16. Superhero

573 94 14
                                    

Bab 16. Superhero

Alarm di ponselku berbunyi di pukul tiga dini hari. Kusingkirkan selimut yang membungkus tubuh meski enggan dan berat. Godaan syetan memanglah selalu menggiurkan, jika ingin menuruti hawa nafsu maka bergelung selimut saat ini tentulah lebih menyenangkan.

Aku berseru pada diriku untuk bangun dan berwudhu. Kuseret langkahku ke kamar mandi kecil yang terdapat di dalam kamarku. Meski kamarku tidak besar, tetapi sejak beranjak baligh, ibu membangunkan kamar mandi di kamarku. Ibu menjelaskan, ia melakukan semua itu agar auratku lebih terjaga.

Bukan kamar mandi mewah. Hanya terdapat kloset jongkok, keran dan ember besar. Kuambil sikat gigi lalu kububuhkan pasta gigi di atasnya, membersihkan mulutku dilanjutkan dengan berwudhu kemudian. Setiap kali hendak salat selalu kuusahakan menggosok gigiku, masih teringat akan tausiah yang disampaikan para guru saat aku ikut taklim bersama ibu. Menyarankan untuk selalu menjaga kebersihan mulut saat hendak menunaikan ibadah salat.

Para malaikat terganggu jika kita beribadah dengan aroma-aroma yang tidak sedap salah satunya bau mulut. Sampai-sampai terdapat riwayat yang menjelaskan bahwa Rasul pernah mengatakan untuk menjauhi masjid jika seseorang baru saja selesai memakan bawang putih. Saat ada sahabat bertanya kenapa, Rasul menjelaskan bahwa malaikat terganggu dengan bau-bau tajam yang tidak sedap.

Kuganti pakaianku dengan gamis bersih sebelum memakai mukena. Setiap kali hendak menghadap beribadah pada Sang Pemilik alam, hendaklah kita selalu menjaga kebersihan diri. Setelah hadas kecil disucikan dengan wudhu yang sempurna, maka baju, mukena dan tempatnya pun harus bersih dan suci.

Beratapkan langit gelap dan beralaskan hening kuhamparkan sajadah, diawali niat kemudian takbiratul ihram aku melaksanakan salat qiyamul lail. Menempelkan keningku bersujud di atas sajadah hingga diakhiri salam, dan do'a-do'a mengudara dari hati juga lisanku.

Perkataan Althar saat di dalam lift kini mulai berputar kembali di kepalaku.

Seharusnya kita lebih mencintai Dzat penciptanya bukan ciptaannya.

Seketika aku pun terhenyak merasa tertampar. Mungkinkah secara tak sengaja aku telah lalai selama ini? Terlalu mengagungkan cintaku pada Haikal dan lupa Bahwa Allah lah yang harus dicintai di urutan pertama. Sehingga aku berakhir dalam kubangan luka karena terlalu memuja makhluk bukan pemiliknya.

*****

Besok sudah memasuki waktu berpuasa Ramadhan. Malam ini selepas salat Magrib aku berangkat ke masjid bersama ibu untuk melaksanakan salat tarawih berjamaah. Semua warga berbondong-bondong hingga masjid penuh sesak. Bu Hajjah Husna bersama Nada dan Althar juga datang bersama.

Ramadhan bulan suci yang mulia, kedatangannya selalu disambut dengan penuh sukacita, mulai dari anak-anak hingga manula. Tarawih pertama memanglah selalu penuh sesak oleh jemaah, lain halnya jika sudah memasuki pertengahan bulan, masjid biasanya kehilangan jemaahnya, menyisakan ruang luas yang hanya diisi beberapa orang saja.

Nada bertanya banyak hal padaku, alih-alih dekat Bu Husna, Nada memilih menghamparkan sajadahnya di samping sajadahku. Ini adalah Ramadhan pertamanya di sini. Nada terus berceloteh begitu bersemangat menyongsong puasanya yang akan dimulai esok hari.

Dalam kurun waktu satu setengah jam salat tarawih 23 rakaat berjamaah diselesaikan. Ibuku dan Bu Husna juga Nada pulang terlebih dahulu, sedangkan aku berbincang sejenak dengan teman-teman sesusiaku. Kami pulang berjalan beriringan bersama, diselingi senda gurau obrolan seputar topik para gadis.

Rumah mereka berlokasi lebih dekat dengan masjid, sedangkan jarak ke rumahku lumayan jauh. Kami berpisah di tengan jalan dan aku melanjutkan perjalananku sendirian menuju rumah. Menjelang Ramadhan begini biasanya suasana di luar tetap ramai hingga sahur menjelang.

Derap langkah cepat di belakangku membuatku menoleh. Rupanya Linda yang berjalan menyusulku. Aku berharap dia lewat saja, tetapi harapanku meletus seperti nasib balon hijau yang terdapat dalam lirik lagu balonku karena Linda malah menyeimbangkan langkahnya denganku.

