Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Itu anak basket pada ngumpul di depan TU emang mau ke mana?"
Wina yang baru saja masuk kelas setelah mengembalikan latihan soal UN ke ruang guru, langsung bertanya kepada Marcel yang berada di sebelahku. Awalnya, aku, Marcel, dan Rina berkumpul untuk berdiskusi tentang berbagai macam jurusan di universitas. Namun, entah bagaimana, kami berakhir memperbincangkan pensi sekolah lain.
"Ohh, mau tanding di Semarang," jawab Marcel dengan enteng, lagu kembali fokus untuk menagih cerita dari Rina. "Trus trus?"
Rina kembali bercerita, dan didengarkan oleh Marcel. Aku tidak begitu fokus mendengarnya, karena yang di pikiranku saat ini adalah tim basket sekolah yang akan bertanding. Bukankah artinya, nanti ada foto-foto yang diambil saat pertandingan? Apalagi jika pulang membawa kemenangan, pasti foto tim mereka akan ada di mana-mana.
Tiba-tiba Wina menyenggol lenganku dan tersenyum dengan penuh arti. "Tuh Na, kasi snack kek susu kek atau apalah buat kasih semangat. Gue jadi pengantarnya aja gapapa kok ikhlas,"
Dan kini semua perhatian di meja yang kami duduki, terarah kepadaku.
"Ga lah anjir gila lo," balasku.
"Lho, kenapa engga? Anonim lahh," kata Rina.
"Gak mauu anjir, buat apa?"
"Ya biar tau kalo ada yang suka dari 12A6," ujar Wina sambil menaikturunkan alisnya.
"Udah gua bilang, gua ga suka, Winaa. Ngefans doang gua, kayak gue ngefans iKON. Dia kenal gua aja udah cukup," kataku, hampir muak dengan topik ini.
"Emang kenal?" kali ini giliran Marcel yang ikut mengusiliku.
"Eh enggaa, maksudnya dia tau gue seorang makhluk hidup aja, udah cukup," ujarku, segera membenarkan ucapan tadi.
"Ah ga seruu," Wina mendengus, kemudian mendudukan diri ke samping Rina.
"Ga seru pala lo. Harga diri gua jirrr,"
"Santai aja. Coba kita lihat Kevin dulu," ujar Marcel, mengungkit masa lalu saat kelas 11.
Ketika Kevin yang berusaha keras mengejar sang pujaan hati yang kini menjadi pacar resminya, meski sudah ditolak berkali-kali. Inilah yang disebut, usaha tidak akan mengkhianati hasil.
"Ya itu mah emang tujuan dia nembak cewenya. Kalo gue kan cuma ngefans. Kayak lo sama Daniel Wenas. Plis lah, normalizing orang ngefans sama orang lain yang satu sekolahan," kataku, menyebut idola Marcel.
"Utututuu iya iyaa," Wina mengiyakan ucapanku, meski aku tahu ia tidak percaya padaku.
Biarlah, aku sudah malas meladeni mereka. Nantinya juga mereka akan menyadari dengan sendirinya bahwa ucapanku ini benar.
🏀 🏀 🏀 🏀
Hari semakin siang, begitu juga denganku yang semakin lelah memahami materi UN. Rasanya, aku ingin belajar SBM diam-diam di tengah pelajaran bahasa Inggris ini. Namun, aku tidak mau berakhir seperti Wina yang kena omel guru karena mengerjakan soal-soal SBM ketika pelajaran beliau.
Aku menoleh ke samping, mendapati Marcel yang diam-diam bermain game. Mahir juga dia akting seakan mendengarkan, padahal jemarinya asik bermain game. Tulisan defeat terlihat di ponsel Marcel, membuatku terkekeh pelan.
"Noob," kataku iseng.
"Lah elu, main Minecraft cuma buat bikin rumah-rumahan doang," balas Marcel yang berhasil membuatku mencibir.
"Anjjr, gua kangen main baskett," keluh Marcel tiba-tiba.
"Ya tinggal main aja lah?" balasku kebingungan. Padahal terkadang Marcel bermain basket ketika pulang sekolah.
"Gua kangen waktu ekskulnya, sparing, trus latihan ketat," balas Marcel, sambil mencatat kata-kata baru dalam bahasa Inggris yang ada di papan tulis.
"Ohh, iya sih itu ngangenin banget. Tapi sabar, ujian dulu biar bisa masuk tim basket univ,"
"Kangen main di GOR juga, walaupun gua ga dapet spotlight tapi gapapa," lanjut Marcel.
Ah iya, pertandingan kemarin, semua atensi mengarah pada Hansel, si rising star. Tapi tidak juga. Buktinya para suporter menyorakan nama Marcel, satu-satunya pemain di tahun terakhir hingga namanya terdengar bahkan sampai luar GOR.
"Nama lo kan juga disorakin sama suporter, gimana sih. Lo juga pernah masuk story karna bisa three point," kataku.
"Eh iya si bener. Tapi Hansel itu emang bener bisa dan harus disebut rising star,"
"Kenapa?"
"Dia baru tertarik basket pas kelas 8, tapi udah jadi hebat banget di kelas 10. Sedangkan gua yang dari SD, gini-gini aja bakatnya,"
"Hah? Cuma 2 tahun lebih tapi bisa jadi rookie of the year?"
"Makanya ituu. Orang yang emang udah berbakat mah beda,"
Aku mengangguk paham. Walaupun sama-sama berlatih, orang yang berlatih lebih lama akan kalah dengan orang yang berbakat.
Melihat hal tersebut, bagaimana seseorang tidak tertarik dengan Hansel, apalagi dengan fakta fakta hebatnya. Dan aku tidak berpikiran untuk berhenti mengidolakannya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hii! Long time no see!
Siapa yang udah liat Tmap episode kemaren?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Akhirnya ya, berawal dari ff, trus dapet konten basket😭😭