"Aha~ bau Seoul~"
Jimin mengendus endus angin, masker di turunkan sampai dagu agar udara pagi hari menyapa hidungnya.
Ayahnya melarang pulang kemarin, alhasil memesan tiket dini hari adalah jalan pintas agar Yoongi tidak membanting tubuh ringkihnya ke lantai.
Merogoh ponsel, Jimin berjalan keluar stasiun dan duduk di halte terdekat. Lelaki pucat itu menyebutkan kalau dia tak sedang berada di rumah sejak Taehyung kembali dari Amerika, dan Jimin menurut saja begitu Yoongi mentitahnya datang ke istana setelah tiba.
Acaranya diselenggarakan sore hari, dan Jimin masih ada waktu memilah baju di butik kesayangan bunda Yoongi setelah bebersih. Kakak tirinya juga turut memberi saran memotong rambutnya yang mulai panjang, dan Jimin menolak sepenuh hati.
Jimin berjengit begitu klakson mobil sedan mahal menyapanya, sosok berbadan besar melangkah keluar dari dalamnya, rambut hitam panjang tak tersisir tertiup angin kencang, dan Jimin sontak terpana.
Kalau di lihat dari cara berjalan, garis rahang, dan setelan serba hitam. Jimin bisa menebak siapakah pria gagah tersebut.
"Good morning, beautiful."
Mengerling malu, Jimin balas menyapa sembari tersenyum lebar. Baru dua hari tidak bertemu, duda ini sudah memikat hati semakin erat saja . Duh, Jimin tak kuat rasanya.
"Good morning too, excelente Viudo"
Jungkook berdiri dihadapan, sedikit merunduk dan meraih sebelah tangan Jimin untuk di kecup mesra. Tak pelak membuat Jimin merona sampai seluruh wajah.
"Aku tidak tahu kamu tinggal di Spanyol juga, ataukah ini bukan hal yang baru?"
Menggeleng kecil, Jimin menyahuti seraya berdiri mengikuti arahan sang pria, "My former neighbor is Korean-Spanyol people, always talk about sex when were meet, that's good enough."
"Cukup baik? Bagian mana yang baik, caranya menjelaskan berbagai posisi untuk bercinta?" tukas Jungkook sembari terkekeh, menghidupkan mesin mobil dan berjalan meninggalkan pelataran stasiun.
"Oh, tebakkan mu itu benar Jungkook-gun. Di titah kemari oleh kakaku?"
Jungkook meraih sebelah tangan Jimin dan mengecupnya sekali lagi. Entah itu kebiasaan terhadap teman kencan atau bagaimana, Jimin suka afeksinya.
"Tidak," katanya, menggenggam semakin erat dan mengecupnya berkali kali "sepupuku akan menikah, dan syarat yang di khususkan padaku adalah membawa pasangan atau paling tidak teman kencan. Jadi tidak apa kalau Jimin-shi saja yang ku bawa kesana?"
Megangguk senang, suaranya berubah antusias menyahut sebelum sadar ada sebuah kata ganjil yang terselip dari kalimat Jungkook.
"Aku malah senang bisa pergi bersama kamu, eh? Tunggu dulu..... Sepupu?"
•
•
Yoongi menyapanya dari kursi rias, puluhan pelayan menunduk sopan ikut menyapa Jimin yang berjalan masuk bersama Seokjin, kakak ipar Taehyung, dibelakangnya.
Tas diberikan pada dua pelayan yang sigap mendekat begitu ia masuk, membantunya melepas mantel lalu merebahkan diri di atas kasur megah di dalam ruangan.
Istana sibuk, Jungkook mengerut tidak rela sewaktu Seokjin memergoki keberadaannya di gerbang istana dan menggeretnya pergi bersama.
Seokjin menyeduh teh dan Yoongi menyenandungkan lagu pop yang populer akhir akhir ini.
"Mandi Jimin-ah, hyung tahu kamu belum mandi dari kemarin." sergah Yoongi, menyuruhnya yang enggan bangun dari acara berguling ria di atas kasur beralas sutra.
KAMU SEDANG MEMBACA
Viudo: Bad GentleMan
Short StoryDefinisi dari seorang duda tampan, mapan, adalah Mr. Jeon, tapi Park Jimin selaku mantan iparnya menolak keras pendeskripsian di atas. "Kamu tidak pernah memberiku uang untuk belanja, makanya aku tidak suka!" "...kamu bisa ambil dompetku Jimin-shi...