"Azalia, aku turut prihatin. Malang sekali nasibmu. Ditinggal menikah saat rencanamu naik pelaminan sudah dekat." Dia berujar dengan renyahnya. Mulutnya menyatakan simpati, akan tetapi raut wajah serta nada bicaranya bertolak belakang.

"Makasih," sahutku pelan sambil mengulas senyum.

"Seharusnya kamu itu introspeksi diri. Aku sudah mengira sih, pasti Haikal yang ganteng itu akan berpaling saat akhirnya menyadari kalau kamu yang terlalu sederhana ini nggak pantes bersanding dengannya. Padahal wajahmu cantik, Azalia. Tapi ya itu tadi, penampilanmu itu kampungan, pasti Haikal gengsi gandeng kamu."

Linda si wanita yang sudah menjanda dua kali itu menyerocos tanpa tedeng aling-aling. Melafalkan kata demi kata begitu lancar laksana mobil yang melaju kencang di jalan bebas hambatan. Aku hanya merespons dengan anggukkan tipis, sama sekali tidak tertarik bertarung dan meladeninya. Lagipula aku malas mencari keributan.

"Azalia, kamu bisu ya? Ngangguk-ngangguk aja. Ngomong kek! Aku itu cuma kasih saran, biasanya gadis yang batal nikah suka susah dapet jodoh lagi. Makanya kamu itu cobalah berdandan sedikit. Pakai make-up kayak aku. Kalau begini terus, siapa yang mau jadikan kamu gendengan? Malu-maluin pasangan kalau dibawa ke acara penting."

Kubiarkan saja dia mencemoohku, mungkin dengan begitu dia merasa senang. Anggap saja aib yang menimpaku menjadi jariyah untuk menyenangkan hati orang lain. Semoga menjadi ladang pahala.

Assalamua'laikum.

Suara bariton yang mengalun merdu di telingaku terdengar dari belakang punggungku. Linda ikut berbalik. Sikapnya yang semula angkuh dengan mulut tajamnya, langsung berubah kemayu dan tersipu-sipu kala mendapati pria tampan berbaju koko warna camel yang menyapa.

"Wa'alaikumussalam, Kak," jawabku.

"Eh, ada Mas Althar," sapa Linda sok akrab sambil membetulkan jilbabnya yang sedikit miring.

Althar hanya tersenyum tipis. "Maaf jika lancang. Saya tak sengaja mencuri dengar. Tadi kamu sedang menceramahi penampilan Azalia?" tanyanya pada Linda dengan sikap tenangnya seumpama permukaan air danau.

"Iya, Mas. Aku ngasih saran saja karena kasihan. Mas Althar pasti sudah dengar kan tentang pernikahannya yang batal? Semua orang di kampung ini sudah mengetahuinya. Aku sedang menasehati agar Azalia memperbaiki penampilannya supaya nantinya tidak ditinggal menikah lagi di masa depan, juga dia harus merawat diri supaya kulitnya lebih putih seperti saya, saya mengatakan semua ini demi kebaikannya. Mas Althar sebagai pria pasti punya sudut pandang yang sama denganku, iya kan?" Linda berkilah, sepertinya demi mencari perhatian Althar, dan entah kenapa aku merasa tak suka.

"Begitu rupanya. Tapi apakah kamu tahu? Yang kamu lakukan itu menghina, bukan menasehati," sahut Althar telak membuat Linda terperangah.

"Allah akan sangat sedih, ketika ada umatnya yang mencela ciptaanya seperti kamu mencela Azalia, tentang penampilan juga warna kulitnya. Karena kita tidak tahu siapa yang lebih mulia di mata Allah. Mungkin saja tukang parkir lusuh yang kulitnya hitam legam ternyata memiliki derajat yang tinggi di hadapan Allah."

Tak kusangka lagi-lagi Althar datang untuk menyelamatkanku di saat yang tepat.

"Ah. Ak-aku tidak bermaksud begitu." Linda tampak menelan ludahnya panik.

"Dan satu lagi, sebaiknya jangan panggil saya Mas. Kita tidak mengenal akrab satu sama lain, jadi saya merasa tidak nyaman mendengar panggilanmu. Azalia, ayo kita pulang, saya antar. Gadis baik-baik tidak boleh terlalu lama sendirian di luar malam-malam," ajaknya dan aku menurut saja seperti kerbau yang dicucuk hidungnya.

"Kami permisi, Mbak. Assalamua'laikum," ucap Althar sebelum melangkah pergi.

Kami berjalan beriringan dengan Althar memimpin langkah. Meninggalkan Linda yang bersungut-sungut di belakang. Tidak terima dipanggil dengan sebutan 'Mbak' oleh Althar.

Bersambung.

Batal Akad (Tamat di Karyakarsa & KBM) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang