum'at. Bercanda ria di halaman mengisi waktu sebelum adzan berkumandang, kemudian salat berjamaah dengan ibu sebagai imamnya dan setelahnya belajar membaca Al-Qur'an bersama. Ibuku menjadi guru mengaji sudah cukup lama, para warga di Gang Mesjid ini lebih akrab memanggil beliau dengan sebutan Umi Rahma.

"Azalia, kenapa bengong di situ, Nak?"

Ibuku muncul di ambang pintu. Raut wajahnya selalu menyejukkan hatiku. Kupaksakan kedua sudut bibirku tertarik ke atas, mengukir sebuah lukisan yang disebut senyuman.

"Assalamu'alaikum, Bu." Kuraih tangan ibuku. Kucium punggung tangannya penuh bakti juga hormat. "Kenapa rumah sepi, mana anak-anak?" tanyaku, sembari menjelajahkan pandangan.

"Wa'alaikumsalam. Kamu juga dari mana saja, kenapa baru pulang? Biasanya jam lima sudah sampai di rumah. Anak-anak diliburkan karena malam ini malam Nisfu Sya'ban. Kamu lupa?"

"Astagfirullahala'zim, aku lupa." Refleks kutepuk keningku. Untung saja aku bergegas pulang dan tak membiarkan diri ini dikalahkan larutan kesedihan. Menguatkan ragaku untuk menopang tubuh lemasku dan sesegera mungkin beranjak pergi dari rumah Haikal. "Aku pulang terlambat karena jalanan macet Bu, maaf," ujarku beralasan.

"Ya sudah, cepat bersiap-siap. Sebentar lagi kita berangkat ke masjid untuk salat berjamaah dan berdo'a bersama. Masih ada waktu sekitar lima belas menit lagi, sebaiknya kamu bergegas," ucap ibuku sambil berjalan masuk kembali ke dalam rumah.

"Iya, Bu. kalau gitu aku mandi dulu."

Malam Nisfu Sya'ban adalah malam ke lima belas di Bulan Sya'ban atau dua minggu menjelang Ramadhan. Di mana buku catatan amaliah kita selama setahun ke belakang diserahkan para malaikat kepada Allah Subhanahu Wata'ala. Di malam Nisfu Sya'ban dianjurkan banyak-banyak berdo'a, berharap semoga buku catatan amal kita memiliki nilai yang baik.

Kubasuh ragaku secepat mungkin lantaran berpacu dengan waktu. Kupakai gamis dan bergo khimar warna ungu muda yang tergantung paling luar di lemariku. Kusambar mukena dan sajadah yang terlipat di meja samping tempat tidur dan bergegas keluar dari kamar.

"Bu, aku sudah siap. Ayo berangkat," panggilku dari ruang tamu. Terdengar sama-samar suara ibu sedang bercakap-cakap di teras dan tak lama ibu kembali masuk.

"Kak Azalia ...."

Seorang bocah cantik berkerudung pink menghambur dan memelukku. Dia adalah salah satu anak yang belajar mengaji di rumahku. Usianya lima tahun, namanya Nada. Dia ikut belajar baru sekitar tiga bulan.

"Eh, ada Nada cantik. Tapi hari ini ngajinya libur lho," ujarku.

Nada adalah cucu dari orang terpandang di daerah ini. Neneknya bernama Bu Husna, salah satu teman taklim ibuku. Nada dibawa serta Bu Husna lantaran rumah tangga putranya tercerai berai. Hak asuh jatuh pada Ayah Nada yang merupakan putra sulungnya. Karena ayahnya sibuk bekerja, maka dari itu Nada kini diasuh oleh sang nenek.

"Tadi Bu Hajjah Husna menghubungi Ibu buat nitip Nada sama kita karena beliau tidak bisa ikut berjamaah ke masjid. Sakit lambungnya sedang kambuh. Tapi Nada merengek ingin pergi, barusan pembantu di rumah Bu Husna yang nganter Nada ke sini."

"Iya. Nenek lagi sakit. Tapi Nada pengen ikut ke masjid, lebih asyik dan ramai daripada berdo'a di rumah," celotehnya lucu sambil menarik-narik baju gamisku. "Boleh kan, Nada ikut sama Kak Azalia?" tanyanya. Bola mata jernihnya menatapku menggemaskan.

"Boleh dong," jawabku, lalu kuusap lembut kepalanya.

"Yuk, kita berangkat sekarang. Nanti terlambat," ajak ibu padaku juga Nada.

Kami bergegas. Aku berjalan dengan Nada yang bergelayut memegang tanganku. Berhubung adzan mulai berkumandang, kugendong bocah lucu itu dan sedikit berlari menuju masjid, membuat Nada memekik senang dan malah bertepuk tangan gembira. Sedangkan ibuku mengekor di belakangku dengan langkah tak kalah cepat.

"Asyik digendong. Nanti lagi ya, Kak. Nada belum pernah digendong sambil lari kayak tadi." Anak itu berjingkrak senang saat kuturunkan di dalam masjid.

Tanpa kusadari bibirku tersenyum di tengah getirnya suasana hatiku. Tingkah polah Nada sedikit menghiburku. "Sekarang cepat pakai mukenanya, sudah mau iqamah," ucapku lembut dan Nada mengangguk patuh.

"Azalia, Ibu salat di saf depan bersama ibu-ibu yang lain. Tapi di depan sudah penuh hanya tinggal satu tempat, kamu di sini tolong jaga Nada ya," pinta ibuku. Aku kebagian saf paling belakang bersama Nada karena masjid sudah penuh.

"Iya, Bu. Tenang saja," sahutku sambil mengencangkan tali mukenaku.

Salat berjamaah kali ini terasa lebih khusyuk dan khidmat, kuhadapakan wajahku ke arah kiblat menunaikan kewajiban sebagai makhluk yang hidup pada Sang Pencipta. Kalbuku menangis, menjerit pilu saat keningku menyentuh sajadah. Tusukan perih itu kembali terasa, menghujam kalbuku mengucurkan darah dan menghasilkan luka yang menganga di sana.

Air mataku tak terbendung, luruh begitu saja dalam setiap lantunan lafadz yang kubaca dalam salatku. Kutumpahkan segala keluh kesahku dalam sujudku. Rendaan asa yang kusulam sepenuh hati, kini hanya tinggal puing-puing tak berarti. Semuanya hancur lebur, seumpama peribahasa nasi sudah menjadi bubur.

Selesai salat Magrib, dilanjutkan dengan salat sunah. Setelahnya para jama'ah berdzikir bersama memanjatkan do'a serta memohon ampunan, dilanjutkan dengan membaca Surah Yasin sebanyak tiga kali. Bacaan Surah Yasin yang pertama memohon agar diberi kesehatan dan umur panjang dalam keberkahan, yang kedua agar dijauhkan dari segala hal buruk dan musibah, yang ketiga agar dikuatkan istiqomah iman dan islam serta memohon diwafatkan dalam keadaan beriman.

Sejak tadi Nada memperhatikanku yang tak henti menyeka wajah basahku. Di suasana khidmat ini tangisku sulit sekali dikontrol cerminan hatiku yang terluka. Bocah itu terus melirik ke arahku dengan sorot mata penuh tanya. Tak lama, kulihat Nada mulai terkantuk-kantuk, lalu bocah lima tahun itu tertidur di atas hamparan sajadahnya.

Batal Akad (Tamat di Karyakarsa & KBM) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang