Saat ini Gabriel dan teman teman nya sedang berkumpul di rumah Lino. Pagi pagi sekali, dia tadi di jemput oleh Lino. Katanya ada urusan penting.
Kalian tau, urusan penting apa yang di maksud Lino?.
Ikan cupang nya mati.
Iya, gila bukan?. Gabriel belum sempat sarapan, belum sempat bersih-bersih rumah. Semoga papa sama kakak nya gak pulang cepet. Kalo iya, awas aja Lino bakalan jadi pembantu dadakan di rumah nya.
"Ini gimana" Rengek Lino, yang melihat ikan cupang nya tergeletak mengenaskan di lantai.
Kelvin memutar bola matanya, malas. "Kubur lah"
"Ga di mandiin dulu? Ga di kain kafan in dulu?" Andre menyahut.
"Plis deh prend, ini cuma ikan cupang"
"Heh! Cuma kata lo? Ini tu ikan yang ada di saat gua sedih, maupun senang" Lino menyangkal perkataan Kelvin.
"Udah udah, goreng aja ikan nya" Saran Gabriel.
Tuk!
"Anj-" Hampir saja Gabriel mengumpat. Gabriel melirik ke arah Lino, orang yang tadi menjitak nya.
"Lino"
"Apa?!"
Gabriel mengerjap, "kasian itu kalo di lantai terus ikan nya. Kalo mati gimana? Kan ikan ga bisa nafas kalo di daratan"
Lino mengalihkan pandangan nya ke arah ikan tersebut. Lalu dia berjongkok dan mengambil ikan itu.
"Astagfirullah! Iya Gabriel lo bener huhu" Lino menceburkan ikan itu ke dalam tempat nya lagi.
"Tapi kok malah kek orang pingsan ya?"
"Bukan orang pingsan, tapi ikan pingsan" Koreksi Andre.
"Oh iya"
"Plis deh anjir, otak kalian pada kemana?. Kan ikannya udah matoy!!" Akhirnya Kelvin prustasi.
"Lah iya anjer! Ikan gue!" Lino berteriak histeris, sambil memeluk wadah ikannya.
"Gua mau nge giveaway in si Lino" Celetuk Andre.
"Gue dukung"
"Gue juga"
Lino tidak menghiraukan celetukan teman teman nya. Dia sibuk menangisi ikan cupang yang meninggal itu.
"Itu emang meninggal nya karena apa?"
Lino melepaskan pelukan nya, lalu dia membalikan tubuh nya menghadap teman temannya.
"Gua kasian sama dia"
"Kasian?"
Lino mengangguk, "iya, gua takut dia bosen di dalam air terus. Nah otomatis gua keluarin ya ikan nya, terus di simpen di atas meja. Gua mau duduk dong, pegel lah berdiri terus. Akhirnya gua ambil kursi di dalem. Eh pas balik lagi ikan nya udah kejang kejang, gua refleks teriak lah, eh dia malah tambah parah, mana sambil gemeteran. Terus tiba-tiba dia jatuh ke lantai. Gua takut dia patah tulang, akhir nya gua jemput kalian. Pas sampe sini lagi, dia udah meninggal"
"Sebenarnya penyebab kematian dia apa sih? Gua yang ngeluarin dia dari air atau karena dia jatoh ke lantai terus tulang nya patah, terus pendarahan dan akhirnya mati?"
Gabriel, Kelvin, dan Andre melongo mendengar perkataan Lino. Mereka mengerjap.
"Hah?"
"Ikan? Patah tulang? Meninggal?" Ucap Gabriel sambil melirik ke arah ikan, lantai, juga Lino.
"Iya"
"Udahlah, gua mau pulang!" Ucap Gabriel Kelvin sama Andre bersamaan. Kemudian mereka membalikkan badan nya dan mulai melangkah kan kaki.
"Ini nasib ikan gua gimana woi?!" Teriakan Lino tidak di respon oleh mereka.
"Gab, lo pulang gimana?" Tanya Kelvin.
"Jalan kaki lah"
"Ga mau di anterin?" Tawar Andre.
"Anterin pake apa, orang lo berdua juga ga bawa kendaraan"
Kelvin dan Andre kompak menepuk dahi nya. Lalu mereka cengengesan.
Gabriel hanya menggeleng kan kepala nya. "Yauda gua duluan ya"
"Oke"
*****
"Kita ketemu lagi"
Gabriel yang sedang berjalan kaki menuju rumah nya pun di kejutkan oleh orang yang datang tiba-tiba.
"Ah? Oh om hehe"
Gara--Laki laki yang menyapa Gabriel itu tersenyum. "Mau kemana?"
"Pulang om"
"Sini om anterin, dari pada jalan kan? Mending naik mobil" Tawar Gara.
Gabriel menimbang nimbang, apakah harus dia ikut? Nyusahin ga sih? Tapi kalo ga ikut nanti pas sampe rumah terus papa sama kakak nya udah pulang, nanti dia yang di marahin.
"Yaudah deh aku ikut"
Gara tersenyum, "naik"
Di sepanjang jalan, Gara terus menanyakan tentang Gabriel. Dan Gabriel pun dengan senang hati menjawab nya. Gak papa bukan? Kan dia om nya Gabriel.
"Sampai"
Gabriel mengalihkan pandangannya ke arah luar, "oh iya, makasi ya om. Emm om mau mampir? Sekalian ketemu Papa sama Kakak"
"Boleh"
Akhirnya mereka berdua berjalan menuju rumah. Ternyata papa dan kakak nya belum pulang.
"Om mau minum apa?"
"Apa saja"
Gabriel mengangguk, lalu dia mempersilahkan Gara untuk duduk.
Sekitar tiga menit, Gabriel datang lagi dengan membawa gelas berisi teh manis.
"Om, Gabriel tinggal ya? Ga papa kan? Soal nya Gabriel mau beres beres" Anak itu meringis.
Gara mengangguk, "iya gak papa santai aja. Om juga udah lama ga kesini, jadi sekalian mau liat liat. Boleh?"
"Boleh kok, yauda aku kebelakang ya"
KAMU SEDANG MEMBACA
Gabriel (On Going)
HumorSaya minta sebelum baca follow dulu. "Menurut gue, sekolah lebih nyaman dari pada rumah". - Gabriel Zevran William. ***** Menceritakan tentang hidup seorang laki-laki yang sedikit...? Di dalam hidupnya, dia beruntung karena di beri sahabat yang s...
