RB14 - Love and Hate

503 77 15
                                        

Sekali lagi, ini bakal full of part of Yuna-Jungkook. Jin dikit aja, karena part ke depannya insyaallah bakal fokus ke Jin, hubungan mereka, dan secret. Tunggu ya!💜

Meniup poniku lalu merebahkan kepala ke atas meja, rasanya terlalu lama belajar sendiri membuatku stres. Sempat mengajak Taehyung dari kelas lain untuk kuajak diskusi, namun aku lupa faktanya bahwa dia tak pernah serius untuk belajar. Lebih memilih untuk ramah pada para gadisnya.

Lain lagi jika aku masih bersama Jungkook, dia dengan senang hati akan menemaniku. Lumayan pintar, karena selalu lontarkan pendapat berbeda ketika berdiskusi denganku. Aku selalu mengajaknya diskusi di perpustakaan walaupun akan sering berdebat karena berbeda pendapat. Aku rindu, namun aku tak mungkin mengajaknya lagi. Kendati dia menginginkan jalinan pertemanan di antara kami setelah putus, namun itu tidak akan berlaku bagiku. Aku takut akan goyah lagi meskipun aku terlihat menolak eksistensinya.

“Late.” Suara seseorang yang begitu familier merasuk ke dalam gendang telinga membuatku terkesiap dan lalu mendongakkan kepala. Senyuman kelinci tersemat di bibirnya membuat hatiku berdebar.

Tidak. Kenapa dia kemari?

Baru saja aku melamunkannya.

“Kenapa kau kemari?” tanyaku gusar. Aku tak mengindahkannya ketika ia menyerahkan satu kopi kap late kesukaanku di atas meja dan hal tersebut membuatku merasa mengingat masa itu kembali seperti dulu.

“Membantumu, mungkin? Kau terlihat stres.”

“Apa yang kau tahu?” tanyaku sinis. Aku mulai menutup buku dan memasukkan peralatan tulisku ke dalam pouch. Aku mendengar Jungkook terkekeh kecil, hingga aku menghentikan aktifitasku.

Kedua mataku mendelik ke arahnya yang masih memperlihatkan tawa merdunya. “Apa yang membuatmu ketawa?”

“Kau sangat cantik jika marah seperti ini.”

“Aku sudah lama bersamamu, Yuna. Jangan terlalu sengit begitu.” Aku tak bisa menebak pikirannya, ketika ia meraih tanganku dan menggenggamnya. Mungkin dia bisa melihat gelagatku yang mudah emosi. Aku masih mengingat hari itu, hari dimana yang membuatku hingga sekarang aku benci melihat dirinya.

“Aku tidak ingin mendengar omong kosong darimu. Jadi singkirkan tanganmu.”

Tangannya semakin mempererat genggamannya padaku, membuatku tambah gusar. Aku memakinya, namun dia tak peduli.

“Kita teman bukan? Aku tidak bohong jika ingin membantumu.”

Manik mataku memerah. Kata itu lagi. Teman. Apakah umpan dengan kata seperti itu akan selalu memancingku seperti ini untuk membuktikan bahwa aku benar-benar memang tidak mempedulikannya lagi? Bahwa aku sudah tidak mencintainya? Baiklah, akan aku ikuti keinginanmu, Jungkook.

“Teman tidak akan menggenggam tangan seseorang seerat ini.”

Jungkook lalu melepaskannya dengan pelan, lalu tersenyum santai. “Maaf. Kau terlihat ingin menghindar dariku.”

“Tentu saja, karena jika melihatmu aku akan membayangkan bajingan yang telah menghianatiku karena seorang jalang.”

“Bukankah kita sama-sama impas?” Mendadak sekali, aura gelap datang mengerubungi. Manik kelam Jungkook yang menatapku membuatku bergidik. Aku melancarkan atensiku ke semua penjuru, dan aku masih lega karena masih ada beberapa siswa yang terlihat sedang membaca buku.

Aku memandangnya kembali. Lekukan wajahnya yang selalu membuatku jatuh cinta ini pada akhirnya hanya menghianatiku hanya karena tergoda sentuhan jalang. Apa yang membuatnya berpikir bahwa kita sama-sama impas?

Rule BreakerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang