Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Tanding lagi kapan?" tanyaku pada Marcel ketika pelajaran sedang berlangsung. Aku bosan dengan segala rumus fisika yang diajarkan, karena itu aku menoleh ke meja belakang untuk mengobrol.
"Besok," jawab Marcel singkat, lalu kembali fokus ke ponselnya yang menampilkan game.
"Hehhh sumpahh?" tentu saja aku kaget. Aku belum menyiapkan uang, berhubung harga tiketnya 20 ribu yang menurutku mahal. Tapi tidak apa, demi menonton Hansel, kenapa tidak?
"Jam berapa?"
"Empat kayaknya, tapi mesti ngaret,"
"Oke," aku langsung berbalik badan menghadap ke depan.
Mataku fokus menatap papan tulis tapi sebenarnya aku berpikir keras memikirkan hal lain yang tentu saja bukan masalah fisika. Besok adalah hari Sabtu, hari di mana ayahku tidak selalu ada di rumah. Terlebih, aku yang tidak berani mengendarai motor disendiri jalan raya. Ojek online pun, pasti mahal karena rumahku yang jauh.
"Rin, Rin," panggilku dengan berbisik-bisik.
Rina menoleh lalu mengangkat dagunya, "apaan?"
"Besok nonton basket?" tanyaku dengan menggerakan bibir tanpa menimbulkan suara.
"Engga, gua mau pergi," jawab Rina dengan suara, lalu ia menutup mulutnya panik begitu sadar suaranya agak keras.
Aku terkekeh, lalu kembali berpikir lagi tentang besok.
Besok, ayahku belum tentu ada di rumah. Bisa saja aku berangkat bersama Rina yang rumahnya dekat denganku, tapi sayangnya besok Rina tidak ikut menonton. Kalau tidak menonton, rasanya sayang sekali. Sudah cukup aku menyesal karena tanggal 19 Oktober, aku tidak menonton karena ada acara keluarga. Ditambah, ternyata Hansel yang ketika bermain sangatlah keren, bagaimana tidak sangat menyesal?
Ngomong-ngomong tentang pertandingan kemarin, sekolahku menang 31:08 dan masuk 8 besar. Biasanya setelah pertandingan, official instagram penyelenggara lomba basket dan dance itu alias danceandbasketleague selalu memposting hasil pertandingan dan top player dalam satu pertandingan. Dan kemarin, Hansel berhasil menjadi top player dengan mencetak poin 12 dan steals 6.
Sudah pasti Hansel akan menjadi topplayer. Bola sedang digiring tim lawan, dalam sekejap tiba-tiba berpindah ke tangan Hansel . Mudah sekali baginya mencetak poin. Bahkan kemarin, saat ia memiliki kesempatan untuk men-shoot bola, Hansel malah memberikan kepada temannya yang lain agar memiliki kesempatan untuk mencetak poin juga.
ASDFGHJKLKSK HOW CAN YOU NOT FALL IN LOVE WITH THIS BOY??
Tapi di samping itu, Marcel juga tak kalah kerennya, ia lebih jago lemparan di luar setengah lingkaran alias three points dari pada underring. Padahal, tingginya tidak seberapa dibanding anggota lain, tetapi paling jago three points.
Diam-diam aku mengeluarkan ponsel yang ada di laci melihat jadwal pertandingan. Sekolahku akan bertanding lawan SMA 101 jam 4 sore.
Misalkan mereka menang lawan SMA 101, mereka akan masuk 8 besar dan melawan tim basket SMA Pancasila, sekolah yang bermain dengan kasar kemarin. Aku jadi khawatir, bagaimana jika terjadi apa-apa pada Hansel? Juga Marcel?
Ditambah, tim basket SMA Pancasila mayoritas memiliki badan yang besar dan tinggi. Bagaimana jika Hansel kena sikutan dari tim lawan? Bagaimana jika dijegal? Didorong? Ah sial, kini hanya ada pikiran negatif di otakku.
🏀 🏀 🏀 🏀
Malamnya, Wina menghubungiku untuk memastikan besok. Berhubung di sekolah tadi, Wina selalu bertanya dan kujawab, "gak tau."