G

752 79 2
                                        


"Apa kau bisa memberiku jadwal untuk seminggu kedepan?"

Sekretarisnya mengangguk, menyingkir dari balik kubikel dan berlalu menuju ruang fotokopi di sebrang kantornya. Jungkook berdiri memandangi jendela megah yang memaparkan pemandangan pagi hari Seoul yang sibuk.

"Anda ingin yang lain, Presedir?"

Menoleh, Jungkook menggeleng sembari meraih kertas jadwalnya. Berucap terima kasih dan berlalu pergi. Memulai akhir pekannya dengan kembali bekerja itu hal yang biasa, namun, sekarang ia juga harus membagi waktu untuk Park Jimin selaku pemilik hatinya yang butuh di beri perhatian walau sekedar sapaan melalui ponsel genggam.

Ia tidak bisa singgah di rumah Jimin untuk beberapa alasan, sifat rajin bekerjanya juga tak bisa mengalah barang sebentar untuk makan malam bersama kekasih barunya.

Pekerjaan menggunung walau kakaknya sudah berbaik hati mengambil alih beberapa perusahaan, ayahnya tetap tak suka melihat Jungkook yang sedari awal gemar menghasilkan banyak uang menjadi pemalas begini.

Dan Jungkook bisa membenci pekerjaannya kalau rasa sukanya pada Jimin semakin bertambah setiap detiknya.

Bersandar pada kursi kebesaran, Jungkook menargetkan setidaknya besok ia bisa memenuhi ajakkan Haneul untuk bertemu Jimin, dan berbincang sebentar bersama sebotol wine mahal kesukaannya di balkon rumahnya.

Melirik tumpukkan map di ujung meja, Jungkook melempar asal kertas jadwalnya dan mulai meraih satu persatu karton tebal berlabel nama perusahaannya untuk segera di selesaikan agar tergetnya hari ini terpenuhi.

"Gah, berkas sialan."

Sepatu boots membalut kaki jenjang menapaki pelataran gedung perusahaan otomotif terbesar di Korea. Pemilik surai pirang meniti petak bersama tas jinjing berisi kotak makan di kedua tangan.

Mendekati resepsionis, Jimin menyapa dengan senyum terulas ramah. Mengatakan maksud kedatangannya siang hari ini pada lelaki semampai yang balas menyapa dengan lesung pipi melekuk sempurna.

"Ada yang bisa saya bantu?"

Kacamata hitam di turunkan, rambut di sibak kebelakang lalu berkedip sejenak memulihkan pandangan. Jimin tidak tahu kalau semua orang yang berjalan melewatinya rela berhenti sejenak agar bisa mengagumi wajah rupawannya.

"Saya ingin bertemu Presedir Jeon Jungkook."

"Sudah membuat janji temu?"

Meringis kecil, Jimin menggeleng sedih. Mengulum bibirnya sejenak, pria itu meminta tolong agar di berikan ijin menelpon atasan mereka. Dan Soobin tak bisa menolak permintaan pria cantik di hadapannya.

Gagang telpon berpindah ke tangannya. Butuh tiga dering sebelum akhirnya Jimin dapat mendengar suara manis milik pacar gagahnya.

"Ada apa? Kalian bisa menelpon sekretarisku."

"Tapi aku ingin menelpon kamu."

"Huh? Soobin dengar, aku sedang sib— Jimin?"

"Aku lebih tua darimu, setidaknya gunakan sufiks walaupun aku kekasihmu."

Sambungan terputus secara tiba tiba. Jimin menatap telpon di genggaman, heran, sebelum memberikannya kembali pada Soobin, lelaki semampai yang sepertinya Jungkook kenal.

"Apa beliau menerima kunjungan tuan?"

"Ya. Saya harus lewat mana sekarang?" mengenakan kembali kacamata hitamnya, Jimin menguatkan pegangan pada kedua tas dan menedengarkan arahan dari pemuda tampan berlesung pipi.

Viudo: Bad GentleManCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang