RB06 - Hide a Secret

1.9K 188 18
                                        

Ponsel berdering. Jungkook gumamkan umpatan ketika ujung selatannya masih bekerja di dalam sana, menumbuk bokong sintal Jooeun yang tengah menungging di depannya. Jungkook masih abaikan deringan si ponsel, mengalun terus membuat ia mengumpat kembali lantaran terganggu oleh suara tersebut. Jam istirahat kedua sebentar lagi akan usai, Jungkook ingin segera menyelesaikan permintaan Jooeun yang sekaligus menikmati liang basah yang sudah tak ketat ini.

Ia berhenti sejenak, untuk mengambil ponsel yang berada di meja tempat Jooeun berpegangan tangan. Tangannya meremas kedua gundukan yang menggantung, lalu berbisik seduktif. Jooeun melenguh. “Jangan bersuara, hm? Atau tak kuselesaikan ini dan membuatmu tersiksa.”

Jooeun mengangguk cepat. “Good girl.”

Pemuda Jeon kemudian mengangkat telepon itu, dengan senyum lebar. “Halo, Sweety. Akhirnya menelepon juga, hm?”

Terdengar dengkusan sebal di seberang. “Aku hanya bosan di rumah, Brengsek. Bawakan dua kotak pizza, ya nanti ke rumah.”

Jungkook terkekeh. Lantas, ia tergoda untuk menggerakkan pusat tubuhnya lagi, namun dengan gerakan lambat. Hingga Jooeun menahan desahannya dengan menggigit bibir bawahnya.

“Apapun untukmu, Sweety. Gara-gara kau tidak masuk aku juga bosan.” 

Mulutmu manis sekali, ya? Maaf, aku tak menerima omongan bullshit-mu.”

Jungkook terkekeh. Ia sudah terbiasa dengan mulut pedas kekasihnya itu. “Oh ya, seorang temanmu bernama Jooeun menitipkan salinan tugas untuk hari ini.”

Menitipkannya padamu?

“Eung, iya?” Jungkook menggigit bibir bawahnya, merasa pusat tubuhnya di remas oleh labia Jooeun yang mulai menyempit.

Jalang,” umpat Yuna yang membuat Jungkook terkekeh, dalam diam menyetujuinya. Kian mengetat, Jungkook bisa rasakan puncak gairahnya akan segera tiba, hingga untuk menjauhkan ponsel sebentar untuk melanjutkan aksi, Jungkook beralibi.

“Sebentar, ya?”

Jangan katakan kau bersama jalang itu, Brengsek?

“Tidak, panggilan alam. Ugh, aku ingin ke toilet.”

Alibi Jungkook berhasil membuat Yuna percaya. Hingga ia matikan ponselnya secara sepihak. Ia lempar ponselnya ke meja, tak pedulikan kendati ponselnya rusak. Tak lagi dengan gerakan lambat, Jungkook menjadi brutal untuk mengejar pelepasannya. Tak sia-siakan mangsa yang datang padanya, Jungkook buat Jooeun menjerit nikmat sembari mencengkeram kuat sisi meja. Air mata tak dapat ia cegah karena merasa hancur dengan kegilaan Jungkook menghantam pusat tubuhnya. Jooeun sangat menyukainya, ingin terus dan ingin lagi. Ingin Jungkook mencarinya lagi untuk berbagi kepuasan bersama. Hingga pelepasannya tiba, Jungkook balikkan badan Jooeun, merenggut surai panjangnya untuk ia semburkan cairan itu ke wajah hingga menetes ke leher dan dada si jelita.

Jungkook dan Jooeun sama-sama terengah, kemudian Jungkook melepaskan renggutannya dan kembali memakai celananya seperti semula.

Ia lekas berjalan menuju pintu gudang kalau saja Jooeun tak menahan kakinya dengan menatapnya dengan tatapan memohon.

“Jungkook-ssi, apa aku bisa memuaskanmu lagi?”

Jungkook menukikkan alis. Kemudian menundukkan badannya, mencengkeram dagu Jooeun dengan bengis. “Apa kau tahu siapa dirimu di mataku? Kalau belum tahu maka aku beritahu. Aku tak pernah bermain dengan jalang lebih dari satu kali.”

***

Aku lupa bahwasannya aku bukan lagi tinggal di rumah bersama ayah, melainkan Seokjin. Lantas, ketika malam Jungkook bawakan dua kotak pizza pesanan ku tadi sore, Seokjin lemparkan tatapan misterius lagi sebelum masuk ke dalam ruang kerjanya. Tak lagi berdebat seperti malam itu. Jujur, aku merinding. Apakah malam ini akan bernasib sama seperti semalam?

Rule BreakerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang