Pemainan takdir dimulai.
Kim Seojin yang sangat jengkel hanya dengan mendengar nama idola para teman di kantornya--termasuk teman dekatnya sendiri pun juga sedang mengidolakannya.
Lee Jung-Hoon, sang idol yang sedang naik daun akhir-akhir ini. Namun...
Stay tune yaa. Soalnya mood lagi ketiup angin, jadi lagi terbang kesana kemari.
Oke no bct lagi.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Vibes Jung-Hoon pas mau main aer. Beuuhhh...
✌
Sudah pagi dan Seojin sudah bangun dari tak sadarkan diri akibat mabuk kemarin.
Sekarang ia sedang duduk di meja makan sambil memakan sup penghilang efek mabuk.
Jung-Hoon yang membuatnya.
Dan saat ini, Seojin makan dan menjadi tontonan Jung-Hoon yang berdiri di sampingnya.
Mata Jung-Hoon tak lepas barang sedetik pun dari Seojin yang memakan sup buatannya itu.
Karena Seojin memakannya dengan hasil paksaan Jung-Hoon.
Dan rasa ingin mencolok mata Jung-Hoon dengan garpu itu mulai ada.
"Aku akan menghabiskan ini. Kau tidak perlu melihatku sampai seperti itu."
Jung-Hoon tak perduli dengan perkataan Seojin dan masih saja memperhatikannya sambil melipat tangan di depan dada.
Akhirnya suapan terakhir masuk mulut Seojin.
"Selesai."
"Jung-Hoon, ada apa dengan matamu itu? Apa perlu aku ganti dengan mata ikanmu?"
"Kau berangkat dengan taxi. Aku ada urusan dengan produser Yang."
Jung-Hoon melenggang pergi dari dapur dan mengambil kunci mobil.
"Oy, aneh! Jung-Hoon! Uangku tinggal sedikit-"
Blam.
"Ck. Apa dari tadi dia menungguku menyelesaikan makan untuk menyuruhku syuting naik taxi? Tinggal bilang begitu saja susah sekali. Aku jadi salah tingkah, kan jika diperhatikan seperti itu."
---
"Seojin."
Seojin yang baru turun dari taxi langsung disambut oleh Jung-Eun.
Entah apa yang ia lakukan di pintu utama sepagi ini. Seojin hanya tersenyum padanya dan berjalan melewatinya.
"Tunggu,"
Lengan Seojin ditahan Jung-Eun.
"Boleh aku minta waktumu sebentar?"
"Tidak. Waktuku mahal semahal sepatu Gucci."
"Kalau begitu aku beli dengan rumah Bill Gates."
"Maaf, sudah banyak yang menawariku dengan yang lebih mahal. Tapi aku tolak."